Abrasi Pantai Pasie Aron Mengganas

Perubahan rupa bumi dengan bergesernya mulut muara (babah kuala) Krueng Ulim, Pidie Jaya (Pijay), makin mengganas

Abrasi Pantai Pasie Aron Mengganas
AKIBAT abrasi pantai Pasi Aron Kecamatan Jangkabuya, Pidie Jaya, pemukima penduduk berubah jadi sungai. Salah satu rumah warga yang kini juga nyaris ambruk. Foto direkam, Minggu (4/10).SERAMBI/ABDULLAH GANI 

MEUREUDU - Perubahan rupa bumi dengan bergesernya mulut muara (babah kuala) Krueng Ulim, Pidie Jaya (Pijay), makin mengganas hingga bergeser sejauh dua kilometer dari lokasi awal. Sejumlah pejabat dan anggota Pemkab Pijay, sudah sering meninjau lokasi ini, namun upaya penanggulangannya belum juga terlihat.

Saat ini, puluhan hektar lahan tambak di Gampong Jurong Tengoh, Kecamatan Jangkabuya, hilang tergerus abrasi yang terus meluas dibanding tahun sebelumnya. “Kondisi itu sudah berulang-ulang kami disampaikan kepada Pemkab Pijay. Tapi hingga sekarang belum juga ada tanda-tanda untuk ditangani,” kata Panglima Laot Lhok Pasie Aron, Khalidin, Minggu (4/10).

Padahal sejumlah pejabat termasuk Bupati Pijay, H Aiyub Abbas, juga sudah meninjau lokasi ini bersama camat dan dinas terkait. Namun persoalan ini belum juga diatasi. “Pejabat pemerintah hanya bisa tinjau-tinjau saja, tanpa ada realisasi. Sementara, abrasi terus meluas dan mengancam permukiman dan tambak yang menjadi sumber ekonomi warga,” kata Khalidin, Panglima Laot Pasie Aron.

Beberapa nelayan di lokasi itu menyebutkan, abrasi akibat tingginya debit air Krueng Ulim yang disebabkan perusakan hutan di hulu sungai, membuat posisi mulut kuala bergeser hingga 3 Km. “Kondisi ini mulai terjadi sejak tiga tahun lalu, dan terus meluas hingga menggerus lahan tambak warga. Padahal jika Pemkab Pijay menangani sejak awal, dampaknya mungkin tidak sampai separah ini,” ujar warga pemilik tambak di sekitar lokasi itu.

Menurutnya, lahan tambak yang kini terancam hilang ditelan air, yakni lahan milik Rusli, Nurdin, dan Usman. Mereka mendesak pemerintah segera turun tangan menangani persoalan ini.

Sebelumnya, beberapa rumah warga terpaksa dibongkar dan dipindahkan ke tempat yang jauh dari lokasi abrasi. Sebuah bangunan meunasah dan gudang milik Lembaga Penglima Laot juga telah ditelan ombak. Amatan Serambi, sebuah rumah permanen juga nyaris amblas ke sungai. Dengan kondisi seperti ini, seharusnya Pemkab yang telah memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) lebih serius mengantisipasi potensi bencana ini.

Wakil Ketua II DPRK Pidie Jaya, Ir Nazaruddin yang ditanyai Serambi, membenarkan bahwa tidak ada program yang diusul Pemkab untuk menganggulangi kondisi ini. Sementara, dari pihak DPRK juga tidak ada yang secara konkret mengajukan usul penanganannya. “Kami hanya bisa memantau perkembangan kondisi abrasi Krueng Ulim ini,” ujarnya.

Ia yang juga bagian dari Pemkab Pijay, mengaku tidak tahu, ada atau tidaknya dana yang disiapkan untuk penanggulangan abrasi itu dalam APBK-P tahun ini maupun APBK tahun mendatang.

Kenyataan bahwa eksekutif dan legislatif di kabupaten ini yang melakukan tindakan apa-apa untuk memerbaiki kondisi ini, sangat menyakitkan bagi para nelayan yang telah kehilangan tambak, maupun yang terpaksa pindah karena terancam abrasi.

Seperti diungkapkan Panglima Lhok Pasie Aron, Khalidin, pejabat hanya tinjau-tinjau saja, tanpa mampu berbuat lebih realistis bagi rakyatnya.(ag)

Tags
abrasi
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved