Breaking News:

Merkuri dan Hidrokinon Berbahaya bagi Organ Tubuh

Kosmetika yang mengandung bahan berbahaya seperti hidrokinon dan merkuri, selain berdampak buruk

Editor: bakri

* Produk Herbal belum Tentu Aman

BANDA ACEH - Kosmetika yang mengandung bahan berbahaya seperti hidrokinon dan merkuri, selain berdampak buruk terhadap kulit manusia, juga berbahaya bagi seluruh organ tubuh pemakainya. Oleh karenanya, kosmetika yang mengandung hidrokinon dan merkuri sedapatnya dihindari.

Hal itu disampaikan Ketua Program Studi Doktor Matematika dan Aplikasi Sains Universitas Syiah Kuala (DMAS Unsyiah) Banda Aceh, Prof Dr rer nat Rinaldi Idroes, menanggapi liputan eksklusif Serambi berjudul Awas Ancaman Kosmetik Palsu yang dipublikasi, Senin (9/11).

Alumnus Doktor Wuerburg University, Jerman yang kini menjabat Ketua Pusat Studi Obat Herbal di Unsyiah ini mengatakan, selain dua bahan di atas biasanya kosmetik menggunakan rodamin yang juga berbahaya. Zat ini sering digunakan untuk pemerah pipi.

Ketiga bahan ini tidak hanya merusak kulit, tapi dalam konsentrasi tertentu juga membahayakan seluruh organ tubuh manusia. Efek penularannya pun bersifat racun (toxid) yang menetap lama di dalam tubuh.

Menurut Rinaldi, unsur merkuri pada kosmetik diserap melalui kulit, kemudian dialirkan melalui darah ke seluruh tubuh hingga mengendap dalam ginjal. Hal ini bisa mengakibatkan pemakainya mengalami gagal ginjal, apalagi digunakan dalam waktu lama. Selain itu juga mengganggu sistem saraf.

Merkuri yang berasal dari kosmetik, kata Rinaldi, secara umum menyebabkan iritasi kulit, bercak hitam, kanker darah dan hati. Ciri bedak seperti ini biasanya beraroma lebih menyengat dan encer dibandingkan yang asli.

Demikian juga dengan hidrokinon, selain digunakan sebagai pemutih juga untuk pewarna rambut, dan cat kuku. Zat ini bisa menyebabkan iritasi dan rusaknya pigmen kulit. Orang yang terpapar zat ini dalam kosentrasi tinggi dan waktu lama menyebabkan berbagai gangguan. Gejalanya banyak dan sukar terdeteksi seperti susah tidur, gangguan penglihatan, gangguan emosi, dan depresi.

“Untuk mendeteksi zat ini, petugas BBPOM harus cermat. Jangankan terhadap bahan yang jelas-jelas berbahaya seperti ketiga bahan tersebut, bahan kimia lain jika melampaui batas kesehatan juga berbahaya. Ini perlu terus diawasi karena seharusnya zat apa pun yang dicampur harus tertera pada kemasannya,” kata analis kimia ini.

Dijelaskan, bahan berbahaya ini bisa menetap dalam tubuh manusia hingga belasan tahun. Untuk mengecek seseorang yang terpapar bisa diketahui dengan menguji helai rambut ke laboratorium.

“Untuk meminamilisir pengaruhnya seseorang harus menerapkan pola hidup sehat. Makan banyak serat, sayuran, dan buah. Secara ilmu kesehatan bahan-bahan ini mampu melawan racun dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral juga sangat penting,” katanya.

Putra kelahiran Sigli, Pidie, 25 Agustus 1968 ini menambahkan, selain harus awas terhadap obat atau kosmetik yang mengandung kimiawi, obat yang berlabel herbal juga perlu diwaspadai. Menurutnya, produk berlabel herbal belum tentu alami. Ada produk yang mengklaim menggunakan bahan herbal tapi justru tetap menggunakan bahan pengawet. Bagi sebuah perusahaan ini penting dari sisi bisnis.

“Walau disebut-sebut obat herbal, kalau tetap menggunakan obat kimiawi seperti pengawet, maka produk itu tetap tak aman. Untuk itu, harus teliti terhadap kandungannya. Jenis barang seperti ini jika dipakai dalam waktu lama juga berpengaruh terhadap kesehatan secara keseluruhan,” katanya. (gun)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved