Kapal Tenggelam di Malaysia
Anggota DPR Aceh Kirim Nota Protes ke Malaysia
Saat ini masyarakat Aceh bertanya-tanya. Apakah yang terjebak di laut sana orang tua, anak, atau saudaranya. Ini yang belum ada kejelasan,"
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Amirullah
Laporan Rahmad Wiguna | Sumatera Utara
SERAMBINEWS.COM, MEDAN - Sikap tertutup Malaysia yang tidak mengizinkan dua kapal regu penolong Indonesia ikut melakukan misi kemanusian memancing reaksi anggota DPR Aceh. Surat protes pun langsung dilayangkan ke negeri jiran itu.
"Ini misi kemanusiaan. Pikirkan dulu nasib orang-orang yang di laut. Urusan administrasi perbatasan bisa menyusul," kata anggota DPRA Bardan Sahidi, Senin (7/9/2015).
Bardan mengaku tidak bisa menolerir sikap eksklusif Malasysia itu, karena kenyataannya tim yang mereka kerahkan saat ini belum mampu menyelesaikan misinya 100 persen.
"Sudah lima hari operasi pencarian dilakukan, belum semua korban ditemukan. Artinya apa, mereka memang butuh bantuan relawan," tambah Bardan.
Secara pribadi Bardan langsung mengirimkan nota protes ke pemerintah Malaysia melalui KBRI Kuala Lumpur. Ia berharap ada perubahan nyata dari protes ini, sehingga dua kapal tim SAR yang tertahan di perbatasan sejak lima hari lalu bisa masuk ke Malaysia.
Sebab bila izin ini tidak segera diterbitkan, politisi PKS ini khawatir ada kemarahan dunia internasional. Ia tak ingin kematian anak Suriah di pantai Turki terulang hingga mendapat kecaman luas. Kasus itu dinilainya akibat lambannya proses evakuasi.
Anggota Komisi A DPRA yang membidangi Hukum dan Pemerintahan ini juga mengajukan protes serupa ke Kementrian Dalam Negeri RI. Ia menilai pemerintah terlalu lamban merespon insiden ini, sehingga keakuratan data penumpang masih belum jelas.
"Saat ini masyarakat Aceh bertanya-tanya. Apakah yang terjebak di laut sana orang tua, anak, atau saudaranya. Ini yang belum ada kejelasan," tuturnya.
Tidak adanya izin dari pemerintah Malaysia membuat dua kapal tim SAR tertahan di perbatasan. Padahal kedua kapal itu sudah dikerahkan sejak hari pertama operasi dilaksanakan. Namun tanpa alasan jelas, kedua kapal ini terpaksa balik ke Indonesia.
KM Nakula yang mengangkut 17 awak sampai saat ini bersandar di Pelabuhan Panton, Tanjungbalai, Sumut dan KM 218 dari Kantor SAR Pekanbaru bersandar di Pelabuhan Dumai, Riau. (mad)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kapal-tenggelam_20150907_151737.jpg)