Opini

Reinterpretasi “Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”

PERNYATAAN Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam), sudah menjadi

Oleh Syekh Khalil Samalanga

PERNYATAAN Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam), sudah menjadi idiom di tengah-tengah kehidupan umat Islam dalam menghadapi perbedaan dengan umat lain agama atau sesama muslim. Sebuah pernyataan normatif tersebut sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Swt dalam Alquran: “Kami tidak mengutus engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi sekalian alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Ayat tersebut memperkuat eksistensi Nabi Muhammad saw serta risalahnya sebagai sumber kebahagiaan, rahmatan bagi manusia dan isi alam semesta sebagai bukti keuniversalan Islam. “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan oleh Allah.” (HR. Al Bukhari). Allah tidak mengatakan rahmatan lil mu’minin, namun mengatakan rahmatan lil 'alamin karena Allah ingin melimpahkan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya Nabi Muhammad saw yang memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan dan mengarahkan menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan ke dalam hidayah, irsyad.

Islam mengatur dan membimbing manusia dalam hubungan sesama manusia, muamalah, hubungan manusia dengan alam lingkungan maupun hubungan antara manusia dengan Allah, ibadah. Rahmat Islam akan terasa jika manusia mau menerima otoritas ajaran Islam sebagai pengatur kehidupan mereka, dan hukum Islam mau dijadikan sebagai landasan spiritual dalam bernegara.

Akan tetapi jika sebaliknya, Islam dipandang hanya sebagai sebuah dogma dan pedoman ritual semata tanpa ada kesiapan untuk mengaplikasikan Islam dalam berbagai aspek kehidupan, maka eksistenti Islam sebagai sumber kebahagiaan tidak akan diraihnya. Sebab, ada sekat pemisah antara muslim sebagai identitas dengan Islam sebagai kualitas, maka menjelmalah kehidupan muslim yang tidak islami.

Pendekatan dakwah
Selain itu untuk menebarkan nuansa Islam sebagai agama sumber kebahagiaan untuk semua, perlu metode tertentu dalam menghadirkan Islam ke tengah-tengah masyarakat modern agar Islam diterima sebagai landasan bersikap dan berperilaku, seperti mengoptimalkan pendekatan dakwah dengan mengutamakan pesan-pesan ketauhidan dan bertoleransi dengan pihak yang berbeda sudut pandang dan keyakinan demi tercipta keharmonisan sosial tanpa harus mengoyak sudut-sudut keyakinan sendiri.

Bagi mukmin, Islam menjadi rahmat karena dengan mengamalkan Islam secara utuh dan komperhensif akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat, sedangkan bagi non muslim, Islam melindungi mereka dari ancaman peperangan, dengan ketentuan tidak menyulut permusuhan dan mengganggu kenyamanan orang Islam baik kenyamanan fisik maupun kenyamanan spiritual dan akidah.

Konsekuensi lain yang harus dipenuhi oleh non muslim sebagaimana diatur dalam Ilmu Fiqh adalah membayar jiziah bagi mereka yang hidup dalam Negara muslim (zimmi). Bahkan lebih dari itu, Islam memberi amnesti kepada non muslim yang berimigrasi ke Negara muslim karena menghindari ancaman di Negara sendiri (musta’man). Inilah rahmat yang telah dirasakan oleh orang Yahudi dan Arab non muslim di Madinah ketika Islam hadir ke tengah mereka.

Seiring dengan berkembangnya filsafat pragmatisme, kalimat rahmatan lil ‘alamin, diartikan oleh sebagian liberalis dan didukung oleh orang-orang yang punya kepentingan politik adalah sikap harmonis dari umat Islam dengan siapa saja, tanpa memandang latar belakang dan dalam kondisi bagaimana pun. Ada di kalangan muslim yang terjebak dengan penafsiran palsu ini dalam membela kemungkaran dan penyimpangan agama terjadi serta enggan mendakwahi, mencegah dengan tegas terlebih lagi membuat regulasi untuk menghambat kemunkaran terjadi, karena khawatir para pelakunya tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian ia berkata: “Islam kan rahmatan lil ‘alamin, penuh kasih sayang.”

Penafsiran keliru ini pula yang mengekang umat Islam di seluruh dunia dalam perinsip semu dan dilema spiritual di bawah ancaman hentakan politik dan bayang-bayang pedihnya “azab” Guantanamo untuk membela hak-hak agama mereka, bahkan harus rela ditindas tanpa balas atau bela diri karena jika mereka melawan dengan tindakan-tindakan represiv dan agresivitas antisosial sebagai bentuk perlawanan, maka “dituduh” sebagai kelompok muslim radikal, teroris dan sebutan “maut” lainnya.

Islam phobia
Perlawanan tersebut yang melahirkan persepsi Islamo-phobia di tengah-tengan masyarakat global, dimana Islam diilustrasikan sebagai sesuatu yang menakutkan untuk diterima baik Islam dalam bentuk ritual, terlebih lagi Islam politk. Dari persepsi ini berkembang dan membentuk persepsi baru, Islam therat yaitu memandang Islam sebagai sebuah ancaman yang harus dihindari dan dilenyakpan walau dengan ongkos termahal.

Fenomena ini telah “memasung” muslim Palestina di Timur Tengah dan muslim Rohingya di kawasan Asia Tenggara dalam ketidakberdayaan mereka hingga harus berjuang sendiri-sendiri mempertahankan hidup dengan sisa semangat dan kekuatan iman yang mereka miliki. Sedangkan saudara-saudara mereka di seluruh penjuru dunia yang jumlahnya mencapai 1,6 miliar hanya menonton dan melemparkan kata “mengutuk” di jalan-jalan perkotaan dan ada sedikit yang berdoa untuk keselamatan mereka. Padahal, ada hal lain yang mungkin bisa dilakukan selain dari mengutuk dan berdoa.

Untuk mengurai benang kusut yang telah melilit umat Islam diperlukan penafsiran ayat 107 Al-Anbiya sesuai dengan konteks dan kaedah-kaedah tafsir serta harus didukung oleh penjelasan historis. Sebab jika tidak, akan ada kontradiksi dengan apa yang terjadi pada Nabi Muhammad saw yang terkenal berkepribadian luhur, tidak jarang terlibat dalam peperangan seperti Perang Badar dan Perang Uhud dalam membela Islam dan kaum muslimin dari penindasan dan ancaman kaum musyrikin.

* Syekh Khalil, Guru Dayah Ummul Ayman Samalanga, Dosen Fakultas Dakwah IAIA Al-Aziziah Samalanga, dan Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: syeh_78@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved