Selasa, 12 Mei 2026

Kapal Tenggelam di Malaysia

“Kak, Lon Woe Rot Likot Beuh”

BEGITULAH kira-kira ucapan terakhir Nurlaila binti Abdul Wahab (41) kepada kakak kandungnya Mariana

Tayang:
Editor: bakri
Keluarga mendampingi jenazah Nurlaila binti Abdul Wahab (41) korban kapal tenggelam untuk dibawa pulang ke kampung halaman.SERAMBI/BUDI FATRIA 

“Kak, lon euntuek malam woe poh siblah beuh. Insya Allah troh u Banda Aceh uroe Jumat atawa Sabtu. Lon woe rot ‘likot’. Nemeudoa Kak, lon rindu that. (Kak, nanti malam pukul sebelas saya berangkat pulang ya. Insya Allah kalau bukan Jumat atau Sabtu sudah tiba di Banda Aceh. Saya pulang lewat jalur ‘belakang’, mohon doa ya Kak, saya sangat rindu).”

BEGITULAH kira-kira ucapan terakhir Nurlaila binti Abdul Wahab (41) kepada kakak kandungnya Mariana (45) melalui saluran telepon pada Rabu, 2 September 2015, sebelum akhirnya Nurlaila ditemukan meningal oleh Agensi Penguatkuasa Maritim Malaysia (APMM) di perairan Sabak Bernam, Selangor, Malaysia, Kamis (3/9) dini hari.

Nurlaila, warga Desa Dham Pulo, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, adalah satu dari enam korban yang teridentifikasi sebagai warga Aceh dan ditemukan meninggal setelah musibah tenggelamnya kapal tongkang pengangkut tenaga kerja asal Indonesia yang sedang berlayar melalui jalur belakang (back street) menuju Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara.

Kemarin, Selasa (8/9) kakak kandung almarhumah Nurlaila, Mariana tak sanggup membendung rasa sedih saat Serambi mewawancarainya melalui telepon genggam. Suaranya tersedu dan kadang-kadang terdiam. Mariana pun larut dalam ratapannya saat menceritakan kapan terakhir ia berkomunikasi dengan anak keenam dari sepuluh bersaudara itu. “Terakhir saya komunikasi dengan dia (Nurlaila) hari Rabu, sebelum ia pulang. Katanya ia pulang dengan kapal lewat jalur belakang dan minta didoakan,” kata Mariana.

Selain memberitahukan akan segera pulang, hari itu almarhumah Nurlaila anak dari pasangan Abdul Wahab dan Aisyah itu juga mengungkapkan kerinduannya kepada keluarga. Terutama kepada empat orang anaknya dan keluarga besarnya di Desa Dham Pulo, Ingin Jaya, Aceh Besar.

Ia juga menyampaikan keinginannya untuk membangun “gubuk” kecil bagi anak-anaknya. Niatnya untuk membangun rumah, kata Mariana, sudah terbersit sejak lama saat almarhumah masih berada di negeri jiran.

“Kalau dia telepon sering kali dia katakan kepada saya sudah menyimpan sedikit uang untuk membangun rumah di belakang rumah yang kami duduki sekarang. Tapi apa boleh buat, niatnya itu takkan pernah terwujud lagi,” tukas Mariana dengan suara terisak.

Kepada Serambi, Mariana mengaku, adiknya berada di Malaysia sejak awal 2014. Ia berangkat dengan paspor resmi dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga nonmuslim. Selama bekerja, adiknya digaji 600 ringgit per bulan. Dari hasil jerih payah itu pula almarhumah tak pernah lupa menyisihkan rezekinya untuk empat buah hatinya di Aceh.

“Hampir setiap bulan dia selalu mengirimkan uang kepada saya untuk kebutuhan anak-anaknya. Tiap kali ditelepon ia selalu menanyakan kedaan kami dan dia juga selalu menceritakan keadaannya di sana,” kisah Mariana.

Tiba suatu saat, almarhumah menceritakan kejadian tak wajar yang dialaminya selama bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negeri jiran itu. Ternyata, almarhumah Nurlaila tak pernah diizinkan shalat di rumah oleh majikannya itu. “Katanya kalau lagi shalat didorong-dorong sama majikannya, pokoknya tak pernah diizinkan shalat,” kata Mariana.

Tak tahan dengan perlakuan itu, akhirnya almarhumah memilih pergi dari rumah majikan tersebut yang baru bekerja belum genap setahun. Malangnya, paspor milik adiknya itu ditahan oleh majikannya. Ia pun sempat terlunta-lunta selama tiga bulan sebelum akhirnya menemukan seorang teman yang mengarahkan almarhumah pulang ke Aceh melalui jalur belakang, jalur laut yang disebut-sebut sering dilalui pendatang tanpa izin (PATI), dan katanya sering terjadi kecelakaan kapal.

“Saat itulah dia bilang dia akan pulang melalui jalur belakang, karena dia sudah tak punya paspor, itu pun ditolong oleh temannya,” pungkas Mariana.

Kepergian almarhumah Nurlaila menyisakan selaksa kisah. Ia disebut-sebut memiliki sifat yang santun dan sangat sayang kepada keluarga dan anak-anaknya. Almarhumah juga meningalkan empat buah hatinya, yakni Nurul Aflah (22), Ujang Naspriadi (20), Putri Zulaiha (15), dan Reza Fahlevi (10).

Nurul Aflah, anak sulung dari Nurlaila yang diwawancarai Serambi kemarin mengatakan, ia bersama tiga adiknya sangat merasakan kehilangan. Pilu di hatinya terus menyeruak sejak mendengar kabar ibunya meninggal dalam tragedi nahas tersebut, apalagi sudah hampir setahun dirinya tak pernah bertatap muka dengan ibunda tercinta.

“Apa pun itu, kami tentunya harus ikhlas, bagaimanapun itu adalah kehendak Allah, bukan kehendak kita. Sekarang Nurul hanya bisa mengirimkan doa untuk mamak Nurul, itu saja, Bang,” ucap Nurul yang mengaku sudah menikah dan memiliki satu anak.

Nurul mengaku, ke depan belum tahu bagaimana harus mengurusi adik-adiknya. Namun, Nurul yakin Allah Swt akan selalu melindungi ia bersama tiga adiknya untuk meneruskan hidup. “Mama sudah pergi dan tak mungkin kembali lagi, hanya doa yang bisa kita panjatkan,” ucap Nurul lirih. (subur dani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved