Citizen Reporter

Berhari Raya di Manchester

IDUL Fitri merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam sedunia sebagai penanda simbolis berupa diraihnya

Berhari Raya di Manchester

OLEH FATMAWATI FADLI, Mahasiswi Program Master of Science (MSc)-Psychological Approaches to Health The University of Leeds, melaporkan dari Manchester, Inggris

IDUL Fitri merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam sedunia sebagai penanda simbolis berupa diraihnya kemenangan atas pengekangan hawa nafsu sebulan penuh di bulan suci Ramadhan. Momen hari raya ini biasanya dirayakan dengan bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga besar dan sanak saudara.

Namun, kisah Idul Fitri saya tahun ini memiliki nuansa yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Betapa tidak, selain tanpa adanya keluarga, Lebaran kali ini juga saya lewatkan di perantauan, Inggris, di mana mayoritas penduduknya bukan muslim, sehingga suasana Idul Fitri terasa agak sedikit kurang semarak dibandingkan saat saya merayakannya di Indonesia, apalagi di tanah kelahiran saya, Aceh.

Di negara ini, saya tak melihat pawai takbir keliling kota dan kemeriahan kembang api yang selalu mewarnai penyambutan hari raya. Apalagi gema takbir di masjid-masjid yang biasa gemuruh berkumandang di malam harinya. Kendati demikian, kondisi tersebut tak mengurangi esensi hari Raya Idul Fitri itu sendiri bagi diri saya. Justru hal ini menjadi tantangan tersendiri yang membuat saya lebih banyak bersyukur karena bisa merayakannya dengan umat muslim lain yang berbeda suku bangsa bahkan negara. Ditambah lagi dengan hangatnya suasana yang tercipta di antara sesama umat muslim di sini, sehingga rasa haru dan suka cita masih sangat terasa. Ucapan “Eid Mubarak” pun begitu semarak terdengar di mana-mana, baik di masjid ataupun saat berpapasan di jalan-jalan.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin berbagi cerita kepada para pembaca setia mengenai pengalaman saya merayakan Hari Raya Idul Fitri di Inggris. Saya dan beberapa orang teman asal Aceh yang juga menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabeth ini, memilih merayakan hari raya di Manchester, kota yang tak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Memang saat itu bukan kali pertama kami mengunjungi kota asal klub bola Manchester United ini, tetapi ada beberapa hal lain yang membuat saya dan teman-teman memutuskan untuk berkunjung dan menghabiskan hari raya di kota tersebut. Alasan rindu akan suasana kekeluargaan dan kebersamaan menjadi pemicu utama kami, selain karena kota ini juga dihuni oleh penduduk muslim yang jumlahnya terbilang lebih banyak dibandingkan kota-kota lain di Inggris.

Saat berada di Manchester, kami berkunjung ke rumah salah seorang mahasiswa Aceh yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di sebuah universitas ternama di Inggris. Bersama beliau dan keluarganya, kami akhirnya bisa mengurangi sedikit kesepian lantaran jauh dari keluarga dan mampu merasakan suasana Hari Raya Idul Fitri yang tak begitu jauh berbeda saat bersama keluarga di Indonesia. Di malam hari raya, kami mengisinya dengan makan bersama dan berbincang-bincang ringan tentang rencana pendidikan. Lalu diakhiri dengan persiapan menu makanan berupa ketupat, sate, dan bakso untuk disantap sebagai hidangan utama di hari raya.

Lokasi tempat tinggal teman saya ini berada di kawasan Cheetham Hill yang ramai dihuni oleh penduduk muslim asal Pakistan dan India, sehingga menjadikan masjid tidak begitu sulit untuk dijumpai. Cukup dengan berjalan kaki saja. Kala itu sebuah mesjid berlantai dua telah dipenuhi oleh jamaah yang ingin melaksanakan shalat Id. Shalat sunah dua rakaat di hari raya ini dilaksanakan dalam beberapa sesi karena ukuran masjid yang tak mampu menampung banyaknya jumlah jamaah yang hadir.

Usai shalat Id, tradisi makan ketupat bersama pun menjadi bagian yang tak terlewatkan. Selingan canda tawa menjadikan suasana hari itu terasa begitu hangat, seolah-olah saya lupa sedang berhari raya di rantau. Undangan halalbihalal dari salah seorang keluarga asal Indonesia yang telah lama menetap di Manchester pun menjadikan hari raya kali ini bergitu berkesan dan berwarna. Di sana saya berjumpa dengan banyak warga Indonesia yang sedang melanjutkan pendidikan, bekerja, dan bahkan sudah berdomisili tetap di Inggris.

Akhir perayaan hari Lebaran di Manchester pun kami sudahi dengan mengunjungi dua klub bola yang tentunya tak asing lagi bagi para penggemar sepak bola, yaitu Manchester City FC dan Manchester United FC. Tak lupa kami pun mengambil beberapa foto untuk mengabadikan kenangan di hari tersebut.

Sekian kisah yang dapat saya bagi dalam tulisan singkat kali ini, semoga bisa memberikan inspirasi kepada para pembaca. Ingatlah untuk selalu bersyukur di mana pun kita berada karena rahmat Allah itu sangat luas dan selalu mengalir kepada hamba-hamba-Nya dari sisi yang tak terduga-duga.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved