Cerpen

Negeri yang Tenggelam

SIANG itu adalah hari yang menyengat ketika aku mendapati diriku di atas balok kayu seukuran semeter, tanpa sehelai pakaian

Tanpa menunggu lama, aku segera bertindak, menggapai tangan bermaksud menariknya ke atas balok. Oh, betapa terkejutnya aku menyaksikan perempuan itu tanpa tertutup oleh sehelai benang pun, tubuhnya polos telanjang, dadanya mencuat, menonjol. Namun, gapaian tangannya terlepas, dan aku urung menariknya.

“Tuan, tolonglah aku! Aku ingin hidup. Aku ingin pulang. Aku tidak ingin mati disini,” ia kembali mengiba seraya terbatuk-batuk dengan tubuh yang setengah mengapung.

“Tidak, maafkan aku,” sahutku. Aku berusaha menjauh.

Air matanya mengalir ketika aku merenggangkan balok kayuku darinya. Aku tidak ingin menambah dosa dengan duduk bersama mengapung dilaut ditemani seorang gadis telanjang, bukankah Tuhan sedang mengutuk dunia ini?

Seketika aku memutuskan tetap membiarkan saja ia terhanyut. Ia tampak pasrah, tidak berusaha lagi berenang mempertahankan hidupnya walau sejenak.Ia hanya menatap kosong kearahku, selanjutnya tubuhnya pun tenggelam perlahan ditelan laut. Ada perasaan tersiksa dalam batinku, rasa bersalah juga rasa takut semua mengaduk-menyerangku.

Aku merasa letih dan mual. Aku sendiri tidak tahu berada dimana sekarang, aku tidak tahu kemana negeri ini lenyap? Negeri ini telah lama berjalan terseok-seok dan pada akhirnya harus hilang karam.

Aku memalingkan wajahku untuk menghindar, dan seketika itu aku kembali terperanjat. Di sana, di lautan yang maha luas, aku kembali menyaksikan ribuan manusia sedang tenggelam,berjuang untuk hidup, dan meraung-raung minta tolong!

* Nasrullah Thaleb adalah Ketua Komunitas Sastra Lhokseumawe (KSL) yang sedang berjuang mengembangkan sastra di kampungnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved