Syeh Lah Geunta Tutup Usia
DUNIA kesenian Aceh kembali berduka atas berpulangnya ke Rahmatullah seniman besar Aceh, Abdullah bin Abdurrahman
DUNIA kesenian Aceh kembali berduka atas berpulangnya ke Rahmatullah seniman besar Aceh, Abdullah bin Abdurrahman atau yang dikenal Syeh Lah Geunta. Maestro seudati yang telah melanglang buana menampilkan tari tradisional Aceh tersebut tutup usia pada Sabtu siang, 20 Juni 2015 di RSU Idi Rayeuk dan dikebumikan di kampungnya, Seneubok Rambong, Idi Rayeuk, Aceh Timur. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Kabar meninggalnya pria kelahiran Bireun, tahun 1946 tersebut beredar cepat melalui berbagai media di kalangan masyarakat dan seniman Aceh. Serambi yang menghubungi salah seorang putranya, Asnawi bin Abdullah yang selama ini berdomisili di Jakarta membenarkan kabar duka itu. “Benar, ayah sudah meninggal dunia,” kata Asnawi yang dihubungi melalui telepon ketika masih di Bandara Kualanamu menuju kampung halamannya, Sabtu sore kemarin.
Asnawi mengatakan, ayahnya meninggal di RSU Idi Rayeuk setelah sempat dirawat sejak Sabtu pagi kemarin. Asnawi menuturkan, ayahnya menginap penyakit komplikasi sejak beberapa waktu terakhir. “Tadi malam kata adik saya badan ayah panas, dan sempat dirawat di rumah dan sempat normal kembali. Tadi pagi langsung dibawa ke rumah sakit dan jam satu tadi saya ditelepon lagi katanya ayah sudah meninggalkan kita semua,” kata Asnawi. Jenazah sang maestro dikebumikan menjelang Ashar kemarin.
Asnawi mengisahkan, ayahnya adalah sosok yang sangat humoris semasa hidupnya, namun begitu almarhum disebutkan juga memiliki sifat yang sangat tegas dalam mendidik ia bersama lima saudaranya. Syeh Lah Geunta berpulang dalam usia 69 tahun, meninggalkan seorang istri bernama Safiah bin Puteh dan enam anak—empat laki-laki dan dua perempuan--yang saat ini sudah berdikari.
Syeh Lah Geunta adalah pecinta dan perawat tari tradisi Aceh khususnya tari seudati yang telah melahirkan banyak generasi penerus. Karena kegigihannya dalam menjaga seudati, pada tahun 2007 ia didapuk sebagai maestro seudati oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, bersama maestro dari berbagai daerah lainnya di Indonesia. “Ayah sudah sering menampilkan seudati di Eropa. Ayah juga sering dipanggil ke Jakarta untuk melatih dan menampilkan seudati di even-even besar,” pungkas Asnawi yang seraya memohon doa dari masyarakat Aceh untuk almarhum ayahanda tercinta.
Setelah tersiar kabar duka kemarin, Serambi juga sempat menelepon sahabat dekat Syeh Lah Geunta di Banda Aceh, yakni Syeh Hermi Lempia yang juga sering menjadi apet syeh saat mementaskan seudati bersama almarhum. Syeh Hermi mengaku sangat terkejut mendengarkan kabar duka itu, apalagi dia mengaku terakhir berjumpa dengan almarhum saat Mubes Dewan Kesenian Aceh (DKA) beberapa bulan lalu di Hotel Sultan, Banda Aceh.
Syeh Hermi mengatakan, peran Syeh Lah Geunta dalam mengembangkan seudati hingga ke dunia internasional sangat besar. Gelar maestro yang didapatnya pada tahun 2007 itu juga tidak sembarangan. “Gelar itu diberikan karena almarhum adalah Syeh Seudati yang mampu menarikan semua gerak tari seudati dari berbagai wilayah di Aceh. Semua gerak dipelajarinya, karena itu pula almarhum sering memakai kostum hitam saat tampil. Kostum berwarna hitam itu tidak semua penari bisa mengenakannya, ada aturannya,” kata Syeh Hermi.
Syeh Hermi menuturkan, semasa hidupnya almarhum mengajarkan seudati kepada siapapun, baik kalangan anak-anak hingga kalangan dewasa. Hermi juga menjelaskan sudah mentas bersama almarhum di beberapa even nasional dan internasional. “Kita setiap tahun pasti dapat undangan dari Jakarta untuk mementaskan seudati. Saya adalah salah seorang yang sangat dekat dengan beliau, banyak kisah saya bersama almarhum,” tutur Hermi dengan suara terbata-bata.
Dari informasi berbagai sumber yang juga dibenarkan oleh Syeh Hermi, Almarhum Syeh Lah Geunta sudah mempelajari seudati sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Almarhum mempelajari tarian tradisi Aceh itu secara otodidak dan mengagumi syeh-syeh seudati sebelumnya. Bahkan nama Syeh Lah Geunta disebut-sebut langsung diberikan oleh Gubernur Aceh, Ali Hasymi saat ia mulai sering menampilkan tari Seudati ketika masa mudanya.
Namun Syeh Lah Geunta bukanlah artis kondang, ia hanya penggiat kesenian Aceh yang dengan kegigihannya sudah tampil di mana-mana dan tetap melestarikan budaya Aceh. Kini Syeh Lah Geunta sudah tiada, tentunya kita berharap akan ada lagi Syeh Lah Geunta lainnya yang akan melentikkan jari, memukul dada, dan menghentakkan kaki di panggung-panggung hiburan lokal, nasional, hingga internasional. Semoga.(suburdani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/syeh-lah-geunta_20150621_234505.jpg)