Aceh Selatan Bakal Olah Emas tanpa Merkuri
Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan akibat penggunaan merkuri (air raksa)
TAPAKTUAN - Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan akibat penggunaan merkuri (air raksa) dalam pengolahan emas tradisional, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan menggandeng pakar geologi dan perminyakan dari luar negeri yang mengajarkan bahwa pengolahan emas bisa dilakukan tanpa merkuri. Bahan berbahaya itu justru cukup digantikan dengan boraks.
Pakar tersebut masing-masing Mr Peter W U Apple, Senior Research Scientiest Departement of Petrology and Ore Geology, Geological Survey of Denmark and Greenland serta Mr Leoncio Na-Oy, selaku Small Scale Gold Miner dari Filipina.
Kedua pakar itu diundang Pemkab Aceh Selatan melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Fajar Selatan. Mr Peter W U Apple sudah mempresentasikan bahkan memperagakan bagaimana boraks yang biasanya digunakan sebagai bahan pengawet, bisa menggantikan fungsi merkuri sebagai pengurai butiran emas dari batuan.
“Hasil presentasi Mr Peter WU Apple ini menjadi tanggung jawab kita untuk disosialisasikan supaya masyarakat penambang emas tradisional di Aceh Selatan benar-benar terbebas dari ancaman pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan akibat penggunaan merkuri. Langkah yang dilakukan Pemkab Aceh Selatan melalui BUMD Fajar Selatan ini merupakan upaya kita dalam melindungi masyarakat dari ancaman merkuri,” kata Bupati HT Sama Indra SH dalam pertemuan dengan Senior Research Scientiest Departement of Petrology and Ore Geology Mr Peter W U Apple di aula kantor bupati setempat, Kamis (13/11).
Pertemuan itu turut dihadiri Asisten II Setdakab Aceh Selatan Said Azhar, Kepala Dinas Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh Selatan Drs H Syamsulijar, Direktur Utama BUMD Fajar Selatan H Azwar MR MM, dan sejumlah pejabat terkait lainnya di lingkungan Pemkab Aceh Selatan.
Bupati HT Sama Indra menyampaikan, sesuai hasil uji coba kedua pakar dari luar negeri itu di lokasi tambang emas tradisional kawasan Pasie Raja, diketahui bahwa pengolahan emas tanpa merkuri hasilnya meningkat 25 persen dibanding hasil pengolahan menggunakan merkuri.
“Karenanya, kita akan segera panggil dan perintahkan camat-camat yang di wilayahnya terdapat tambang emas tradisional untuk memberi tahu kepada masyarakat bahwa ada cara mengolah emas yang lebih aman dan ramah lingkungan tanpa harus menggunakan merkuri. Bahkan sesuai hasil sampel yang sudah dilakukan di Pasie Raja dengan bahan yang sama ternyata hasil pengolahan tanpa merkuri lebih menjanjikan ketimbang menggunakan merkuri,” paparnya.
Nasruddin, penambang emas tradisional di Kecamatan Pasie Raja yang menjadi peserta pada acara sosialisasi itu mengaminkan apa yang dikatakan Bupati Aceh Selatan. “Benar, hasil yang diperoleh dari pengolahan tanpa merkuri lebih menjanjikan ketimbang menggunakan bahan merkuri. Prosesnya memang agak lambat, cuma hasilnya meningkat 25 persen dibandingkan pengolahan menggunakan bahan merkuri,” kata Nasruddin.
Ia tambahkan bahwa sesuai hasil uji coba yang ia lakukan dengan jumlah dan bahan yang sama, perbandingannya pakai merkuri 0,18 milimeter, sedangkan yang tidak pakai merkuri 0,24 milimeter. “Artinya, meningkat 25 persen,” sebut Nasruddin.
Menurutnya, sistem pengolahannya sama seperti yang dilakukan penambang emas tradisional selama ini, yakni sistem gelondongan dan menggunakan blender untuk melumatkan batu mengandung emas. Namun, pada proses akhir pengolahan hasilnya tidak menggunakan bahan merkuri, melainkan menggunakan boraks. “Cara seperti ini lebih aman tanpa merusak lingkungan dan mengancam kesehatan masyarakat. Hasilnya pun cukup menjanjikan,” pungkas Nasruddin.
Sementara itu, Mr Peter W U Apple dalam paparannya menjelaskan bahwa metode pengolahan emas tanpa merkuri ini bukanlah metode baru. Metode ini sudah lebih dulu diterapkan di Filipina. “Dengan metode ini kita tidak perlu meninggalkan alat yang digunakan penambang saat ini, cuma alatnya yang harus dibersihkan dari merkuri.
Harapan saya mari kita secepatnya bekerja tanpa merkuri karena dengan demikian akan menyelamatkan kita dari bahaya kesehatan dan kerusakan lingkungan,” ajak Mr Peter dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan Rahmad, Manager Pengembangan BUMD Fajar Selatan.
Sesuai hasil penelusuran Serambi di Google, penggunaan merkuri pada penambangan emas tradisional terjadi pada proses pengolahan hasil galian tambang. Tujuannya untuk memisahkan biji emas dengan tanah/batuan. Dalam proses penambangan emas, merkuri digunakan sebagai bahan kimia pembantu yang sesuai dengan sifatnya berfungsi untuk mengikat butiran-butiran emas agar mudah dalam pemisahan dengan partikel-partikel lain dalam tanah.
Sebagai gambaran, proses kerja pemisahan emas dari partikel-partikel tanah yang dilaksanakan penambang emas tradisional adalah pemecahan partikel tanah, penggilingan, pemisahan partikel tanah dengan ikatan merkuri dan butiran emas, penyaringan, dan pemanasan. (tz)
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |