Refleksi 10 Tahun Damai Aceh

Cerita di Balik Perundingan GAM-RI di Helsinki

Putaran kedua perundingan mulai menyentuh subtansi. Kedua pihak membicarakan tentang Otonomi Khusus, Self Government, amnesti dan HAM.

Cerita di Balik Perundingan GAM-RI di Helsinki
FOTO/google
Ketua Juru Runding Pemerintah RI, Hamid Awaluddin dan Ketua Juru Runding GAM, Malik Mahmud bersalaman ditengah mediator perundingan Martti Ahtisaari seusai menandatangani MoU Helsinki, 15 Agustus 2005 di Helsinki Finlandia. 

"Tak terbilang lagi berapa kali gerangan saya menelpon Menko Polhukam Widodo AS dan tentunya Wapres. Keduanya minta kami bertahan dulu," ujar Hamid. Sementara JK dan Widodo sendiri tak henti berkonsultasi dengan Presiden SBY. Dalam puncak ketegangan lantaran perbedaan sikap soal partai politik lokal yang masih menggantung, Malik Mahmud dan Zaini Abdullah mengajak Hamid ke tepi kali.

“Tidak ada di antara kami yang bicara, kendati perjalanan menelusuri tepian kali sudah cukup jauh kami tempuh,” ujar Hamid. Untung saja, Farid Husein tiba-tiba muncul dari arah depan, dan memecahkan keheningan serta kebuntuan. “Saya ikuti Bapak-bapak dari tadi, siapa tahu ada yang tiba-tiba mau nyemplung ke sungai. Yang pasti, Pak Hamid harus dijaga baik-baik, karena dia tak bisa berenang,” kata Farid menggoda.

Sementara Malik Mahmud menggapit tangan Hamid dan mengatakan, “Kewajiban saya untuk selalu menjaga keselamatan Pak Hamid sebab kami amat membutuhkan beliau,” ujar Malik Mahmud.

Mendengar itu, Hamid pun kian optimis, perundingan bisa cair lagi. Seharian penuh memang mereka tidak berkomunikasi. Soal partai politik lokal ini, segalanya terasa membedah. Tiba-tiba seolah ada garis pembatas yang jelas di antara kedua belah pihak; Pemerintah dan GAM. Namun gamitan tangan Malik Mahmud hari itu, menghapus semua garis demarkasi itu.

“Pak Hamid tolonglah sekali lagi, berikanlah rakyat Aceh harapan. Kami telah melepaskan tuntutan kemerdekaan dan kami akan menghentikan perlawanan terhadap pemerintah. Tapi beri kami kendaraan khusus: partai politik lokal. Biar rakyat Aceh mengenang bahwa kita memberi martabat buat mereka. Tolonglah Pak Hamid, Saya ini sudah tua dan ingin melihat Aceh damai sebelum ajal saya diambil yang di atas sana,” kata Malik Mahmud. Ia menangis. Wajahnya memerah.

Zaini Abdullah memandang ke arah Hamid Awaluddin tanpa kedipan. Lantas Malik Mahmud menggamit lagi tangan Hamid Awaluddin, dan berkata, “Pak Hamid masih amat muda dibandingkan Saya. Mungkin Pak Hamid akan menyaksikan dan menikmati apa yang kita lakukan di sini. Orang Aceh akan mengerti dan tahu balas budi Pak Hamid,” kata Malik. Ketiganya pun melanjutkan perjalanan, menelusuri tepi kali. Farid Husein melambaikan tangan dari jauh. Akhirnya memang segala alasan dan ikhtiar untuk meyakinkan GAM agar tidak menuntut pendirian partai politik lokal di Aceh kandas.

MoU Helsinki yang ditandatangani kedua pihak pada 15 Agustus 2005, secara eksplisit membuka peluang untuk itu. Lalu DPR bersama Pemerintah pun mengesahkan UU No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang membuka pintu pendirian partai politik lokal di Aceh.

Begitulah. Ketika perundingan telah tuntas dengan gemilang, para juru runding RI dan GAM meninggalkan Mansion di Vantaa itu dengan kenangan yang tak pernah pupus; tentang kali dengan air yang mengalir jernih dan bening di belakang gedung tempat perundingan berlangsung. Hamparan salju, embun di rerumputan dan deretan pepohonan, kicuan burung, dan berbagai musim telah berlalu di tempat bersejarah itu, Kota Vantaa, Helsinki Finlandia. Semuanya seolah berpihak pada peruntungan ikhtiar mencapai damai.

Jutaan rakyat Aceh meneteskan air mata kala itu. Damai sudah bersemi. Rakyat Aceh menyambutnya penuh suka cita dan rasa syukur. Di warung kopi hingga Masjid Raya Baiturrahman, warga berjubel menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut. Kini damai Aceh telah menapaki usia 10 tahun, sebuah rentang waktu yang amat mahal jika Aceh kembali ke masa lalu. (Ansari Hasyim)

Penulis: Muslim Arsani
Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved