Serambi MIHRAB
Diorama Haji
TAHUN 2014 ini, Aceh memberangkatkan lebih kurang 3.128 orang JCH, yang terbagi dalam 8 kelompok terbang (kloter)
Oleh Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc., Dosen Fakultas Pertanian Unsyiah: Pengasuh Mata Kuliah Teknik Pascapanen dan Mata Kuliah Agama; Jamaah Calon Haji (JCH) 2014.
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulka la syarika laka...
TAHUN 2014 ini, Aceh memberangkatkan lebih kurang 3.128 orang JCH, yang terbagi dalam 8 kelompok terbang (kloter). Keberangkatan JCH Aceh tahun ini berada pada Gelombang ke-2, yang diberangkatkan ke tanah suci pada 19 September mendatang. Begitulah setiap tahunnya terjadi secara rutin, sehingga kalau kita statistikkan, maka jumlah Haji dan Hajjah dari Aceh grafiknya cenderung meningkat. Lalu tentu timbul pertanyaan di benak kita; Apakah hikmah berhajinya orang Aceh terhadap tata kelola pemerintahan dan pembangunan Aceh? Apa makna haji dan profesionalisme kerja?
Sangat banyak hikmah yang dapat kita selami dari ritual ibadah haji. Dimulai dengan niat (ihram), dengan memakai pakaian ihram yang dianjurkan berwarna putih, terkandung makna tersirat tentang keharusan untuk melepaskan semua kemegahan pakaian yang selama ini kita pakai, melepaskan semua kesombongan, keangkuhan, ria, ujub dan takabbur atas semua pakaian mahal yang kita miliki. Sesungguhnya kita akan kembali kehadapan Allah Swt hanya dibungkus selembar kain kafan yang tidak berjahit sebagaimana pakaian ihram. Ketika memulai ihram haji, banyak pantangan yang harus diperhatikan, misalnya tidak boleh menumpahkan darah dan tidak boleh mengumpat, menggunjing, menfitnah dan lain sebagainya.
Selanjutnya dengan melakukan tawaf, disiratkan bahwa kita harus memahami takdir Allah Swt, dimana kehidupan ini terus berputar. Adakalanya kita sehat, lalu sakit, kemudian sehat lagi. Adakalanya rezeki kita melimpah, lalu berkurang, kemudian berlimpah lagi. Adakalanya perasaan kita senang dan gembira, adakalanya kita sedih dan seterusnya. Adapun dengan pelaksanaan sa’i, kita diajarkan untuk selalu berusaha dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, berusaha mencari ilmu, berusaha mencari rezeki, berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan dan lain sebagainya.
Usaha tersebut harus dibarengi dengan ikhtiar, sabar, ikhlas dan harus yakin bahwa dalam usaha kita pasti akan datang pertolongan Allah Swt. Dalam berwukuf, terdapat hikmah introspeksi dan refleksi kehidupan kita masing-masing. Dengan berwukuf kita juga diajarkan untuk saling berinteraksi antarsesama, saling bekerja sama, saling mengenal satu sama lainnya, saling berbagi dalam kemaslahatan hidup masyarakat dan lain sebagainya. Haji ditutup dengan tahallul yaitu prosesi menghalalkan kembali kebutuhan-kebutuhan insaniyah yang menjadi pantangan sementara seperti memotong kuku, memakai pakaian biasa, dan seterusnya. Sedangkan pantangan untuk berbuat maksiat harus ditunaikan sepanjang hayatnya.
Hikmah haji dalam konteks tata kelola pemerintahan dan pembangunan Aceh yang berkelanjutan bisa dimulai dari peningkatan tata kelola pemerintahan yang lebih profesional dan visioner dengan mengedepankan prinsip keikhlasan bekerja mengemban amanah untuk kemaslahatan seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Pelayanan publik semakin transparan, cepat, tepat dan benar, pelayanan dilakukan dengan ramah, senyuman, santun dan bersahabat. Seluruh jajaran pemerintahan menerapkan sistem kerja karena tanggung jawab dan disiplin, datang tepat waktu, pulang sesuai jadwal, tidak melakukan korupsi, kolusi apalagi nepotisme.
