Siswa Wira Bangsa Dianiaya Senior
Kasus kekerasan kembali terjadi di Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 4 Wira Bangsa Meulaboh
* Mata Ditutup, Dibariskan Tengah Malam
MEULABOH - Kasus kekerasan kembali terjadi di Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 4 Wira Bangsa Meulaboh, Aceh Barat. Kali ini menimpa siswa Ridha Firnanda (17) dianiaya kakak kelasnya, atau biasa disebut “senior”. Peristiwa itu terjadi Minggu (24/10) dini hari di asrama sekolah unggul di Aceh Barat itu.
Kasus tersebut dilaporkan orangtua siswa, Chaidir Cut (43) ke Polres Aceh Barat Minggu malam setelah mendapati korban dalam kondisi cedera serius di leher. Informasi yang diperoleh Serambi kasus itu terjadi berawal ketika korban dipanggil oleh sejumlah kakak senior bersama sejumlah siswa lain sekitar pukul 01.00 WIB Minggu dini hari. Tiba-tiba mereka diperintahkan berbaris dan mata ditutup. Saat itulah kakak senior menghajar para siswa berulang kali sehingga mengalami cedera.
Salah satu korban yang cedera serius adalah Ridha Firnanda (17). “Ketika kami tanya kenapa main pukul malah (kakak senior) berdalih kami dari kelas II tidak memberi hormat kepada siswa kelas III,” kata Ridha, siswa kelahiran 26 Oktober 1998 kepada Serambi didampingi orangtuanya Chaidir Cut kemarin. Dia menyebutkan pemukulan dilakukan beberapa siswa senior sehingga membuat siswa junior ketakutan. Peristiwa kekerasan yang sama juga pernah terjadi di sekolah itu pada Agustus 2014 silam. “Saya termasuk yang parah dipukul oleh senior pada malam itu. Padahal kami tidak pernah membuat kakak senior marah,” ujar Ridha.
Orangtua korban Chaidir Cut mengatakan, pihaknya melaporkan kasus itu kepada polisi karena sekolah terkesan lepas tangan ketika mempertanyakan penyelesaian kasus itu. Sikap bungkam pihak sekolah ini membuat Cahidir menempuh jalur hukum. Apalagi, katanya, kasus penganiayaan serupa juga pernah dialami Ridha sebelumnya dan terkesan pihak sekolah membiarkannya. “Padahal dunia pendidikan itu tidak main pukul. Kalau tidak diadukan kasus seperti ini akan terus terulang,” kata Chaidir sambil memperlihat laporan polisi bernomor BL/182/X/Aceh/Res Abar/SPKT.
Menurutnya tidak ada siswa yang mengaku melakukan kekerasan kepada korban sebelum kasus itu dilaporkan ke polisi. Chaidir menyebutkan pihak keluarga berharap kekerasan di sekolah unggul di Aceh Barat itu tidak terjadi lagi. “Anak saya mengalami luka di bagian leher. Sudah kami bawa berobat ke rumah sakit dan sejauh ini pihak sekolah juga tidak menjengguknya,” ungkapnya. Menurutnya pihak sekolah kurang melakukan pengawasan terhadap aktivitas para siswa. “Anak kami masuk ke sekolah untuk mendapat pendidikan. Tapi yang kami sesalkan kenapa ada kekerasan. Ini terjadi ketika sudah larut malam, anak saya dijemput di asrama sekolah oleh kakak seniornya dan dihajar. Kami meminta kasus ini diusut secara hukum,” katanya.
Kepala SMAN 4 Wira Bangsa Meulaboh, Mohd Ali SPd MSc mengatakan kasus kekerasan senior kepada junior di sekolah yang dipimpinnya tengah diselidiki secara internal. “Sedang kita dalami. Termasuk akan berkoordinasi dengan orangtua siswa,” katanya kepada wartawan kemarin.
Menurut Mohd Ali pihaknya akan mengambil sikap tegas atas pelanggaran tata tertib di sekolah dan asrama. “Dalam tata tertib di sekolah tidak dibenarkan main pukul dan lain sebagainya. Tentu ini akan diselidiki dulu,” katanya. Dia menyebutkan terhadap orangtua siswa sudah melaporkan kasus ini ke Polres, pihaknya akan memberikan penjelasan dan mengikuti proses yang berjalan. Namun ia tetap akan memberi pengarahan kepada siswa untuk mematuhi aturan yang berlaku, apalagi SMAN 4 Wira Bangsa merupakan sekolah unggul di Aceh Barat. (riz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chaidir-cut-memperlihat-anaknya_20151027_104327.jpg)