BKSDA: Gangguan Gajah Akibat Illegal Logging

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Aceh, Dedi, menyebutkan bahwa penyebab gajah turun ke perkebunan

BKSDA: Gangguan Gajah Akibat Illegal Logging
GAJAH jantan yang sakit kakinya mati di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Senin (20/4). 

* Juga Akibat Terganggunya Lintasan Gajah

IDI - Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Aceh, Dedi, menyebutkan bahwa penyebab gajah turun ke perkebunan penduduk di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Aceh Timur, dikarenakan maraknya penebangan liar di kawasan hutan lindung di Kabupaten Aceh Timur.

“Akibat maraknya illegal logging di kawasan hutan lindung, gangguan gajah yang terjadi di Aceh Timur pun semakin meningkat. Setiap hari, di hutan lindung Aceh Timur ini terdengar bunyi chainsaw. Sedangkan gajah sangat peka dengahn gangguan bunyi tersebut. Sehingga gajah liar itu keluar dari hutan dan masuk ke perkebunan warga,” ujar Dedi, kemarin.

Selain itu, pembukaan lahan-lahan perkebunan sawit yang tidak memerhatikan daerah lintasan gajah juga menjadi penyebab satwa ini sering mengamuk.

Menurut Dedi, di Kabupaten Aceh Timur, terdapat sekitar 200 ekor gajah liar yang tersebar di 8 titik rawan konflik satwa. Yaitu di Kecamatan Indra Makmu, Banda Alam, Ranto Peureulak, Peunaron, Serba Jadi, Ranto Seulamat, Birem Bayeun, dan Simpang Jernih.

Terkait rencana penggiringan kawanan gajah dari kawasan Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan ranto Peureulak ke areal Conservation Respon Unit (CRU) di Gampong Bunin, Kecamatan Serba Jadi, hingga kemarin belum juga dilakukan.

“Untuk penggiringan gajah ke Gampong Bunin masih dikoordinasikan dengan Kepala Dishutbun Aceh Timur, dan pihak perusahaan perkebunan sawit yang Hak Guna Usaha (HGU) juga jadi jalur lintasan gajah liar,” katanya.

Ia melaporkan, dari dua manajer perusahaan perkebunan sawit swasta, telah setuju dengan rencana ini. Namun kami sedang berkoordinasi dengan manajer dari dua perusahaan lagi. “Setelah ada kesepahaman, BKSDA akan menurunkan tim dari Saree untuk penggiringan gajah,” ujarnya, tanpa merincikan kapan rencana itu bisa dilaksanakan. Karena saat ini warga Seumanah Jaya masih terus menunggu janji BKSDA itu.

“Kendala yang kami hadapi, ada pihak perusahaan yang tidak setuju dengan rencana ini. Padahal mereka harusnya ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya. Karena itu ia memminta dukungan masyarakat dan semua pihak terkait rencana penggiringan gajah ini, sebagai solusi awal untuk meredam konflik satwa liar dengan manusia.

Menurut Dedi, lokasi CRU sengaja dibangun di Gampong Bunin, Kecamatan Serba Jadi, karena gajah liar juga membutuhkan fasilitas seperti sungai dan hutan lebat. Menurutnya, Gampong Bunin cukup strategis untuk pembangunan CRU, karena di lokasi itu terdapat sungai, dan kawasan penggembalaannya seluas 5.500 hektar.

“Untuk solusi jangka panjang, setelah gajah digiring ke lokasi pengembalaan di areal seluas 5.500 hektar di Gampong Bunin, selanjutnya areal itu akan dibuat parit untuk mencegah gajah keluar dari areal CRU,” ungkap Dedi.(c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved