Damai Aceh
Ketika Kehangatan Menyapa para Aktor Damai
DOTO Zaini Abdullah tampak tersenyum sumringah. Tangannya menyalami erat beberapa lelaki berpenampilan necis
DOTO Zaini Abdullah tampak tersenyum sumringah. Tangannya menyalami erat beberapa lelaki berpenampilan necis. Dari raut wajahnya, mereka bukanlah sosok yang asing. Namun sudah pasti para lelaki ini adalah tamu penting yang dijamu Doto Zaini malam itu di Meuligoe Gubernur Aceh.
“Senang bisa bertemu. Ini momen paling bahagia (kita) bisa kembali berkumpul di sini,” kata Doto Zaini. Hangat dan akrab.
Begitulah suasana yang terasa di tengah pertemuan itu. Terlebih saat Doto mempersilakan Pieter Feith menuju ruang restoran Pendapa. Pieter Feith adalah satu di antara tamu istimewa itu.
Di kancah penyelesaian konflik Aceh pasca MoU Helsinki, Pieter bukanlah sosok lelaki asing. Ia adalah Ketua Aceh Monitoring Mission (AAM), sebuah lembaga independen yang bertugas mengawal proses damai Aceh pada September 2005-Desember 2006.
Bagi Doto Zaini, Malik Mahmud, Nur Djuli dan beberapa petinggi GAM lainnya, bertemu Pieter Feith ibarat seperti sebuah reuni teman lama dengan segudang cerita.
Selasa (11/8) lalu, lelaki asal Belanda ini mendapat kesempatan istimewa kembali menjejakkan kakinya di Bumi Tanah Rencong.
Istimewanya, ia hadir setelah perdamaian Aceh melintasi waktu 10 tahun sejak Pemerintah RI-GAM menandatangani MoU Helsinki, 15 Agustus 2005. Selain Pieter, pada pertemuan bertajuk ‘Simposium Internasional Perdamaian Aceh’ yang diprakarsai Aceh Peace Forum ini juga juga tampak hadir beberapa tokoh dan aktivis perdamaian lainnya.
Di antaranya Wali Nanggroe Malik Mahmud Al- Haytar (mantan Ketua Juru Runding GAM ), mantan Menpan RB Azwar Abubakar, mantan Penasehat Politik Ketua AMM, Juha Christensen, anggota juru runding GAM Nur Djuli dan beberapa undangan lainnya.
Seperti sebuah reuni, kehadiran Pieter Feith dan lainnya mengingatkan kembali Aceh pada masa transisi pascadamai saat dimana AMM begitu berperan menengahi berbagai persoalan yang dihadapi Pemerintah RI dan GAM saat itu.
Namun semua itu adalah fase masa lalu. Bagi Doto Zaini, perdamaian Aceh saat ini adalah kenyataan yang telah memberi dampak besar bagi kehidupan rakyat, maupun dunia.
“Di mata dunia Aceh adalah miniatur dan laboratoriun politik bagi seluruh wilayah konflik. Keberhasilan ini telah membuat banyak negara asing mengirimkan utusannya ke Aceh untuk belajar membangun perdamaian di wilayahnya,” kata Doto Zaini.
Rentang waktu yang telah beranjak 10 tahun, perdamaian Aceh dicapai dengan berbagai usaha dan perjuangan. Di antara banyak tokoh lainnya yang tidak dilupakan Doto Zaini adalah Martti Ahtisaari, bekas pemimpin Finlandia yang kharismatik.
Di bawah lembaga yang dipimpinnya Crisis Management Initiative (CMI), Martti Ahtisaari telah membawa kedua pihak sepakat meneken perjanjian damai di Helsinki.
Merasa terhormat
Penandatanganan MoU Helsinki ini membuka jalan baru bagi rakyat Aceh untuk hidup damai setelah 30 tahun lamanya bergumul dengan konflik. Secara khusus, Doto Zaini memberi apresiasi kepada Martti Ahtisaari atas peran aktifnya menjadi mediator perundingan GAM dan Pemerintah RI.
“Tidaklah berlebih jika atas semua keberhasilan ini membuat Martti Ahtisaari mendapat anugerah Nobel Perdamaian pada tahun 2008 lalu,” ujar mantan Menteri Luar Negeri GAM ini.
Perjanjian damai antara RI-GAM dilandasi atas niat untuk membawa perubahan bagi masyarakat Aceh. MoU Helsinki lahir karena cita-cita untuk kemajuan Aceh, dan melawan ketidakadilan.
Menurut Doto Zaini peringatan 10 tahun MoU Helsinki menjadi momentum untuk mengenang masa lalu, dan menyongsong masa depan. Masa lalu adalah cermin, masa depan adalah harapan. Kini hanya ada satu kata lagi yang dinanti rakyat setelah perdamaian, yaitu pembangunan.
“Tak ada perdamaian tanpa pembangunan,” ujar Doto Zaini yang pernah aktif sebagai dokter di sejumlah rumah sakit di Swedia (1982-2005).
Momentum ini tentu harus berlanjut. Cita-cita damai tidak boleh berhenti, meski banyak aral melintang di depan mata.
“Saya akui, belum semua janji perdamaian itu sudah terlaksana dengan mulus. Masih ada beberapa hal yang tersendat,” ujar Doto.
Namun tidaklah dapat dipungkiri, perdamaian yang telah menanjak 10 tahun ini telah membawa banyak perubahan besar bagi rakyat Aceh.
Mantan Ketua AMM Pieter Fieth juga ikut merasakan buah dari perdamaian Aceh setelah 10 tahun lalu ia bersama timnya terlibat langsung mengawal proses itu.
Menurut Pieter sebuah kesempatan istimewa ia dapat kembali ke Aceh melihat perkembangan damai dan pembangunan di Bumi Serambi Mekkah.
Bahkan lelaki asal Belanda itu juga merasa terharu dan bangga karena rakyat Aceh mampu merawat damai hingga direntang waktu 10 tahun ini.
“Perdamaian telah membawa harapan baru bagi masyarakat Aceh. Saya merasa amat terhormat berada dalam proses ini,” ujar Perwakilan Khusus Uni Eropa di Kosovo itu. (*)