Citizen Reporter
Cara Sudan Pertahankan Diri
SUDAN, tempat saya dan beberapa sahabat dari Aceh lainnya kini berdomisili, tidaklah seberuntung nanggroe kita
OLEH FAJRI BUSTAMI, alumnus Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry, Mahasiswa Magister The Holy Qur’an University and Islamic Science Ummudurman, melaporkan dari Sudan
SUDAN, tempat saya dan beberapa sahabat dari Aceh lainnya kini berdomisili, tidaklah seberuntung nanggroe kita, Aceh, juga Indonesia pada umumnya.
Sejak selatan Sudan memilih memisahkan diri dan merdeka dari Sudan induk, maka Sudan mendadak kehilangan kekayaan alam yang paling produktif dan paling menjanjikan yang pernah dimilikinya.
Kandungan minyak dan gas terbesar mengendap di selatan Sudan. Tapi wilayah itu hari ini sudah menjadi bagian dari negara Sudan Selatan.
Pun demikian, keadaan sulit ini (alam unproductive yang tersisa dan sanksi embargo yang masih menancap di pundak Sudan), tidak membuat Sudan harus bubar. Mereka masih punya cara untuk bertahan, karena memiliki satu sumber besar lainnya dan jauh lebih pasti, yaitu sumber daya manusia (SDM) yang mapan.
Sudan memiliki beberapa kampus bertaraf dunia, di mana setiap tahunnya mampu mengundang pelajar dari berbagai belahan dunia untuk mengunjungi negara di bawah pimpinan Umar Baasyir ini.
Dengan banyaknya kunjungan warga asing, maka dengan sendirinya pendapatan negara ini meningkat, perputaran ekonomi bergulir, bahkan dari sumber pengurusan visa. Lebih-lebih karena negara ini bisa dikatakan sebagai negara yang menerapkan prinsip “masuk bayar, ke luar pun bayar”. Artinya, Anda harus membayar visa ketika memasuki negara ini, juga harus mengurus dan membayar segala berkas kepulangan ketika hendak meninggalkan negara ini.
Hal ini berbanding terbalik dengan kita di Aceh hari ini. Aceh dianugerahi Allah sumber daya alam yang kaya, baik dari nabati, hewani, hingga minyak bumi yang berasal dari fosil, gas alam, emas, serta sederetan kandungan bumi yang melimpah. Namun, kehidupan rakyat Aceh masih layaknya sebuah daerah yang belum “merdeka”. Tahun ke tahun, seperti dikabarkan di Harian Serambi Indonesia edisi Rabu (16/9/2015) lalu, jumlah penduduk miskin di Aceh justru kian bertambah.
Nah, berkaca dari pengalaman rakyat Sudan untuk bertahan dan meningkatkan kualitas hidupnya, maka satu-satunya solusi untuk memperoleh kemerdekaan lahir dan batin adalah dengan ilmu pengetahuan. Majukanlah pendidikan Aceh, ciptakanlah ilmuwan yang agamis, maka insya Allah akan terwujudlah kejayaan Aceh. Insya Allah.
Sebab bagaimanapun, secara teori kekayaan manusia itu terdiri atas dua sumber, yakni internal dan eksternal. Kekayaan internal merupakan diri manusia itu sendiri yang telah diciptakan Allah dalam kondisi sebaik-baik bentuk. Sedangkan kekayaan eksternal adalah kekayaan alam yang melengkapi kehidupan manusia.
Dari kesempurnaan diri manusia, Allah telah anugerahkan fisik yang sempurna juga akal yang hebat. Dari alam, manusia akan memperoleh segala sesuatu yang terkandung padanya. Baik yang ada di permukaan bumi, dari aspek nabati dan hewani, juga yang tersembunyi di dalamnya, seperti minyak, gas alam, batu bara, emas, batu akik, dan lain sebagainya yang ada di perut bumi.
Namun demikian, tidak semua wilayah dan negara dikaruniai dua kekayaan tersebut sekaligus. Ada yang dianugerahi kekayaan internal, tapi tak dibarengi dengan kekayaan eksternal. Demikian pula sebaliknya, ada negara yang dianugerahi Allah berbagai kekayaan alam, tapi kualitas SDM yang dimilikinya lemah.
Berkaca dari kejayaan Sudan, bahkan Singapura yang sama-sama minim kekayaan sumber daya alamnya, tapi hebat kualitas SDM-nya, kita berharap Aceh pun akan mencapai zaman kegemilangannya kembali, seperti pada era Sultan Iskandar Muda.
Kapan itu? Jawabnya adalah ketika kita mampu menyelaraskan secara optimal peningkatan sumber daya manusia Aceh dengan pemanfaatan sumber daya alamnya yang didedikasikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Bukan hanya untuk segelintir orang atau hanya untuk mereka yang berada di lingkar kekuasaan saja.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com