Serambi MIHRAB
Al-Biruni Saintis Fenomenal
GEORGE Sarton mengaku begitu mengagumi kiprah dan pencapaian Al-Biruni, seorang ilmuan Muslim abad ke-10
GEORGE Sarton mengaku begitu mengagumi kiprah dan pencapaian Al-Biruni, seorang ilmuan Muslim abad ke-10, dalam beragam disiplin ilmu. “Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” kata Sarton yang dikenal sebagai Bapak Sejarah Sains Barat itu.
Sejatinya, Al-Biruni (973-1048) yang bernama lengkap Abu Rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni, memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Ia lahir menjelang fajar pada 4 September 973 Masehi di Kath (Kiva sekarang). Sebuah kota di sekitar wilayah aliran sungai Oxus, Khwarizmi (Uzbekistan). Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Dalam biografinya Al-Biruni mengaku sama sekali tidak mengenal ayahnya dan hanya sedikit mengenal kakeknya.
Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-Biruni juga fasih dengan sederet bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Semasa muda dia menimba ilmu Matematika dan Astronomi dari Abu Nasir Mansur. Dia juga kerap bertukar pikiran dan pengalaman dengan Ibnu Sina, seorang ilmuan besar Muslim yang begitu berpengaruh di benua Eropa. Menginjak usia 20 tahun, Al-Biruni telah menghasilkan beberapa karya di bidang sains.
Di era keemasan Islam, Al-Biruni telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Ia misalnya berhasil mengukur jari-jari bumi yang menurutnya mencapai 6.339,6 Kilometer. Hasil pengukurannya itu hanya kurang 16,8 kilometer dari nilai perkiraan ilmuwan modern. Saat itu, Al-Biruni mengembangkan metode baru dengan menggunakan perhitungan Trigonometri yang didasarkan pada sudut antara sebuah daratan dengan puncak gunung. Karena itu, Al-Biruni juga dinobatkan sebagai “Bapak Geodesi”.
Selain itu, Al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, Al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains. Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samanid itu merupakan satu pelopor merote saintifik eksperimental.
Menjadi guru
Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti Fisika, Antropologi, Psikologi, Kimia, Astrologi, Sejarah, Geografi, Geodesi, Matematika, Farmasi, Kedokteran, serta Filsafat. Dia juga turun memberikan kontribusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. Dia juga mengamalkan ilmu yang dikuasainya dengan menjadi seorang guru yang sangat dikagumi para muridnya.
Pada 1017-1030 Masehi, Al-Biruni mendapat kesempatan untuk melancong ke India. Selama 13 tahun, sang ilmuwan Muslim itu mengkaji tentang seluk beluk India hingga melahirkan apa yang disebut indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu, Al-Biruni mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya.
Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakian atau kepecayaan yang dianut masyarakat di sub-benua India. Karena itu pula sejarah mencatat bahwa Al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens melakukan studi tentang India dengan mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan Negara anak benua itu. Dan karena itu pula Al-Biruni dijuluki sebagai Bapak Indologi.
Dalam ilmu bumi, Al-Biruni menghasilkan sejumlah sumbangan penting sehingga dia dinobatkan sebagai “Bapak Geodesi”. Dia juga memberi kontribusi signifikan katografi, geologi,geografi dan mineralogy. Kartografi adalah ilmu membuat peta atau globe. Pada usia 22 tahun, Al-Biruni telah menulis karya penting dalam kartografi, yakni sebuah setudi tentang proyeksi pembuatan peta.
Pada usia 17 tahun, Al-Biruni sudah mampu menghitung garis lintang Kath Khwarizmi dengan menggunakan ketinggian matahari. “Kontribusi penting dalam bidang Geodesi dan Geografi telah disumbangkan Al-Biruni. Dia telah memeperkenalkan teknik mengukur bumi dan jaraknya menggunakan triangulasi,” papar John J O’Connor dan Edmund F. Robertson dalam MacTutor History of Mathematics.
Al-Biruni juga telah menghasilkan karya dalam bidang geologi. Salah satunya dia menulis tentang geologi India. Sementara itu dalam bidang mineralogy dia menulis kitab berjudul Al-Jawahir (Book of Precious Stones) yang menjelaskan beragam mineral. Dia mengklasifikasikan setiap mineral berdasarkan warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.
Metode saintifik
Al-Biruni telah berperan mengenalkan metode saintifik dalam setiap bidang yang dipelajarinya. Misalnya, dalam Al-Jamawir yang sangat eksperimental. Pada bidang optik, Al-Biruni bersama Ibnu Al-Haitham termasuk ilmuwan pertama yang mengkaji dan mempelajari ilmu optik. Dialah yang pertama kali menemukan bahwa kecepatan cahaya lebih cepat dari kecepatan suara.
Dalam ilmu sosial, Al-Biruni didapuk sebagai antropolog pertama di dunia. Dia menulis secara detail studi kompertaif terkait Antropologi manusia, agama, dan budaya di Timur Tengah, Mediterania, dan Asia Selatan. Dia dipuji sejumlah ilmuwan karena telah mengembangkan Antropologi Islam. Dia juga mengembangkan metodelogi yang canggih dalam studi Antropologi.
Al-Biruni tercatat sebagai pelopor eksperimental lewat penemuan konsep reaksi waktu. Pada usia 27 tahun, dia telah menulis buku sejarah yang berjudul Chronology. Sayangnya buku ini telah hilang. Dalam kitab Fi Tahqiq ma Li’I-Hid (Penelitian tentang India), dia membedakan metode saintifik dengan metode historis. Dia juga memberikan sumbangan yang signifikan bagi pengembangan Matematika, khususnya dalam bidang teori dan praktik Aritmatika, bilangan irasional, teori rasio, Geometri, dan lainnya.
Al-Biruni merupakan saintis pertama yang mengolaborasi eksperimen yang berhubungan dengan fenomena astronomi. Kontribusi dan sumbangan yang dicurahkanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan sungguh tidak ternilai. Al-Biruni wafat dalam usia 75 tahun pada 13 Desember 1048 di Ghazna. Untuk mengenang jasanya, para astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan. (dari berbagai sumber/asnawi kumar)