Siswa Se-Banda Aceh Tinjau Objek Sejarah

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Banda Aceh sebagai UPT dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan

* Program Laseda Balai Pelestarian Nilai Budaya

BANDA ACEH - Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Banda Aceh sebagai UPT dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan kegiatan Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) ke-13, Rabu (25/3) dan Kamis hari ini. Kegiatan meninjau objek-objek bersejarah ini diikuti 80 siswa dan guru dari 16 SMA/SMK se-Kota Banda Aceh.

Sebelum mengunjungi objek bersejarah, peserta dibekali terlebih dahulu oleh beberapa pemateri di Aula Museum Rumoh Aceh, Rabu pagi. Para pemateri, antara lain Kasie Penggalian Sumber Sejarah Subdit Sejarah, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemendikbud RI Isak Purba dan sejarawan Aceh Rusdi Sufi.

Dalam paparannya, Isak Purba mengatakan, Laseda merupakan salah satu metode pembelajaran sejarah yang efektif bagi siswa, khususnya tingkat SMA/SMK. Dikatakan efektif, karena jika di ruang kelas para guru lebih banyak menggunakan buku teks, tapi dalam lawatan sejarah ini siswa langsung mengunjungi tempat peristiwa berlangsung dan berdialog dengan pelaku sejarah atau sejarawan. “Sehingga tidak membosankan,” kata dia.

Objek sejarah yang menjadi sasaran peninjauan, antara lain, Pendopo Gubernur Aceh atau Anjong Mon Mata, Makam Kandang XII, Museum dan Makam Sultan Aceh keturunan Bugis, Gunongan, Museum Aceh, Kompleks Benteng Indra Patra, dan lain sebagainya.

Peserta juga mendapat tantangan dengan permainan games kesejarahan dan nilai budaya Aceh dari objek-objek yang dilewatinya, sehingga tidak membosankan.

Kepala BPNB Banda Aceh Irini Dewi Wanti SS MSP mengatakan, kegiatan ini bertujuan membangkitkan memori kolektif bangsa melalui penanaman nilai sejarah kepada generasi muda. Laseda ini diadakan setiap tahun. Namun diakui Irini, jumlah siswa yang bisa diikutkan sangat sedikit karena keterbatasan dana.

“Kita berharap pemerintah di berbagai kabupaten/kota juga peduli dengan kegiatan semacam ini. Jika melibatkan siswa dengan jumlah dan skala yang lebih luas di berbagai kabupaten/kota, maka kita yakin suatu saat Aceh punya generasi muda yang paham budayanya sendiri,” kata Irini.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Banda Aceh diwakili Sekretaris, Drs T Angkasa, dalam sambutannya mengatakan, Banda Aceh dalam lintas sejarahnya memiliki catatan sejarah sebagai kota tua yang berdiri tahun 1297 sebagai Kota Bandar Perdagangan Internasional selama tiga abad. “Banyak objek bersejarah yang ditinggalkan untuk kita, antara lain Kandang 12, Kandang Meueh, Makam Sultan Aceh keturunan Bugis, dan Gunongan,” kata dia.

Dikatakannya, selama ini pembelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah kurang bermakna bagi siswa. “Sangat ironis siswa diajak mempelajari asal-usul daerah lain, namun tidak memahami daerahnya sendiri,” ujarnya.

Diakui Angkasa, siswa di mana-mana bosan mempelajari sejarah. Sesab, belajar sejarah hanya pada tataran menghafal nama-nama tokoh, angka-angka tahun, dan benda-benda bersejarah. “Itu sebab harus ada metode yang inovatif sehingga memberi stimulus untuk siswa mempelajari sejarah,” tutup Angkasa.(sak)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved