Puisi

Risalah Nenek Jompo

Biji buncah kemarahan jatuh tadi malam, Di jalanan kota

Karya Ferry Gelluny

Biji buncah kemarahan jatuh tadi malam,
Di jalanan kota.
Ada satu bulan purnama dan beberapa pohon cemara.
Kalau saja babi itu tidak melintas,
Maka berbahagialah dunia.
Tapi ya, dia melintas.
Aku dikencingi, setelah dilindasnya.
Tepat di jidatku.

Kalau saja aku sebatang belati, sudah kubelah perutnya.
Tapi malam itu seayun tanganpun tidak mampu kuberi.

Dia sempat berkata;
“Ikhlaskanlah, dan tolong hargai aku sebagai seekor babi”
Kemudian ia pergi sambil mengibas-ngibaskan ekor keritingnya dengan

Perang dan Gading

Fajar pagi di padang gading
Gentar riuh sorak senapan bersambutan
Tergopoh gopoh berpencar
Gading gading indah berhias merah,
Satu tumbang dua tumbang, berapa lagi dibuku daftar pesanan?
Sayat saja, kita butuh gading bukan daging..
Biarkan busuk, paling di mangsa macan, atau dikubur semut.
Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa, harta dibalas harta
Ada serangan tentara gajah dikampung sebelah,
Bukan urusan kita, kita hidup di kota.
Ini hanya hewan, tak perlu takut.

Maret 2011

* Ferry Gelluny, bergiat di Akar Imaji dan Kotak Hitam Banda Aceh.

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved