MTQ Provinsi ke 32
Peserta MTQ Abdya Keluhkan Pelayanan
Kafilah dari Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-32 tingkat Aceh
* Kadis DSI Abdya: Hanya Emosional Seorang Peserta
SUKA MAKMUE - Kafilah dari Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-32 tingkat Aceh di Kabupaten Nagan Raya mengeluhkan pelayanan di pemondokan yang diberikan panitia dari Abdya. Mereka mengeluh seperti soal pembatasan konsumsi makanan, air macet, tidak adanya tempat shalat, hingga tidak adanya ruang latihan para peserta yang tampil.
“Beda dengan (pelaksanaan MTQ Aceh) tahun lalu di Subulussalam. Kalau dalam hal makanan tidak dibatasi dan diawasi, kala ada peserta ingin nambah tidak masalah. Bahkan kalau ada peserta yang datang keluarga atau temannya pada saat jam makan, bisa langsung gabung. Tapi kalau di sini dibatasi dan diawasi oleh panitia dari Abdya,” kata seorang peserta yang tidak mau namanya disebutkan kepada Serambi, Senin (24/8).
Menurutnya, setiap peserta hanya diperbolehkan makan satu porsi untuk satu jadwal. Selain itu, panitia dari kabupaten juga tidak memperhatikan makanan para qari dan qariah yang tidak boleh makan makanan berminyak. “Kita sudah mengusulkan kepada panitia, tapi ya tidak ada perubahan juga,” imbuhnya.
Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Abdya selaku Ketua Kafilah kabupaten itu, Mukhtaruddin mengatakan keluhan itu hanya bentuk emosional seorang peserta yang sudah diketahui orangnya.
“Air sebenarnya lancar, kalaupun putus itu hanya dalam hitungan menit. Tidak ada dalam satu hari peserta kita tidak mandi. Mungkin karena kita ramai dan pemakaian air banyak, sehingga mungkin sempat terputus. Adanya kekurangan kita akui,” kata Mukhtaruddin ketika dikonfirmasi Serambi kemarin.
Didampingi pemilik rumah, Ridho, Mukhtaruddin mengatakan terkait makanan, sudah menjadi ketentuan panitia kabupaten yang menentukan dan disampaikan kepada pemilik rumah. Bagitupun, dia mengatakan tidak ada pembatasan pada saat makan. “Kita hanya menginggatkan, tidak ada pelarangan, karena kita ramai. Tidak ada pembatasan, kalaupun ada datang keluarga, kita juga makan secara bersama-sama,” ujarnya. (mz/edi)