Citizen Reporter
Ketika Wanita-wanita Jepang Memeluk Islam
SALAH satu alasan saya memilih Jepang untuk melanjutkan kuliah adalah karena Jepang sekarang lebih ramah terhadap
OLEH HERU SYAH PUTRA, Pegawai PKP2A IV Lembaga Administrasi Negara, Penerima Beasiswa SPIRIT di Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS), melaporkan dari Tokyo
SALAH satu alasan saya memilih Jepang untuk melanjutkan kuliah adalah karena Jepang sekarang lebih ramah terhadap muslim. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya jumlah masjid/mushala, restoran halal, dan toko produk halal, serta tak ada larangan atau diskriminasi tertentu terhadap muslim. Yang tak kalah pentingnya adalah semakin banyak warga Jepang, terutama kaum wanitanya, yang memeluk Islam.
Inilah jawabannya mengapa belakangan ini saya menjumpai banyak sekali muslim dan muslimah di Jepang. Selama studi di sini saya juga bertemu dengan beberapa muslim Indonesia, baik yang berstatus mahasiswa maupun pekerja.
Di Masjid Tokyo atau Tokyo Camii yang dikelola oleh saudara kita seiman dari Turki, saya juga menjumpai banyak muslim Jepang berkumpul. Awalnya, di pekarangan masjid, kemudian di dalam masjid ketika jadwal shalat tiba. Setelah shalat, mereka biasanya bergerak di basement masjid, menyantap hidangan yang disediakan.
Walaupun rasa masakan Turki sangat berbeda dengan masakan Jepang, tapa saya tak temukan makanan sisa di piring warga Jepang. Salah satu kebudayaan Jepang adalah menghormati makanan yang ditawarkan atau disajikan oleh orang lain. Jadi, jangan heran jika menjumpai teman Jepang Anda yang terus menerima dan makan setiap makanan yang Anda tawarkan. Bisa jadi bukan berarti mereka suka sekali pada makanan tersebut, tetapi sangatlah tidak hormat bagi orang Jepang menolak tawaran makanan dari seseorang.
Hal menarik lainnya yang saya jumpai adalah peringatan di setiap meja makan dalam tiga bahasa, termasuk bahasa Indonesia yang mengharuskan kita untuk menghabiskan makanan yang telah dihidang. Kenapa ada tulisan dalam bahasa Indonesia? Mungkin jumlah warga Indonesia yang datang ke masjid ini banyak, termasuk saya, seperti pada puasa Ramadhan yang lalu.
Saya tinggal di Misato, Saitama. Dengan demikian, harus menempuh perjalanan selama dua jam dan transit satu kali naik kereta api untuk sampai ke masjid ini.
Tidak hanya muslim Jepang, saya juga melihat komunitas Bangladesh, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia di masjid yang dibangun tahun 1938 dan direnovasi secara besar-besaran pada tahun 2000 ini. Masjid Tokyo ini merupakan salah satu masjid terindah di Jepang.
Pemandangan yang sangat langka juga saya temukan di sini, yakni pria Jepang mengenakan peci dan memelihara jenggot atau wanita Jepang yang mengenakan jilbab/hijab.
Bahkan murid-murid salah satu SMU di Tokyo rutin mengunjungi masjid ini dalam rangka mengenal sejarah dan kebudayaan Islam. Saya juga menjumpai beberapa pemuda-pemudi Jepang yang datang hanya untuk sekadar selfie karena mereka mengagumi keindahan arsitektur dan kaligrafi di dalam masjid ini.
Pengalaman yang sangat menarik adalah pada saat saya menjumpai seorang muslim Indonesia yang beristrikan penduduk asli Jepang. Dia dengan senangnya menceritakan kemudahan dan tantangan menjalani hidup dengan wanita Jepang yang baru mengenal Islam sebelum proses ijab kabul.
Dari beliaulah saya mengetahui bahwa pernikahan menjadi pendorong warga Jepang untuk berpindah ke Islam. Kebanyakan mereka meninggalkan agama awalnya, Shinto. Di masjid ini memang saya jumpai banyak wanita Jepang yang bersuamikan muslim Turki atau Indonesia, walaupun terdapat juga seorang pria Jepang yang berisitrikan wanita Arab. Mudah-mudahan, Islam semakin bersinar dari Negeri Matahari Terbit ini. Salam hangat dari Tokyo.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/heru-syah-putra_20150721_090726.jpg)