Advertorial
Irigasi Lhok Guci, Sumber Energi Baru Wilayah Barat
PROGRAM Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh untuk menjadikan Aceh sebagai salah satu lumbung pangan
PROGRAM Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh untuk menjadikan Aceh sebagai salah satu lumbung pangan nasional telah dilakukan sejak lama, dengan cara mencetak sawah baru, bangun bendungan irigasi, dan waduk. Salah satu program untuk mendukung swasembada pangan nasional di wilayah pantai barat Aceh adalah membangun bendungan Daerah Irigasi Lhok Guci.
Bendungan irigas ini berada di Kecamatan Pante Ceurumen dan mencakup beberapa kecamatan lain yaitu Kaway XVI, Bubon, Sama Tiga, Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Pembangunan bendungan irigasi itu sudah dimulai sejak tahun 2004. Namun setelah berjalan sepuluh tahun, baru bendungan irigasi dan beberapa saluran jaringan yang selesai. Sedangkan jaringan air irigasi yang menuju ke areal sawah baru masyarakat, banyak yang belum ada.
Akibatnya, target sawah yang akan dialiri dengan air irigasi itu seluas 18.542 hektare belum tercapai. Penyebabnya, anggaran yang baru dialokasikan Pemerintah Pusat untuk membangunan proyek Irigasi Lhok Guci itu sekitar 25 persen atau senilai Rp 153,9 miliar dari total anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 601 miliar.
Kepala Dinas Pengairan Aceh, Ir Syamsurizal, Selasa (3/12) mengatakan, pelaksanaan pembangunan jaringan irigasi Lhok Guci ini terus dilakukan. Proyek ini, menurutnya, akan masuk dalam proyek strategis nasional di Aceh, khususnya di pantai barat. Pemerintah Pusat, menurutnya, tetap akan melanjutkan pembangunan jaringan irigasi Lhok Guci sesuai rencana awal yaitu dapat mengaliri 18.542 hektare sawah di lima kecamatan.
Ditambahkan, tujuan Pemerintah Pusat membangun bendungan Irigasi Lhok Guci yaitu untuk mendukung program swasembada pangan nasional, untuk mengembangan pola pertanian maju dengan mekanisme pertanian, memperlancar transportasi petani ke desa-desa sekitarnya dengan adanya fasilitas jalan inspeksi irigasi pada tanggul saluran induk dan sekunder, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat dan memperluas kesempatakn kerja.
Sedangkan sasaran dari pembangunannya adalah untuk menyediakan prasarana dan sarana irigasi yang memadai untuk meningkatkan intensitas tanam dan membuka lahan baru untuk penambahan areal persawahan, sebagai pengganti areal sawah yang telah berubah fungsi, serta untuk memberikan kehidupan baru dan kesejahteraan bagi petani dan masyarakat.
Potensi untuk membangun waduk dan irigasi itu, kata Syamsurizal, paling banyak di Aceh. Data terakhir, ada 124 lokasi, tapi baru 13 lokasi yang akan digarap. Ditambahkan, alasan Aceh menjadi sasaran program swasembada pangan nasional, karena potensi pembangunan waduk dan irigasi paling banyak. “Kalau untuk Pulau Sumatera, hanya Aceh yang areal hutannya masih sangat luas yaitu mencapai 3,5 juta hektare. Dari jumlah itu, 638.500 hektare di antaranya merupakan hutan produksi, 1,8 juta hektare hutan lindung, dan 1,06 juta hektare hutan konservasi.(*)
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |