Advertorial

Banda Aceh Menuju Islamic Smart City

DI usianya yang ke-810, Banda Aceh terus berbenah. Selain menata kotanya yang ramah dan berkonsep hijau, Pemko juga

Banda Aceh Menuju Islamic Smart City

DI usianya yang ke-810, Banda Aceh terus berbenah. Selain menata kotanya yang ramah dan berkonsep hijau, Pemko juga terus melakukan berbagai terobosan guna mewujudkan kota yang mampu beradaptasi terhadap segala tantangan dan perubahan zaman. Sebuah konsep besar pun diusung, yaitu Islamic Smart City atau Kota Cerdas yang Islami.

Smart city adalah suatu konsep pembangunan perkotaan yang telah diperkenalkan sejak tahun 1990-an. Istilah ini sangat terkait dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi di dalam memaksimalkan sistem layanan pemerintahan.

Namun demikian, konsep Smart City sendiri terus berkembang hingga menjadi lebih luas. Suatu kota dikatakan “smart”, ketika ia memiliki sistem dengan tingkat intelektual yang tinggi yang dapat menyelesaikan berbagai isu permasalahan perkotaan melalui berbagai inovasi program yang kreatif sehingga tercipta pembangunan yang keberlanjutan.

“Tentu saja faktor teknologi tidak dapat dipisahkan dalam konsep pembangunan kota yang modern. Konsep tersebutlah yang saat ini sedang kami coba terapkan di Kota Banda Aceh,” ungkap Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.

Bagi Banda Aceh, konsep Smart City tersebut telah tertuang dan terintegrasi dalam visi dan misi kota, yaitu “Mewujudkan Banda Aceh sebagai Model Kota Madani”.

“Kata Madani itu sendiri berasal dari bahasa Arab mudun yang berarti maju atau modern. Tidak hanya modern dari sisi pembangunan fisik, madani dalam Islam juga bermakna pembangunan kota yang penduduknya beriman dan berakhlak mulia, menjaga persatuan dan kesatuan, toleran dalam perbedaan, taat hukum, dan memiliki ruang publik yang luas,” ujarnya.

Disamping itu masyarakatnya ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pembangunan, inklusif, mampu bekerja sama untuk menggapai tujuan bersama yang dicita-citakan. Keadaan ini diharapkan melahirkan warga Kota Banda Aceh yang memiliki jati diri yang ramah, taat aturan, damai, sejahtera, harga diri tinggi, berbudaya, dan beradab.

“Upaya menuju situasi ini telah kami rintis ke dalam berbagai program dan telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Kota Banda Aceh telah memiliki Dokumen Masterplan Ruang Terbuka Hijau 2012-2029 yang merupakan dokumen pendukung dari Rencana Tata Ruang Wilayah,” ungkap Illiza.

Banda Aceh juga masuk dalam 60 kabupaten/kota di Indonesia untuk Program Pengembangan Kota Hijau. Di saat kota lain mengalami kendala dengan semakin sempitnya Kawasan Terbuka Hijau, Banda Aceh justru semakin meningkatkannya. Pemko telah berhasil mengubah lahan kritis menjadi kawasan hutan yang bermanfaat sebagai paru-paru kota.

Kenapa Banda Aceh memilih konsep “Kota Cerdas yang Islami?” Ini tidak lain karena Banda Aceh memiliki karakterisktik dan nilai-nilai yang telah membentuk kehidupan masyarakatnya. Islam sebagai bagian yang melekat kuat di dalam unsur masyarakat Kota Banda Aceh menjadi kekuatan tersendiri di dalam membangun kota dan masyarakat yang cerdas.

“Sebetulnya, yang mau kita bangun adalah peradaban Islam. Aceh tidak bisa dipisahkan dari penegakan syariat. Kita ingin tunjukkan pada dunia, pada dasarnya sebuah kota yang menerapkan syariat Islam tidak akan ketinggalan zaman. Justru harus sesuai dengan zamannya,” jelas Illiza.

Konsep ‘Islamic Smart City’, lanjut Illiza, telah diterapkan sejak tahun 2007. Meskipun saat itu belum terkonsep secara menyeluruh, penerapan nilai islami di dalam mewujudkan masyarakat yang modern dan cerdas telah menjadi prioritas sejak awal.

Indikator ini bisa dilihat dari diusungnya “Banda Aceh, Bandar Wisata Islami Indonesia” sebagai Visi Kota Banda Aceh tahun 2007-2012. “Sebagai hasilnya, kami berhasil membangun program pariwisata yang unik yang berlandaskan nilai islami, dan menciptakan alternatif pilihan kegiatan wisata bagi wisatawan lokal, nasional, maupun mancanegara.”

Dalam rangka mencapai target “Model Kota Madani” Pemko Banda Aceh juga meluncurkan berbagai inovasi dan program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sejauh ini, Pemko telah berhasil meningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil, indeks angka kemiskinan yang semakin berkurang setiap tahunnya, serta meningkatkan iklim investasi dan usaha, khususnya ekonomi kecil.

Perkembangan sektor pariwisata juga telah ikut berkontribusi terhadap tumbuhnya aktivitas perekonomian baru di Kota Banda Aceh. “Sebagai hasilnya, dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, kami telah mengumpulkan lebih dari 20 penghargaan di berbagai bidang terkait pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, lingkungan, pendidikan, penataan keuangan, pemberdayaan perempuan, dan lain-lain. Beberapa dari penghargaan itu bahkan kami terima secara berturut-turut setiap tahunnya, seperti penghargaan adipura,” ungkap Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.(***)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved