Senin, 27 April 2026

Ekspedisi Menyusuri Kekejaman Van Daalen di Gayo Alas Dimulai

Dengan sedikit emosional, anggota PDI Perjuangan ini menyatakan bahwa pasukan Van Daalen bukan saja membunuhi laki-laki dewasa, melainkan juga...

Editor: Jalimin
Serambinews.com/Fikar W Eda
Anggota Forbes memperoleh kaos ekspedisi, diserahkan Iwan Gayo. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Keberangkatan Tim Ekspedisi Kekejaman Van Daalen ke Tanah Gayo Alas, Provinsi Aceh, ditandai dengan penyerahan "t'shirt ekspedisi" (kaos oblong) warna putih kepada anggota Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR dan DPD RI asal Aceh, Jumat (24/4/2015) malam, di Jakarta.

Wakil rakyat Aceh anggota Komisi IX DPR, Tgk Khaidir, menyempurnakan keberangkatan tim ekspedisi tersebut dengan iringan doa. "Kiranya perjalanan tim ekpedisi ini selamat dan sukses," kata politisi Partai Gerindra itu.

Ekspedisi menyusuri kekejaman pasukan kolonialis Belanda pimpinan Van Daalen di Tanah Gayo Alas digagas tiga wartawan senior, HM Iwan Gayo yang menerima hadiah Adinegoro 1981, LK Ara, dan Oedin Dela Rosa. Dimaksudkan untuk meneliti dan merekonstruksi kembali episode paling kelam di benteng terakhir perang Aceh-Belanda.

Ketua Forbes Prof Bachtiar Aly, menyebutkan prilaku kejam dan keji pasukan Van Daalen juga mendapat kutukan di Belanda. "Tapi kekejaman Van Daalen seolah tercampakkan begitu saja, tak ada yang peduli," kata Prof Bachtiar Aly.

Ia memuji langkah Iwan Gayo, LK Ara, dan Oedin Dela Rosa yang menyusuri kembali peristiwa kelam masa lalu itu melalui sebuah ekspedisi. "Forbes sepenuhnya mendukung ekspedisi ini," kata anggota Fraksi Partai Nasional Demokrat yang duduk di Komisi I DPR ini.

Politisi Aceh lainnya, Muslim, SH dari Partai Demokrat bahkan mengusulkan agar dilanjutan penelitian lebih mendalam dan membangun monumen peristiwa kekejaman pasukan Van Daalen itu. "Kebetulan beberapa anggota Forbes duduk di Komisi X membidangi sejarah dan kebudayaan," kata Muslim.

Ir Tagore Abubakar menceritakan pembantaian Van Daalen paling kejam dan tiada taranya terjadi pada benteng Tampeng, Gayo Lues. Dengan sedikit emosional, anggota PDI Perjuangan ini menyatakan bahwa pasukan Van Daalen bukan saja membunuhi laki-laki dewasa, melainkan juga mmbantai anak-anak bayi dan perempuan. "Saya kira sulit dicari tandingan dari kekejaman dan kebengisan pasukan Van Daalen," tukas Tagore Abubakar.

Dua buah mobil disiapkan untuk kepentingan ekspedisi tersebut. Diperkirakan akan memakan waktu lebih dari tiga bulan. Iwan Gayo menyebutkan, mereka berangkat dari Jakarta menuju Medan dan selanjutnya mencapai Tanah Alas Aceh Tenggara, dan diteruskan ke Belangkejeren dan Aceh Tengah, Bener Meriah.

Pembantaian yang dilakukan pasukan Van Daalen di Tanah Gayo Alas berlangsung selama tiga bulan, 8 Februari -23 Juli 1904. Peristiwa mengerikan itu direkam oleh anggota juru foto dan juru tulis Van Daalen, CJ. Kempes. Foto-foto jepretan Kempes itu kemudian banyak menghiasai buku-buku sejarah.

Perang Gayo Alas melawan kolonialis adalah episode terakhir dari perang Aceh setelah maklumat perang yang diumumkan Belanda pada 26 Maret 1873.

"Itu adalah operasi genosida dan tindakan frustasi Belanda terhadap Aceh yang telah membangkrutkan negeri itu," kata Iwan Gayo.

Pebantaian Van Daalen menyebabkan 2.926 jiwa meninggal dunia dan menghabiskan 48.530 butir peluru, di sepuluh benteng, yaitu Benteng Pasir, Gemuyang, Durin, Badak, Rikit Gaib, Penosan, Tampeng, Kute Reh, Likat, dan Benteng Lengat Baru.

Van Daalen memiliki nama lengkap Gotfried Coenraad Ernst van Daalen, lahir di Makassar, 23 Maret 1863 dan mati di Den Haag 22 Februari 1930 dalam usia 66 tahun. Pada 1888 Van Daaken dipindah-tugaskan ke Aceh dari Jawa, untuk membasmi muslimin yang melakukan perang perlawanan di Tanah Gayo Alas. Saat berangkat ke Tanah Gayo-Alas, Van Daalen diperkuat oleh sepuluh brigade marsose. Ekspedisi itu mengantarkan Van Daalen menjadi komandan dalam Millitaire Willems - Orde pada 14 September 1904 dan diangkat menjadi Gubernur Militer Aceh oleh Van Heuts. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved