Penjual Sayur Blokir Jalan
Puluhan pedagang sayur menggelar aksi protes kepada Pemerintah Kota Subulussalam
* Protes Relokasi Pasar
SUBULUSSALAM - Puluhan pedagang sayur menggelar aksi protes kepada Pemerintah Kota Subulussalam, Kamis (22/10). Pantauan Serambi bentuk protes itu dilakukan pedagang dengan menggelar lapak di badan Jl Malikussaleh tepatnya depan bekas pasar ikan dan daging yang saat ini sedang dibongkar untuk dibangun permanen. Kehadiran lapak penjual sayur yang didominasi ibu-ibu membuat arus lalu lintas lumpuh total. Mereka membentangkan terpal plastik seadanya di atas aspal dan menjajakan kepada pembeli seperti tomat, buah nangka yang sudah busuk.
“Lihat ini sudah busuk, kami jual di sana (tempat relokasi) tidak laku, karena di sini (pasar lama) masih ada yang berjualan. Jadi pengunjung lebih memilih di sini dari pada ke sana jauh. Pemerintah kita sekarang tertidur makanya mereka tidak tau nasib rakyatnya, padahal kami berjualan ini bukan mencari kekayaan tapi buat makan, untuk mengisi perut kami yang sejengkal ini,” teriak seorang pedagang.
Menurut mereka pemblokiran itu terpaksa dilakukan karena kecewa kepada pemerintah yang dinilai pilih kasih dan tidak becus menertibkan pasar. Sebab, sebagian pedagang diperintahkan berjualan di pasar yang baru namun ada puluhan lainnya dibiarkan menetap di tepi Jl Malikussaleh. “Kenapa cuma kami yang diperintahkan masuk ke pasar, sementara yang lain ini dibiarkan di pinggir jalan, ini kan tidak adil,” kata Nur Aini Lembeng.
Menurut Nur Aini, dia sudah menuruti keputusan pemerintah yang merelokasi lapak pedagang di pasar baru dan berjualan di sana. Namun ia mengaku nyaris tidak ada barang yang laku. Penyebabnya, selain lokasi lapak tidak sesuai, masih banyak pula pedagang sayur dibiarkan bebas berjualan di tepi jalan. Sehingga, para konsumen lebih suka membeli dagangan atau sayuran di tepi jalan.
Selain mudah, pembeli juga tidak perlu masuk ke area yang becek. Para pedagang mendesak pemerintah berlaku adil dan tegas. Selina, pedagang sayur lainnya mengatatakan para pedagang seperti merasa dizalimi karena harus berjualan di lokasi penuh lumpur sementara ada beberapa yang lainnya malah dibiarkan di tepi jalan. Itupun, kata Selina, barang pedagang di bagian dalam tidak laku lantaran adanya lapak liar di luar pasar yakni di sepanjang Jl Malikussaleh sekitar sisi kiri Terminal Terpadu Subulussalam.
Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan, Telematikan dan Pariwisata (Dishubtelpar) Kota Subulussalam Aminullah saat ditemui di lokasi mengatakan pihaknya tidak berwenangan menertibkan pedagang karena merupakan tugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Tugas kami hanya menertibkan lalu lintas. Untuk soal pedagang seharusnya kewenangan Satpol PP tapi sudah saya hubungi tidak diangkat,” kata Aminullah kepada wartawan.
Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Kota Subulussalam Edy Sahputra mengingatkan pemerintah agar menuntaskan persoalan pedagang di pasar tradisional setempat. “Jangan sampai persoalan pedagang ditangani setelah jatuh korban,” kata Edy.
Dia sebutkan aksi protes pedagang sudah acap kali terjadi tapi terkesan diabaikan. Edy menuding Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) tidak menjalankan rekomendasi DPRK yang meminta setiap kebijakan relokasi harus melibatkan pedagang. “Ini harus segera disahuti dan diselesaikan dengan cepat, karena ada potensi konflik besar yang bakal terjadi apabila kondisi ini tetap dibiarkan,” kata Edy.
Hal senada juga disampaikan Ketua Serikat Pedagang Subulussalam (SP2S) Satria Tumangger. Menurut Satria, aksi protes ini dilakukan pedagang karena kecewa kepada pemerintah tidak menertibkan pedagang yang masih berjualan di pasar terminal. “Padahal hasil pertemuan dengan pihak dewan tiga hari lalu mereka berjanji menindaklanjuti keluhan pedagang tapi sampai saat ini belum ditindaklanjuti. Jadi ada kesan pembiaran,” ujarnya. (lid)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/subulussalam-dalam-aksi-protes_20151023_093012.jpg)