Breaking News:

Singkil Diambang Konflik SARA

Desakan penertiban gereja di Aceh Singkil terus bergulir. Sejumlah warga mendesak agar Pemerintah Aceh turun

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI

* Pemerintah Aceh Didesak Turun Tangan

SINGKIL - Desakan penertiban gereja di Aceh Singkil terus bergulir. Sejumlah warga mendesak agar Pemerintah Aceh turun tangan mencari solusi untuk menghindari terjadinya konflik suku, ras dan agama (SARA) di wilayah itu. “Kami mendesak tim provinsi segera datang, karena Pemkab Aceh Singkil belum bertindak. Kalau ini dibiarkan sangat berbahaya, bisa terjadi pertumpahan darah,” kata Warman salah satu tokoh pemuda kepada Serambi, Minggu (11/10).

Seperti diketahui dalam unjuk rasa di halaman kantor bupati awal pekan lalu, Pemuda Peduli Islam (PPI) Aceh Singkil memberi batas waktu sampai Selasa 13 Oktober 2015 Pemkab harus menertibkan sejumlah bangunan gereja yang tidak berizin. Menurut Warman, ancaman itu harus ditanggapi serius. Sebab menurut informasi pada Sabtu 10 Oktober, sekitar pukul 13.00 WIB, perwakilan pemuda dan imam masjid serta beberapa tokoh dari seluruh Aceh Singkil telah menggelar pertemuan tertutup di Masjid Al Mukhlisin, Desa Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan..

Pertemuan yang mendapat penjagaan ketat dari warga itu, menyepakati jika sampai Selasa (13/10) Pemkab tidak menertibkan gereja tak berizin tersebut, maka massa akan membongkar sendiri. Sumber Serambi lainnya menyebutkan karena alotnya pertemuan, para peserta tidak diperkenankan menghidupkan telepon seluler. “Jika sampai Selasa tidak juga ada tindakan, maka masa yang akan membongkar gereja,” kata sumber Serambi yang ikut dalam pertemuan.

Selain itu dalam beberapa hari belakangan, muncul pesan singkat berantai yang mengajak warga melakukan pembongkaran gereja dengan titik kumpul di Simpang Tugu, Simpang Kanan Selasa hari ini. Massa juga diminta datang melengkapi diri dengan senjata tajam. Pemandangan ini menurut sejumlah pihak akan kembali membawa Aceh Singkil dalam pusaran konflik suku, ras dan agama (SARA).

Sekedar catatan, Aceh Singkil pernah didera konflik agama pada tahun 1979. Pemicunya adalah masalah bangunan rumah ibadah kaum nasrani. Sebagai kesepakatan perdamaian untuk mengahiri konflik, umat Islam dan tokoh agama nasrani menyepakati di daerah itu hanya diizinkan satu gereja dan empat undung-undung. Perjanjian tersebut kemudian diperbaharui tahun 2001. Namun sejak tiga tahun terakhir, umat islam berkali-kali melakukan protes karena pembangunan gereja bertambah dari kesepakatan. Puncaknya Selasa (6/10) lalu, massa yang menamakan diri Pemuda Peduli Islam (PPI) Aceh Singkil menggelar unjuk rasa di halaman kantor bupati. (de)

Tags
singkil
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved