Breaking News:

Opini

Tradisi ‘Meugang’

BANGSA yang besar selalu dicirikan kekayaan budaya dan adat istiadat. Kekayaan ini dapat bermakna mempunyai keanekaragaman

Oleh Lukman Hakim

BANGSA yang besar selalu dicirikan kekayaan budaya dan adat istiadat. Kekayaan ini dapat bermakna mempunyai keanekaragaman bentuk maupun kedalaman nilai yang terkadung dalam adat budaya dimaksud. Aceh sebagai satu bangsa yang memiliki sejarah panjang memiliki berbagai tradisi yang kaya nilai. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat pada umumnya merupakan bentukan budaya yang tersarikan dari nilai-nilai agama. Dari sinilah kemudian muncul hadih maja: Adat ngon hukom lagee zat ngon sifeut. Hadih maja tersebut menuturkan adanya integrasi antara nilai ajaran Islam dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat.

Satu tradisi yang unik dan kaya nilai yang tetap hidup dalam tatanan masyarakat Aceh adalah tradisi meugang. Tradisi ini hanya ada dalam adat budaya masyarakat Aceh, tidak ditemukan dalam tatanan adat di daerah lain. Secara sederhana tradisi meugang ini dipahami sebagai tradisi atau kebiasaan masyarakat Aceh mengonsumsi daging secara serentak dua atau satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan dan menjelang hari raya. Tradisi unik ini ditandai dengan penjualan daging secara massal hampir di setiap pasar bahkan di setiap persimpangan jalan yang dilalui masyarakat banyak.

Sejak mulai pagi hari masyarakat secara berbondong-bondong turun ketempat penjualan daging untuk merayakan tradisi meugang ini. Di sini dikatakan secara serentak dan massal, ini karena memang semua orang Aceh menjadikan tradisi “berdaging ria” ini sebagai sebuah kewajiban adat, baik kalangan orang kaya maupun kalangan miskin. Mungkin tradisi meugang (makan daging serentak) ini juga yang menyebabkan harga daging lembu di Aceh menjadi harga daging tertinggi di dunia.

Semiskin apa pun sebuah keluarga, pasti jauh-jauh hari sudah mempersiapkan uang seadanya walau hanya untuk membeli satu kilogram daging pada hari meugang (uroe makmeugang). Seorang ayah akan merasa gagal menjadi seorang ayah bila tidak dapat membeli daging pada hari meugang. Apalagi bagi seorang penganti baru akan menjadi hal yang memalukan sekaligus aib jika tidak membawa pulang daging ke rumah mertuanya. Dengan kata lain, tradisi meugang ini tidak hanya sebatas tradisi tapi juga masalah harga diri atau gengsi.

 Harga diri
Mungkin karena difahami sebagai gengsi atau harga diri, terkadang masyarakat Aceh dari jauh hari telah mempersiapkan bekal yang cukup untuk hari meugang sekaligus untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sebab ada juga sebuah prinsip yang muncul dalam masyarakat Aceh bahwa bulan Ramadhan bukan saatnya mencari rezeki melainkan hanya untuk meningkatkan ibadah, sehingga sering kita dengar ungkapan sithon mita sibuleun pajoh. Kita mencari nafkah selama selama setahun dinikmati selama bulan puasa.

Meskipun dalam kenyataannya ada juga sebagian masyarakat yang memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momen yang tepat untuk mencari nafkah, sebab mencari nafkah yang halal juga merupakan bagian dari ibadah. Dalam konteks tradisi meugang sebagai harga diri ini terkadang muncul ironi. Mendekati datangnya tradisi meugang biasanya akan terjadi beberapa ironi sosial, tingkat pencurian, perampokan, penodongan dan segala macam tindak kriminal bermotif ekonomi cenderung meningkat.

Hal ini semakin ironi, karena alasan untuk kebutuhan meugang ini kini banyak orang yang menjual harga diri menjadi “pengemis”. Baik itu pengemis dengan penampilan memelas dengan segala polah dramaturgi-nya yang meminta derma ikhlas, maupun “pengemis” gaya baru yang berpenampilan sangar mendatangi kantor meminta sumbangan yang terkadang terkesan separuh paksa. Fenomena ini dalam batas tertentu telah membuat pimpinan istitusi atau badan-badan pemerintahan menjelang meugang harus bolos dinas karena menghindari lonjakan peminta-minta musiman ini.

Sebenarnya mereka ini telah mengadaikan harga diri dengan alasan meugang. Cara-cara yang tidak lumrah dalam memenuhi kebutuhan meugang ini tentunya ikut mencederai karakter khas orang Aceh. Dengan lain perkataan, budaya ini tentunya bukan nilai tradisi meugang yang tanamkan oleh indatu orang Aceh. Orang Aceh dalam kesejatiannya merasa malu meminta-minta selama masih mempunyai kemampuan fisik dan psikis dalam mencari nafkah secara halal.

Dari sini mungkin kita perlu merevitalisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi meugang yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Setidaknya ada beberapa nilai yang ada dalam tradisi meugang ini baik nilai keagamaan maupun nilai sosialnya. Dari segi keagamaan tradisi meugang dapat dimaknai sebagai: Pertama, syiar penyambutan datangnya bulan Ramadhan sebagai penghulu segala bulan (saidus syuhur). Melalui tradisi meugang ini seakan kita ingin menyampaikan pesan bahwa bulan Ramadhan itu mempunyai marwah yang lebih mulia sehingga harus disambut dengan penuh suka cita.

Di sini orang Aceh menyahuti sebuah hadis yang mengatakan bahwa “Barangsiapa hati gembira dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, maka ganjarannya adalah masuk syurga”. Kedua, tradisi meugang ini merupakan persiapan energi (isti’dad al-quwah) menjelang datangnya bulan Ramadhan. Melalui tradisi makan daging ini masyarakat Aceh menyakini dapat memberikan asupan gizi yang cukup dalam badan, sehingga mempunyai kesiapan menghadapi bulan puasa yang memerlukan energi yang banyak.

 Nilai sosial
Selain itu tradisi meugang juga mempunyai nilai sosial yang tinggi, sebab dengan tradisi sama-sama makan daging ini seakan masyarakat Muslim Aceh ini menyatukan rasa kebersamaan dan kekompakan dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kalau selama ini mungkin hanya kalangan tertentu yang dapat menikmati gulai daging, maka melalui tradisi meugang ini semua kalangan akan menikmati kuliner yang sama sebagai bentuk kesamaan kelas sosial di hadapan Allah Swt, sebagai tujuan penghambaan diri total dalam segala bentuk amalan ibadah pada bulan Ramadhan.

Demi membangkitkan kepekaan sosial, melalui tradisi meugang ini masyarakat Aceh biasanya akan secara patungan (meuripee) untuk membeli, menyembelih dan membagikan daging lembu dalam suasana kekeluargaan dan penuh khidmad. Ditradisikan pula untuk membagi masakan gulai daging kepada tetangga dan anak yatim sebagai bentuk kepedulian sesama muslim. Bahkan ada beberapa daerah di Aceh yang masih membawa hidangan ke meunasah untuk sekadar makan bersama pada hari meugang.  

Nilai kebersamaan inilah yang ingin ditanamkan oleh para leluhur melalui tradisi meugang. Membangun kekompakan dan kepekaan sosial antar sesama yang kemudian secara bersama sama pula menghiasi bulan Ramadhan dengan berbagai amalan wajib dan sunnah. Meningkatkan kualitas jiwa melalui dengan mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Kuasa dan ber’azam untuk tidak melukai dan menzalimi sesama. Membangun kesalehan yang seimbang kesalehan dengan Tuhan dan kesalehan sosial. Semoga kita semua menjadi hamba-Nya yang bertaqwa. Marhaban ya Ramadhan! Selamat menunaikan ibadah puasa! Wallahu’alam bi al-shawab.

Dr. Lukman Hakim A. Wahab, M.Ag., Ketua Prodi Ilmu Aqidah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan Peneliti Pusat Kajian

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved