Opini

Islam Itu Bersih

DALAM perjalanan menuju ke Bandara Internasional Kualanamu di Medan beberapa waktu lalu, saya singgah di satu masjid

Karenanya tidak salah kalau kemudian ada stereotipe dari masyarakat luar, terutama dari Negara-negara barat yang mayoritas penduduknya non-muslim menganggap Negara-negara yang penduduknya banyak beragama Islam kondisi kebersihannya memprihatinkan. Mereka menganggap kalau Negara-negara Islam itu kotor, kotanya semraut, sampah berserakan dimana-mana. Bahkan, tempat ibadahnya pun juga masih jauh dari standar kebersihan yang diharapkan.

Kondisi kebersihan di Negara-negara maju sudah jauh lebih membaik dan tertata. Mereka sudah mangatur tidak hanya seputar buang sampah, meludah dan membuang bekas kunyahan permen karet juga mendapat hukuman seperti apa yang diatur di Singapura, misalnya. Coba anda perhatikan kebersihan di toilet-toilet bandara atau mall-mall besar di pusat kota. Mulai dari beragam model untuk membersihkan tangan di kamar kecil dan besar sampai dengan ketersediaan tisu sudah diatur dengan sangat baik.

 Citra kebersihan
Berbicara tentang citra kebersihan umat Muslim di Indonesia, saya memiliki pengalaman miris. Baru-baru ini Saya mengikuti sebuah pelatihan untuk membekali beberapa keterampilan sebelum Saya melanjutkan pendidikan S-2. Lembaga asing yang bertanggung jawab melakukan pelatihan tersebut tidak menyediakan tempat untuk shalat. Kemudian saya bersama beberapa kawan berinisiatif untuk ‘berdiplomasi’ dengan pihak manajemen lembaga tersebut supaya mereka mempertimbangkan kebutuhan tempat shalat peserta didik mereka di mana mayoritasnya adalah Islam.

Dalam proses komunikasi, mereka tetap tidak bisa memenuhi permintaan tersebut dalam waktu dekat. Di samping keterbatasan tempat, pihak pimpinan lembaga tersebut juga mengkawatirkan masalah kebersihan. Mereka takut kalau lantai basah dan ruang-ruang kelas yang berada di dekat tempat shalat juga akan terlihat kotor. Mereka khawatir terhadap komitmen peserta didik mereka yang akan lengah dengan kebersihan ruangan kelas. Pada intinya, mereka ingin mengatakan “kalau pun kami menyediakan tempat untuk kalian shalat, namun kalian tidak bisa menjaga kebersihan musalla tersebut. Karena kalian tidak mampu menjamin kebersihannya, maka kami juga tidak bisa memikirkan lebih serius tentang permintaan kalian.”

Alasan untuk mejaga kebersihan tempat shalat dan memastikan lantai kelas tetap bersih dan kering memang terkesan persolaan sepele dan mungkin saja anda menyimpulkan pihak manejemen lembaga tersebut terlalu mendramatisir dan mengada-ngada. Namun di luar itu, menurut saya, alasan yang mereka utarakan tersebut benar adanya. Melihat apa yang kita tampilkan di rumah-rumah ibadah, di sekolah-sekolah, di rumah sakit-rumah sakit, di kantor-kantor, dan berbagai tempat lainnya, jangan salahkan mereka yang non-muslim kalau kemudian menyimpulkan bahwa “Islam itu Kotor”. Jadi, mari kita ciptakan dan terus kita jaga bahwa “Islam itu Bersih”. Semoga!

* Muhammad Adam, Staf di Pusat Bahasa STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe dan Penerima Beasiswa Pemerintah Australia 2014. Email: adamyca@gmail.com

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved