Cerpen

Kesaksian Rumah Kosong

RUDI bukan satu-satunya pengguna narkoba yang tertangkap polisi pada saat penggerebekan di rumah

“Cepat cari tempat persembunyian!”

Seseorang yang menelponnya tiba-tiba memutuskan hubungannya. Rudi tidak mengenal siapa si penelpon dan dia tidak mempedulikannya. Rudi kian gugup. Jantungnya berdetak kencang. Langkahnya yang sebelumnya tenang dan pasti, kini kelihatan goyah. Kemana ia hendak lari. Bangunan ruko tiga tingkat di sebelah kirinya tidak mungkin bisa dipanjat seketika tanpa ada tali.Apalagi bangunan itu tidak berjendela. Begitu juga dengan bangunan di sebelahnya.

Rudi mencoba mengamati sekelilingnya untuk mencari tempat persembunyian, tapi itu hayalan. Ia menunduk dan mengambil sepotong kayu barangkali dengan benda itu ia bisa menghantam kalau saja ada musuh yang mencoba menghajarnya, seketika beberapa ekor tikus raksasa juga berlarian.

Ia kembali mengamati sekelilingnya. Dengan cepat ia pun berbalik arah, lalu berlari secepat mungkin. Belum lagi ia sampai pada ujung gang, sekawanan polisi terlihat sedang siaga. Langkahnya pun terhenti, seperti pengendara mobil yang menekan pedal remnya mendadak. Jantungnya berdetak begitu kencangnya, napasnya kian tidak beraturan. Tidak perlu berhenti sejenak, ia pun langsung membalikkan arah dan kembali lari menuju rumah kosong itu.

Setibanya di ujung gang ia kembali mengamati rumah kosong itu dan sekelilingnya.Tidak satu orang pun ada di sana. Dengan waspada dia menuju rumah itu. Dia pikir, kalau saja si penelpon benar-benar menjebaknya.

Ia berhenti sebentar. Lalu duduk di atas rerumputan setelah memastikan kalau dirinya tidak akan terlihat oleh siapapun. Ia mencoba menghubungi nomor seseorang yang menelponnya tadi, tapi nomor itu tidak aktif.

Rudi gamang. Tidak menunggu lama, sambil merunduk dia menuju rumah kosong itu.Tidak seorang pun telihat. “Bangsat, di mana mereka?”

Rudi memasuki rumah itu. Beberapa perabotan rumah tangga masih tersisa, sofa di ruang tamu sudah mulai berlubang dikerat tikus. Ia duduk di sebuah sudut rumah yang tertutup lemari. Menurutnya ini tempat paling aman kalau saja polisi-polisi itu datang.

Setelah dipastikan sekelilingnya aman, dilepaskannya tas ransel titipan seseorang yang menelponnya. Sekali lagi sebelum tas itu dibuka, Rudi kembali mengamati sekelilingnya, memastikan tidak ada siapapun yang mengetahuinya bahkan tikus.

Pelan-pelan dibukanya resleting ransel itu, dari bagian yang paling kecil. Tiap kali ia menggerakkannya tiap kali itu pula dia mengamati sekeliling.

Aman, tidak ada apa-apa di sini. Walau dia sudah tahu benda apa di dalam tas itu, dia tidak berani membukanya segera.

Kembali ia mengamati sekelilingnya. Hari sudah semakin gelap, lantunan bacaan al-Quran kian lantang terdengar dari pelantam di mesjid, tidak terkecuali suara tikus-tikus raksasa yang mencericit laksana kanak-kanak bernyanyi.

Tangannya mulai cekatan membuka resleting tas itu.Kini ia tidak lagi mengamati sekelilingnya.Setelah setengah bagian utama tas itu terbuka lebar, dadanya kian berdegup kencang, terutama setelah dia meliat serbuk putih yang telah dikemas rapi.

Rudi terdiam, terhenyak, kini dadanya tidak hanya saja berdegup kencang, tapi seperti ada sebongkah batu yang menghimpitnya. Segerombolan polisi bersenjata lengkap melewati gang kecil itu, menelusuri seputaran taman rumah tak berpenghuni, moncong senjata mereka menyibak-nyibak semak-semak, memastikan bahwa tidak ada seorang punbersembunyi. Perlahan mereka mendekati rumah itu.

Rudi membisu. Peluh membanjiri baju hingga ujung kakinya. Tangannya menggenggam sepotong kayu. Dia berharap dapat membela dirinya kalau saja polisi-polisi itu menangkapnya.

Hari kian gelap, rumah itu tidak lagi mendapatkan cahaya. Matahari sudah tenggelam. Sesaat Rudi memandang masa depannya. Sepucuk bedil menghantam kepalanya, kemudian menghantam badannya, lehernya, dadanya. Rudi mencoba mempertahankan dirinya dengan sepotong kayu. Sekali lagi bedil menghantam kepalanya. Lalu dia kehilangan semua ingatannya.

Polisi-polisi itu lalu menyeret tubuh Rudi yang tak sadarkan diri melewati semak-semak. Tubuh Rudi basah disiram hujan deras. Ratusan tatapan mata penduduk kota menatapinya dengan sinis serta sumpah serapah. Samar-samar, mata Rudi sekilas melihat dua orang lain yang bernasib sama seperti dirinya. Tidak ada lagi dalam ingatannya sawah yang dilanda kekeringan berkepanjangan, tidak ada lagi kekesalan kepada tikus-tikus raksasa di selokan, dan tentang si penelpon itu.

Krueng Geukuh, 12 Agustus 2015

* Awaludin Arifin, alumnus Universitas Malikussaleh, jurusan Ilmu Komunikasi

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved