Mengintip Kehidupan Muallaf di Pulau Siumat Simeulue
"Warga butuh pendalaman ilmu agama, apalagi disini masih banyak muallafnya, sehingga ada yang mengajari mereka bagaimana mengokohkan iman dan membimbi
HAYATULLAH ZUBAIDI, Kasubbib Sosialisasi Baitul Mal Aceh. Ikut serta dalam tim verifikasi calon mustahik di Pulau Siumat, Simeulue.
TIM VERIFIKASI Baitul Mal Aceh kembali mendata dan menverifikasi calon mustahik dari kalangan anak muallaf untuk diberikan beasiswa penuh. Mereka yang ditetapkan sebagai penerima beasiswa akan di masukkan ke pesantren terpadu yang telah berkerjasama dengan Baitul Mal.
Wilayah yang domisili para muallaf secara umum mereka yang tinggal di daerah terpencil seperti Subulussalam, Aceh Singkil, Simeulu, Aceh tenggara dan Aceh Tamiang. Daerah ini dinilai masih rawan pendangkalan aqidah. Sehingga anak-anak dari keluarga muallaf perlu diberikan pendidikan agama agar iman mereka lebih kokoh bagi dirinya sendiri dan keluarganya.
Salah satu contoh di Simeulue, tepatnya di Pulau Siumat, kecamatan Simeulue Timur. Pulau ini letaknya terpisah dari Sinabang. Untuk mengakses ke sana dibutuhkan dua jam perjalanan menggunakan boat. Jumlah penduduk di sana lebih kurang 300 orang.
Walaupun di pulau ini mayoritas penduduknya muslim, namun sangat rentan terjadi pendangkalan aqidah. Apalagi menurut laporan warga ada beberapa misionaris yang datang ke sana tanpa melaporkan keberadaan mereka dan melakukan aktivitas keagamaan.
Pulau ini hanya dihuni 86 kepala keluarga. Luasnya mencapai 70 hektare. Kehidupan warga serba kekurangan. Hal itu nampak dari potret rumah mereka yang masih beratap daun rumbia dan berdinding kayu yang sudah reot.
Begitu juga dengan masjid. Kondisinya masih belum layak untuk digunakan. Air bersih dan tempat wudhuk tidak ada. Sehingga ketika waktu shalat tiba, warga harus berwudhuk di rumah masing-masing. Walaupun demikian jamah shalat berjamaah aktif dilaksanakan 5 waktu.
Menurut laporan Tgk Mardi Abbas, Imum Gampong Pulau Siumat, mereka saat ini sangat butuh pengajian ilmu agama untuk warga. Ia mengaku dulunnya ada satu dai perbatasan yang dititip Dinas Syariat Islam provinsi di sana, namun hanya datang sekali, setelah itu tak pernah kembali.
"Warga butuh pendalaman ilmu agama, apalagi disini masih banyak muallafnya, sehingga ada yang mengajari mereka bagaimana mengokohkan iman dan membimbingnya," ujar Tgk Mardi, Minggu (31/5/2015).
Saat tim pendataan dan verifikasi Baitul Mal Aceh turun kesana, ada beberapa anak muallaf yang perlu dibantu. Dari segi ekonomi keluarganya terlihat pas-pasan. Namun kesadaran pendidikan dari si anak juga sangat tinggi. Sehingga sangat diharapkan mereka menjadi kader dai di daerah mereka sendiri.
Sadaruddin (50), salah seorang muallaf sangat mengharapkan anak-anaknya dibantu untuk disekolahkan. Saat ini kondisi dirinya sudah sakit-sakitan. Hanya istrinya yang menjadi tulang punggung keluarga. Sementara ia harus menafkahi lima orang dalam keluarga.
"Kami rela anak kami dipisahkan dengan kami demi pendidikannya. Jika suatu hari nanti saya tidak ada lagi, ada penerus di desa ini yang paham agama," ungkapnya.
Kepala Baitul Mal Simeulu, Sayuti mengatakan kebanyakan warga muallaf pulau Siumat setelah memeluk Islam mereka kurang tersentuh dengan pembinaan agama. Hal itu dikhawatirkan mereka akan pindah kembali ke agama semula.
"Ada beberapa muallaf yang masih dirayu oleh keluarganya yang masih nonmuslim untuk kembali ke agama semula. Kadang ada tawaran disekolahkan karena muallaf ini kurang mampu," ungkapnya.
Dari segi pendidikan di pulau Siumat ini, hanya ada sekolah umum tingkat SD dan SLTP. Itupun gurunya masih seadanya. Sedangkan minat siswa sangat tinggi. Sehinga warga berharap perhatian pemerintah mengirimkan guru kesana.
Walaupun demikian di daerah ini sudah tersedia arus listrik yang dibangun dari tenaga surya. Warga sudah bisa menikmati sinar di malam hari walau hanya terbatas.
"Setiap kepala keluarga hanya membayar Rp13.000 perbulan. Biaya itu untuk perawatan dan penjaga saja," sebut Kepala Desa Siumat, Syahrul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pulau-siumat_20150602_172845.jpg)