Dalam konteks pembangunan, hikmah haji yang dapat diambil adalah dengan melakukan pembangunan yang berdampak langsung pada akselerasi ekonomi produktif rakyat terutama di perdesaan seperti pembangunan saluran irigasi, peningkatan akses jalan desa, peningkatan sarana prasarana pelabuhan nelayan, peningkatan sarana dan prasarana pertanian, menciptakan lapangan kerja, pengurangan angka kemiskinan secara intensif, dan pemberdayaan masyarakat kurang mampu/fakir/miskin jangan sampai adalagi masyarakat Aceh yang hidup dengan meminta-minta di pinggir jalan, karena sudah selayaknya seluruh masyarakat Aceh hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan di bumi gemah ripah loh jinawi ini.
Haji profesional
Setiap orang dengan profesi masing-masing dapat mengembangkan profesionalisme ideal terutama setelah berhaji. Hajinya para pejabat seharusnya mendukung realisasi kepemimpinan yang adil dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Hajinya para birokrat seharusnya berdampak pada peningkatan tata kelola pemerintahan, dengan mewujudkan pelayanan terbaik bagi masyarakat, semua urusan diselenggarakan dengan mudah dan cepat, disertai dengan pelayanan yang ramah dan bertanggung jawab. Manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme dan ogah-ogahan dalam melaksanakan tugas menjadi masa lalu yang tidak diulangi lagi. Pasca pelaksanaan ibadah haji, kehidupan diisi dengan kegiatan-kegiatan positif yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Hajinya akademisi diharapkan berdampak pada mutu pembelajaran. Jika dulu sering menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk mengumpulkan materi, lebih mementingkan proyek atau pekerjaan sampingan sehingga terabainya fungsi utama, maka setelah menunaikan ibadah haji, segala kegiatan diarahkan untuk peningkatan mutu pembelajaran. Usaha yang dapat dilakukan misalnya dengan peningkatan kapasitas diri, aktif menunaikan tridharma perguruan tinggi, serta dapat membawa anak didiknya pada peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sungguh kecerdasan dan keilmuan yang tidak dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan tidak akan menghasilkan pembangunan yang dicita-citakan.
Hajinya kontraktor dan konsultan hendaknya dapat tercermin dari peningkatan realisasi proyek pembangunan yang berkualitas. Jika dulu pernah melakukan kecurangan dengan mengurangi mutu dan kualitas bangunan atau konstruksi, mengurangi volume atau dimensi pekerjaan, melakukan suap untuk mendapatkan pekerjaan, dan seterusnya, maka setelah menunaikan ibadah haji hal tersebut tidak lagi dilakukan. Pembangunan fisik ini dilakukan dengan sangat hati-hati, setiap rupiah yang keluar dirasakan berat untuk dipertanggungjawabkan di sisi Allah, sehingga hasil pembangunan yang dibuat berkualitas dan tidak rusak dalam waktu singkat. Niat untuk mendapatkan keuntungan pribadi sebesar-besarnya diturunkan pada derajat nol karena yakin bahwa rezeki yang halal dari Allah akan lebih berkah bagi diri dan keluarganya.
Hajinya pedagang melahirkan kenyamanan dalam berjual beli. Pembeli tidak perlu khawatir dengan berkurangnya takaran, beredarnya barang-barang yang sudah kadaluarsa atau tidak halal, serta pengambilan keuntungan yang berlipat ganda. Konsep pembeli adalah raja mulai direalisasikan dengan menjaga hak-hak konsumen. Hajinya para penegak hukum, polisi, jaksa, hakim akan selalu berlaku adil dan bijaksana dalam memutuskan suatu perkara atau kasus tanpa memandang strata, jabatan dan pangkat. Keadilan dan kebenaran menjadi barang mahal sehingga tidak lagi dapat dibeli dengan uang. Dan seterusnya.
Intinya, untuk semua profesi, pelaksanaan haji semestinya membawa bekas bagi kemaslahatan umat. Semua perbuatan yang tidak baik ditinggalkan, sebaliknya perbuatan-perbuatan yang baik disuburkan sehingga tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Apabila momentum haji dimanfaatkan secara maksimal, memenuhi panggilan dengan penuh ketaatan karena Allah Swt semata --sebagaimana lafadh dan makna kalimat talbiyah yang kita kutip di awal tulisan singkat ini-- maka sungguh indah kehidupan kita! (email: rkhathir79@gmail.com)