Program IMT-GT belum Maksimal

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian RI, Chairul Tanjung mengatakan, program IMT-GT yang sudah berlangsung lebih 20 tahun

GUBERNUR Aceh, Zaini Abdullah (tengah) berbincang dengan dengan sejumlah gubernur dari beberapa negara dalam pembahasan kerjasama perdagangan Indonesia-Malaysia-Thailand, Growt-Triangle (IMT-GT) di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Sabtu (13/9). SERAMBI/BEDU SAINI 

BANDA ACEH - Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian RI, Chairul Tanjung mengatakan, program IMT-GT yang sudah berlangsung lebih 20 tahun belum maksimal hasilnya. Chairul malah mengkhawatirkan masyarakat dan pelaku usaha tidak akan percaya lagi pada program IMT-GT jika rencana kerja tidak disusun secara matang.

Seperti diketahui, sebanyak 50 pengusaha dari tiga negara di lingkup Asean, yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia, hadir dalam pertemuan Joint Business Council (JBC) Pertumbuhan Segitiga (Growth Triangle) Indonesia, Malaysia, dan Thailand (IMT-GT) yang berlangsung di Banda Aceh, 11-14 September 2014.

Menko Perekonomian Chairul Tanjung, Sabtu (13/9) melakukan pertemuan tertutup dengan Gubernur Aceh dan sejumlah peserta pertemuan IMT-GT. Seusai pertemuan tertutup itu, Chairul Tanjung memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan, termasuk Serambi.

Menurut Chairul Tanjung, diperlukan rencana kerja yang maksimal agar program IMT-GT berjalan pada masa mendatang. Program yang paling utama adalah membuka konektivitas antar-tiga negara yang terlibat dalam program IMT-GT. Konektivitas sangat diperlukan, baik bidang parawisata (tourism) maupun dunia investasi.

Untuk itu, kata Chairul, Pemerintah Indonesia akan membuka penerbangan langsung antara Sabang ke Phuket, Thiland dan ke sejumlah bandara lain di Thailand Selatan maupun Malaysia, selain Kuala Lumpur.

Program terbang langsung ini, katanya akan berjalan bila didukung oleh pemerintah daerah terutama dukungan subsidi pemerintah untuk perusahaan penerbangan.

Ia mencontohkan, penerbangan langsung antara Phuket dengan Sabang, diperlukan garansi dari pemerintah daerah agar penerbangan pulang-pergi antara dua daerah tujuan wisata itu, pesawatnya tidak kosong.

Selain itu, lanjut Menko Perekonomian, diperlukan jalur yang fleksibel untuk perpindahan barang dari satu kota dengan kota tujuan pada tiga negara tersebut. Bila pesawat terbang dari Malaysia ke Indonesia, maka pemerintah Malaysia yang memberikan subsidi bagi perusahaan penerbangan, begitu pun  sebaliknya. “Setiap tahunnya, ada 12.000 turis yang datang ke Phuket. Sabang harus mampu menarik 1.000 turis yang berkunjung ke sana,” ujar Chairul Tanjung.

Di samping itu, lanjut Chairul Tanjung, peran dunia usaha dalam program IMT-GT harus lebih besar. Porsi yang lebih besar diberikan terutama bagi pengusaha-pengusaha dari Sumatera, Thailand, dan Malaysia.

Selama ini, katanya, antara keinginan para palaku dunia usaha dengan keinginan program IMT-GT sering berseberangan. “Selama ini, pengusaha belum dilibatkan dalam IMT-GT, sehingga program-program IMT-GT tidak berjalan sebagaimana mestinya,” tandas Chairul Tanjung.(min)

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Tags
IMT-GT
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved