Cerpen

Kesaksian Rumah Kosong

RUDI bukan satu-satunya pengguna narkoba yang tertangkap polisi pada saat penggerebekan di rumah

Tidak ada yang istimewa dengan gubuknya. Tapi, walau belum waktunya musim turun ke sawah, dia akan tetap ke sana untuk tidur siang.

Sebuah tas ransel kecoklatan tergantung di atap gubuk. Awalnya Rudi tidak mencurigai apapun, barangkali seorang petani meletakkan bekal makan siangnya. Dan itu adalah hal biasa. Tapi kemudian dia curiga, sebab itu bukan seperti tas biasa dan terlihat lebih baru dan bagus.

‘Hubungi nomor ini kalau kamu melihat tas ini’Rudi mengamati sebuah tulisan di atas kertas putih yang sengaja ditempel di ransel itu.

***

Sepeda motor Rudi meluncur kencang melewati perkebenun kelapa sawit, jalannya berbatu-batu dan berdebu. Rudi tidak mempedulikan bahwa laju sepeda motornya cukup berbahaya dan bisa saja membuatnya terlempar akibat jalan yang tidak rata.

“Halo, dimana kau, Rudi? Teman-teman sudah pada kumpul. Cuma kau yang belum sampai,” seseorang menelpon Rudi di tengah kencangnya laju sepeda motor. “Sebentar, aku sudah di jalan.Lima belas menit lagi aku akan sampai,” jawab Rudi dengan suara keras. Sama saja.Sekeras apapun ia bersuara, tidak cukup terdengar dengan baik oleh teman bicaranya itu.

Dikeluarkannya ponsel dari himpitan helem di pipinya kemudian memasukannya ke dalam saku celana. Sepeda motor itu terus meluncur, menyisakan debu tebal yang berterbangan. Beberapa pengguna sepeda motor lainnya menyumpahi Rudi seraya menutup mulut dan hidung mereka seadanya. Seorang ibu muda dengan bayinya mencoba berhenti menunggu agar gumpalan debu yang berterbangan lenyap.

Sekumpulan anak muda berkumpul di sebuah rumah kosong yang sudah ditinggal penghuninya beberapa tahun silam. Rumah semi permanen ituberada di pinggiran kota. Untuk sampai ke sana harus melalui gang kecil sepanjang 50 meter dan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Dulu, sebelum waduk dibanguan, untuk mencapai rumah itu bisa melalui jalur selatan, sekarang satu-satunya jalan melalui utara.

Rudi berjalan dengan langkah pasti dan terlihat santai. Setelah ia pastikan tidak orang yang mencurigainya dan tidak ada orang selain dirinya. Tikus-tikus got berlarian, jumlahnya mungkin enam atau tujuh ekor. Rudi melihat timbunan sampah, mungkin milik penghuni ruko sebelah yang telah dengan seenaknya mencampakannya ke gang itu.

Rudi membayangkan, kalau saja tikus sebesar itu memakan batang padinya di sawah, mungkin tidak sebiji padi pun yang tersisa. Apalagi dengan jumlah yang banyak seperti di sawah. Tuhan maha adil, batin Rudi. Kalau hal itu terjadi, seluruh penduduk negeri akan menderita kelaparan.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved