Gajah Teror Warga

Lima puluhan ekor gajah liar yang memasuki kawasan perkebunan warga di Dusun Blang Gadeng, Gampong Seumanah Jaya

Gajah Teror Warga
Ilustrasi 

* Di Seumanah Jaya, Ranto Peureulak

IDI - Lima puluhan ekor gajah liar yang memasuki kawasan perkebunan warga di Dusun Blang Gadeng, Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, sejak Jumat (6/11) pukul 03.30 WIB, hingga Sabtu (7/11) dilaporkan masih menguasai areal tersebut, dan sering mengamuk saat diusir warga.

“Warga telah berusaha mengusir gajah dengan menyalakan api obor, mercon, dan meriam bambu, agar gajah itu keluar dari perkebunan warga. Namun gerombolan hewan tersebut itu bertahan di lokasi ini,” ungkap Junaidi Ibrahim (32), Ketua Pemuda Dusun Blang Gadeng, kepada Serambi, Sabtu (7/11).

Petani di kawasan itu pun dilaporkan terus mengalami kerugian, akibat serangan gajah terhadap tanaman sawit, kakao, karet, pinang dan lainnya yang malah kini menjadi santapan hewan itu.

“Padahal saat ini kami sedang menantikan musim panen kakao yang menjadi sumber utama ekonomi warga. Tapi dengan serangan gajah ini, harapan kami hilang, dan kebutuhan hidup kami ikut terancam,” ungkap Zakaria petani Kakao yang mengalami disabilitas dan menggantungkan hidupnya dari hasi kebunnya.

Ia juga berharap, pemerintah termasuk BKSDA dan Anggota Dewan, segera mengambil sikap tegas, dan jangan cuma berwacana melontarkan omong kosong. Karena penderitaan warga semakin parah, seiring gangguan gajah yang tak kunjung reda. “Pemerintah harus secepatnya menangangi gangguan gajah liar ini agar kehidupan petani di pedalaman Aceh Timur tidak terancam miskin,” desak Zakaria.

Ketua Pemuda Dusun Blang Gadeng, Junaidi Ibrahim (32) mewakili warga Gampong Seumanah Jaya, mengatakan bawah solusi gangguan gajah ini adalah dengan membersihkan areal kebun sawit yang sering dijadikan sarang gajah. Namun pemerintah tak merespons, malah sibuk membicarakan proyek pembangunan Conservation Respons Unit (CRU), yang bernilai miliaran rupiah, tapi realisasinya nol hinga saat ini.

Junaidi menegaskan, Pemerintah Aceh maupun Pemkab Aceh Timur, harusnya menindak tegas perusahaan perkebunan sawit swasta yang bersebelahan dengan perkebunan warga di Gampong Seumanah Jaya.

Sebab, gerombolan gajah itu kerap datang dari areal perusahaan perkebunan sawit itu. Karena pengelola kebun membiarkan area kebunnya itu ditumbuhi semak belukar, pernah dibersihkan. Sehingga menjadi sarang gajah yang terus berkembang biak hingga saat ini jumlahnya 50-an ekor.

“Jika seandainya areal perkebunan sawit swasta itu dibersihkan, pasti gajah-gajah tak bersarang di areal itu, yang memudahkannya menyerang kebun warga di sini. Apalagi, gajah memang hewan yang menyukai tanaman sawit. Pemerintah seharusnya paham kondisi ini,” tegasnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved