Citizen Reporter

Shanghai yang Bikin Kangen

SENIN lalu, masih dalam bulan Syawal 1436 Hijriah, saya berkesempatan menuju Shanghai, Tiongkok, untuk kedua kalinya

Shanghai yang Bikin Kangen

KAHLIL MUCHTAR, Mahasiswa Program Doktoral di National Sun Yat-sen University (NSYSU), Taiwan, melaporkan dari Shanghai, Tiongkok

SENIN lalu, masih dalam bulan Syawal 1436 Hijriah, saya berkesempatan menuju Shanghai, Tiongkok, untuk kedua kalinya. Tujuan perjalanan saya kali ini adalah menghadiri rapat proyek (tengah tahun) yang diadakan perusahaan teknologi Qualcomm. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini memiliki beberapa kantor dan pusat penelitian di Asia. Salah satu yang terbesar adalah di Shanghai.

Saya bersama seorang profesor dari NSYSU Taiwan mendapatkan proyek di Shanghai dengan tema rekonstruksi objek 3D (tiga dimensi) yang diharapkan akan rampung akhir tahun ini.

Karena masih dalam suasana Idul Fitri, saya secara khusus mencari masjid untuk dikunjungi. Tahun lalu saya sudah mengunjungi dua masjid di sini, yaitu masjid bersejarah di Taman Yuyuan dan Masjid Huxi.

Kali ini saya menginap di sekitar Shanghai Pudong Software Park dan shalat di masjid megah tengah Kota Shanghai bernama Masjid Pudong. Untuk menuju tempat-tempat menarik di Shanghai tidaklah sulit, karena akses Metro Shanghai yang nyaman dan canggih mencakupi hampir seluruh wilayah Shanghai.

Dari lokasi hotel tempat mengingap, saya naik metro jalur 2 Stasiun Jinke Road, lalu ganti ke jalur 6 di Stasiun Century Avenue. Dari sana saya ambil arah ke Stasiun Yuanshen Stadium dan ke luar melalui pintu 4.

Persis di pintu 4 saya temui seorang muslimah berhijab penjual makanan halal. Karena baru pertama kali melewati wilayah ini, saya pun ingin memastikan alamat dengan bertanya kepadanya, “Assalamualaikum, qing wen qingzhensi zainali? (Saya mau tanya, masjid di mana?”) Ternyata jarak masjid tidaklah jauh, belok kanan dari pintu 4 dan berjalan sekitar 200 meter, saya sudah sampai ke masjid.

Riwayat masjid ini bermula tahun 1935. Dipimpin oleh seorang imam bernama Hong Changjin, masyarakat muslim di sekitar Jalan Dongchang menyewa sebuah rumah sebagai mushala. Tahun 1939, pembangunan Masjid Pudong dimulai dan akhirnya selesai tahun 1947. Tak selesai di situ, tercatat beberapa renovasi dilaksanakan dari tahun 1984 hingga dibuka kembali 1985. Akhirnya, masjid ini direlokasi ke area seluas 1.650 m2, tepatnya di Jalan Yuanshen hingga kini.

Setiap tahun, masjid ini ramai dikunjungi wisatawan muslim dari berbagai negara. Puncak kemeriahannya adalah di bulan Ramadhan, saat setiap harinya di sini dilaksanakan buka puasa bersama (iftar jama’i).

Cina daratan mengakui Islam sebagai agama resmi dengan jumlah populasi muslim sekitar 20 juta orang. Bahkan, pada uang kertas mereka dapat kita temui tulisan Arab yang secara tidak langsung mengakui eksistensi Islam.

Perjalanan tiga hari ke Shanghai pekan ini sangatlah berkesan bagi saya. Selain menghadiri rapat perusahaan, saya juga bisa kembali merasakan atmosfer Islam dan mempelajari bagaimana cara kota modern ini menyedot wisatawan dengan menyediakan moda transportasi yang canggih dan terjangkau.

Semoga kota-kota sarat sejarah di Indonesia, termasuk Tanah Rencong, makin berbenah untuk menarik wisatawan. Bukan untuk sekadar memperkenalkan Aceh, tapi juga pada saat yang sama sebagai bentuk dari syiar Islam yang sudah menjadi tonggak kemuliaan Aceh hingga hari ini.

Mengutip ucapan seorang penduduk asli di atas Boeing 737-800 beberapa detik sebelum kami mendarat, “Shanghai, woxiangni” (Shanghai, aku merindukamu). Kota yang menarik ini memang bikin kangen.

Saya berharap semoga saat kunjungan saya ketiga ke Shanghai nantinya bisa membawa serta keluarga kecil yang sudah tiga hari ini saya tinggalkan di Kota Kaohsiung, Taiwan. Semoga.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved