Serambi MIHRAB

Soal Iptek, Umat Islam Tertinggal

KEMAJUAN bangsa Barat dalam dekade ini telah dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di belahan bumi

Editor: bakri

KEMAJUAN bangsa Barat dalam dekade ini telah dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di belahan bumi. Suatu realitas yang juga tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Barat telah banyak menguasai bermacam sektor kehidupan, seperti ekonomi, industri, teknologi, dan ilmu pengetahuan bahkan juga politik. Amerika misalnya, telah menguasai berbagai sektor kebutuhan manusia, mulai dari industri makanan, kosmetik, farmasi, industri hiburan, transportasi, komunikasi, media massa sampai pada industri persenjataan, dan pertahanan.

“Sejalan dengan kemajuannya Barat juga telah melahirkan orang-orang yang penuh vitalitas, berdisiplin tinggi, menghargai waktu, rasional dan menjunjung tinggi hak-hak azasi manusia,” papar Prof Dr M Hasbi Amiruddin, Guru Besar Fakultas Tarbiyah IUN Ar-Raniry yang dampil pada sesi kedua dengan makalah berjudul “Sains dan Teknologi dalam Islam”.

Menurut Prof Hasbi, kemajuan Barat yang mengagumkan banyak bangsa sekarang ini  sebenarnya baru dimulai sejak abad-abad 16 yang secara tahap demi tahap terus berkembang dan dapat mengalahkan bangsa yang menyumbangkan kemajuannya yaitu umat Islam. Tidak semua orang menyadari bahwa Islam sesungguhnya berperan penting dalam menumbuhkan tradisi keilmuwan dan peradaban Barat. “Hal ini karena memang kenyataannya negeri-negeri Islam sekarang di mana-mana sedang terpuruk, miskin, dan ketertinggalan,” katanya.

Semenjak meninggalkan semangat ijtihad, lanjut Prof Hasbi yang juga Ketua Pusat Kajian Persia UIN Ar-Raniry, umat Islam telah mengalami kemunduran dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang. Dalam pandangan Muhammad Al-Ghazali, kemunduran umat Islam di masa kontemporer ini ada hubungannya dengan kecenderungan mereka meninggalkan Al-Quran, atau seperti tradisi selama ini umat Islam mempergunakan Al-Quran hanya sebagai bacaan ritual saja.

Awal gerakan keilmuan kaum muslimin adalah bermula dari Madinah, ketika Al-Quran sudah mulai memberitakan berbagai hal tentang Tuhan, alam dan manusia. Karena itu sudah pasti yang menjadi sumber ilmu pengetahuan pertama sekali bagi umat Islam adalah Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad saw. Di masjid Madinah inilah pertama sekali orang-orang Hijaz mengenal istilah guru dan murid, duduk di lingkaran pelajaran, menghafal, dan mencatat apa yang didengar dari guru.

“Demikianlah selanjutnya pengajaran ilmu-ilmu Islam itu berkembang ke daerah lain seperti ke Iraq. Awalnya berkembang hanya di dua tempat saja yaitu Basrah dan Kufah, tetapi setelah didirikan Baghdad sebagai ibu kota, banyak bangsa-bangsa yang belajar ke kota tersebut. Baru setelah empat kota ini berkembang ke Rey, Khorasan, (Iran) dan negeri-negeri lain,” kata Prof Hasbi.

Pada masa ini pula muncul tokoh-tokoh ilmuwan Islam, misalnya dalam bidang agama di kenal seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Hanbali dalam bidang hukum Islam. Asy’ari, Al-Maturidi, Wasil bin Ata’, Abu Huzail Al-Nazzam dalam bidang teologi. Zunnun Al-Misri, Abu Yazid al-Bustami dan Al-Halaj dalam Tasawwuf. Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawih dalam bidang Filsafat. Ibnu Hisyam Ibnu Hayyan, Al-Khawaeizmi, Al-Mas’udi, Al-Razi dalam bidang ilmu Pengetahuan.

Berkembangnya ilmu sains dalam kalangan umat Islam ketika itu ada hubungannya dengan ilmu teologi yang mereka anut yaitu teologi sunnatullah. Sunnatullah maknanya adalah hukum alam, yang di Barat disebut natural laws. Teologi sunnatullah menempatkan kedudukan akal pada tempatnya. Kebebasan manusia dalam berpikir yang hanya terikat dengan ajaran-ajaran dasar Alquran dan hadis nabi saja. Keyakinan pada teologi seperti ini membuat umat Islam akrab dengan ilmu-ilmu kealaman dan suka berusaha untuk menemukan sesuatu yang baru.

Sains dan teknologi adalah sesuatu yang netral. Sains itu bisa digunakan untuk kepentingan yang baik atau buruk. Misalnya pengetahuan tentang atom bisa digunakan untuk menciptakan bom nuklir dan bisa juga untuk menyembuhkan kanker. Ilmu genetika bisa untuk mengembangkan pertanian di dunia ke tiga yang sedang berkembang. Tidak jarang juga dengan penguasaan ilmu genetika ada yang merasa telah dapat menyaingi Tuhan.

“Di situlah perannya agama, seperti agama Islam. Ketika umat Islam telah yakin bahwa agama Islam diturunkan oleh Allah dalam rangka menciptakan rahmatan lil `alamin, maka tidak ada ciptaan-ciptaan yang dapat merusakkan diciptakan. Ketika umat Islam telah yakin penyebab pertama adalah Tuhan, maka tidak pernah lagi merasa dia dapat menyaingi Tuhan,” tutup Prof Hasbi. (ask)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved