Sofyan Ingin Eks GAM Bersatu Lagi
Tokoh pendiri Partai Nasional Aceh (PNA) yang juga mantan juru bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Sofyan Dawood
BANDA ACEH - Tokoh pendiri Partai Nasional Aceh (PNA) yang juga mantan juru bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Sofyan Dawood, menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan politik menjelang Pemilukada 2017 dalam pertemuannya dengan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, Kamis (1/10) malam.
Pertemuan itu hanyalah silaturahmi biasa sambil membahas kondisi Aceh terkini, terutama nasib para mantan kombatan GAM. Sofyan ingin suasana kembali seperti dulu, ketika para eks kombatan GAM bersatu, bersama-sama memikirkan masa depan Aceh yang lebih baik.
“Kita belum bicara agenda 2017. Yang kita bicarakan, bagaimana agar semua eks kombatan bersatu lagi, memperkuat barisan supaya jangan ada permasalahan (permusuhan) lagi,” kata Sofyan Dawood yang ditanyai ulang Serambi di sebuah warung kopi kawasan Banda Aceh, Jumat (2/10).
Tapi, kembali bersatu yang dimaksudkan Sofyan di sini bukanlah kembali ke Partai Aceh (PA), melainkan kembali sebagai sesama mantan eks kombatan. “Partai kita kesampingkan dulu, karena itu kendaraan politik. Kita bersatu kembali untuk menyamakan ide dan pemikiran. Jalannya mau bagaimana, itu terserah,” ucap mantan panglima GAM Wilayah Pasee ini.
Karena itu, lanjutnya, kepada tokoh-tokoh GAM yang ingin jadi gubernur ia persilakan untuk maju, cuma jangan sampai terjadi masalah di lapangan. Jangan ada konflik antara siapa pun, baik internal, kelompok, maupun umum. “Jangan sampai, hanya gara-gara naik jadi gubernur, di lapangan terjadi tumpah darah. Itu saya yang tidak mau,” imbuhnya.
Belum lagi menyangkut kesejateraan para mantan kombatan yang, menurut Sofyan Dawood, sangat menyedihkan. Melalui persatuan, dia harapkan, buah dari perdamaian Aceh bisa dinikmati merata oleh seluruh mantan kombatan, tidak hanya terpusat pada gubernur, bupati, dan anggota dewan.
“Masih banyak eks kombatan yang harus kita perhatikan. Ini perlu, agar ke depan jangan sampai timbul kriminalitas, seperti kasus Din Minimi. Mereka berhak menikmati hasil perdamaian, jangan hanya dinikmati satu atau dua orang saja,” tukas Sofyan.
Ia juga menegaskan bahwa pertemuan Kamis malam itu bukanlah pertemuan dirinya dengan PA, melainkan pertemuan secara pribadi dengan Mualem selaku mantan pimpinan GAM, dan sebagai Wakil Gubernur Aceh.
“Saya dengan Mualem seperti adik abang. Kita sudah bersama sejak masa perjuangan dulu, sebagai atasan dan bawahan. Kita juga sering sharing-sharing tentang kondisi Aceh,” terangnya.
Jadi, menurut Sofyan Dawood, tidak ada yang salah dari pertemuan itu, dan bukan sebagai pertanda bahwa partai yang dia dirikan, PNA, mengalami perpecahan. “Isu PNA pecah, itu omongan dari segelintir orang. PNA tidak pecah. Saya kan tokoh pendiri partai, kita kan nggak mau partai kita hancur,” ucapnya.
Dengan Irwandi Yusuf yang berniat kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh, ia juga mengaku tetap berhubungan baik. “Dengan Irwandi, menurut saya, tidak ada masalah. Komunikasi kami masih tetap baik,” ucapnya.
Begitupun Sofyan mengakui bahwa ia mendukung Ir Tarmizi A Karim MSc sebagai calon gubernur Aceh. Tetapi itu merupakan sikapnya secara pribadi, bukan atas nama partai.
Ia mendukung Tarmizi karena PNA tidak memenuhi syarat untuk mengusung calon. Demikian juga dengan Irwandi Yusuf. Menurut Sofyan, pilihannya untuk maju sebagai gubernur juga merupakan sikap pribadi, bukan partai.
Tapi Sofyan mengingatkan kalau proses politik itu masih panjang. Hingga 2017, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi.
Sementara itu, Syardani M Syarif alias Teungku Jamaika menilai pertemuan makan malam semeja antara Muzakir Manaf dengan Sofyan Dawood sebagai bentuk konsolidasi politik menjelang Pilkada 2017.
Mualem mengajak Sofyan Dawood kembali bergabung dalam satu barisan “perjuangan” disebabkan momentum pilkada mendatang. “Saya lihat pertemuan tersebut sebagai bentuk konsolidasi politik (jelang Pilkada 2017),” katanya kepada Serambi, Jumat (2/10) di Banda Aceh.
Acara makan malam di sebuah warung tomyam kawasan Peuniti, Banda Aceh, itu turut dihadiri petinggi eks kombatan, seperti Ayah Merin, Teungku Jamaika, Tarmizi Panyang, dan sejumlah petinggi lainnya.
Meski sudah lama tak terlihat bersama, Jamaika mengatakan hubungan komunikasi antara Mualem dan Sofyan Dawood sudah terjalin sejak tahun pertama kepemimpinan Zaini-Muzakir (Zikir) sebagai nakhoda Aceh. Hanya saja, komunikasi dan pertemuan Mualem dan Sofyan Dawood tidak pernah diketahui publik.
“Waktu saya masih menjabat ajudannya, Mualem pernah berbincang dengan saya dalam mobil menyangkut Sofyan Dawood. Mualem menanyakan pendapat saya tentang Sofyan Dawood terkait sesuatu hal. Itu terjadi pada 2013 saat masih setahun kepemimpinan Zikir,” katanya.
Namun, Jamaika tidak menjelaskan perihal yang dibicarakan secara empat mata tersebut. Tapi, katanya, keinginan Mualem merangkul kembali Sofyan Dawood untuk mempersatukan para petinggi mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berada di luar Partai Aceh pada Pilkada 2014 lalu.
Seperti diketahui, pada pilkada lalu Sofyan Dawood bersama Irwandi Yusuf mendirikan Partai Nasional Aceh (PNA). Dalam struktur PNA, tercantum sejumlah nama petinggi mantan kombatan, di antaranya Irwansyah, Muharram, Munawar Liza Zainal, dan Ayah Merin. Cuma, partai tersebut tak mampu meraih suara mayoritas.
Jamaika menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut, Mualem tidak membicarakan masalah pasangannya untuk maju sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022. “Tidak mengarah ke situ. Tapi Mualem hanya berkeinginan merangkul semua eks kombatan,” ujarnya.
Terkait calon pendamping Mualem pada pilkada mendatang, Jamaika belum mengetahui arah pilihan Mualem. Namun, dia mengaku sangat mendukung apabila Mualem dipasangkan dengan Sofyan Dawood atau dari partai nasional. Sebab, akan memudahkan menyatukan semua pihak tanpa memandang egosektoral.
“Tapi jika diambil dalam satu paket (dari Partai Aceh), maka tidak akan menambah pemilih. Tapi jika Mualem menggandeng Sofyan Dawood itu akan berbeda, sebab (Sofyan Dawood) orang di luar Partai Aceh. Berbicara GAM dulu siapa yang tidak kenal dengan Sofyan Dawood?” tukasnya.
Apabila PA dipaksakan satu paket, Jamaika secara pribadi mengaku tak setuju Mualem digandengkan dengan Abu Razak yang kini menjabat Wakil Ketua DPA PA karena berasal dari wilayah pantai utara.
Tapi Jamaika mengaku tidak keberatan jika Mualem dipasangkan dengan Abdullah Saleh (anggota DPRA dari Partai Aceh) karena berasal dari wilayah barat selatan Aceh. (yos/mz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sofyan-daud_20151003_085931.jpg)