Rabu, 3 Juni 2026

Citizen Reporter

Kham-Khum, Krang-kring, Kreh-kroh

Sering bukan saat berbicara kita menggunakan beberapa kata yang seakan tidak mempunyai makna

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Riadhul Marhamah El-Madny, Mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa Inggris UNSYIAH, Guru SMA Global Perintis Aceh Utara.

Sering bukan saat berbicara kita menggunakan beberapa kata yang seakan tidak mempunyai makna namun ia mempunyai fungsi untuk merepresentasikan suatu hal yang sedang kita bicarakan. Sebagai contoh, ketika ibu membangunkan anaknya yang masih tidur lelap beliau sering berkata “pu eh lom, kajeut beudoh ka hek ji ku’uek’uek manoek” apa arti dari ku’uek’uek? Contoh lain, “krang-kring that su telepon pakon hana ta cok-cok?” Ku’uek’uek menunjukkan hal yang dilakukan oleh ayam yaitu berkokok dan krangkring menunjukkan bunyi suatu benda yaitu berdering.

Representasi bunyibunyi tersebut dikenal dengansebutan Onomatopoiec, yaitu tiruan bunyi yang menunjukkan sebuah benda atau perbuatan yang mana bunyi-bunyi tersebut berbeda pada setiap bahasa. Dingdong ‘tiruan bunyi bel’ dalam bahasa Inggris; bim-bam dalam bahasa jerman; kring dalam bahasa Aceh, atau contoh lain ku’uek’uek merupakanbunyi ayam berkokok di Aceh, kukuruyuk di Jawa, kong krong kong kong dalam bahasa Sunda, cock a doodle doo dalam bahasa Inggris, kikeriki di Jerman, kukkokiekuu di Filandia, sedangkan di Perancis adalah coquerico.

Kenapa adanya perbedaan dalam penyebutan setiap tiruan bunyi, bukankah sepertinya suara bunyi hewandengan jenis yang sama di Aceh dan di pulau Jawa atau disetiap negara lainnya sama. Juga sama halnyadengan letusan senjata di Aceh dan letusan senjata di Inggris, tetapi di Aceh dikenal dengan bunyi tum, dor dalam bahasa Indonesia, dan di Inggris berbunyi bang (Baca: Beng). Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada seorang linguist Dr. Abdul Gani Asyik, M.A., Ph. D dalam kuliah Advanced Linguistic. Beliau memberikan suatu ilustrasi sebagai berikut “pada suatu masa disuatu ketika diadakan sebuah konferensi besar oleh hewan-hewan dan manusia diundang sebagai tamu terhormat,dalam suatu diskusi raja rimba meminta manusia menirukan bunyi-bunyi hewan yang diikutsertakan. Kucing mendapat giliran pertama untuk menunjukkan bagaimana bunyinya, satu persatu perwakilan negara atau suku mendapatkan giliran untuk menirukannya. ‘Meow’ tiru orang Inggris, lalu ‘meong’ menurut orang Aceh. Satu persatu bunyi hewan yang ditiru oleh yang lain terdengar janggal ditelinga orang Aceh, khueng-khueng bunyi anjing kenapa jadi bow-wow menurut Inggris; yang hampir sama hanyalah bunyi sapi yaitu moo.

Dari ilustrasi tersebut dapat saya simpulkan bahwasystem bunyi tiap bahasa tidaklah sama persis sehinggadapat terdengar berbeda di pendengaran orang-orang yang menggunakan bahasa yangberbeda. Namun, nama bunyi benda tertentu yang diwakili oleh bunyi yang terdengar ini berbeda halnya dengan arbitrary.Seperti contoh, hewan berkaki empat yang biasanya dipelihara orang sebagai kendaraan atau sebagai media olahraga disebut dengan ‘kuda’.

Hewan ini mempunyai makna yang sama namun mempunyai bunyi yang berbeda, seperti jaran dalambahasa Jawa, Guda dalam ahasa Aceh, cheval dalam bahasa Perancis, atau horse dalam bahasa Inggris. Selain mempunyai makna yang sama namun berbeda bunyi, hal sebaliknya juga termasuk sebagai arbitrary yaitu bunyi yang sama namun berbeda makna. Seperti bunyi ma dalam bahasa Inggris yang berarti ‘ibu’ sedangkan alam bahasa Aztec berarti ‘tangan’.

Selain itu, arbitrary juga tidak ada hubungan antara symbol tertentudengan konsep yang dimaksud. Misal ‘air’ kita tidak dapat menjelaskan hubungan bunyi atau nama ‘air’ dengan bentuknya yang cair, yang digunakan untuk melepas dahaga dan unntuk keperluan lainnya seperti mencuci atau mandi. Kenapa harus ‘air?’ bukan ‘ria’ atau ‘iar’ atau yang lainnya? Hal ini tidak dapat dijelaskan. Tidak ada aturan yang mengatur jika setiap benda yang mempunyai makna yang sama maka nama bunyinya juga sama atau sebaliknya, sebab fungsi bunyi adalah untuk menunjukkan arti yang setiap daerah mempunyai perbedaan dalam pelafalannya, perbedaan inilah yang disebut dengan arbitrary.

Yang mana jelas berbeda dengan onomatope yang bunyi-bunyinya dapat dijelaskan yaitu tieuan bunyi yang mempunyai hubungan dekat dengan arti dan pelafalannya. Sepertibinatang reptile kecil yang merayap di dinding berbunyi cak-cak sehingga bernama‘cicak’ di Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved