Rabu, 8 April 2026

Berbagai Kalangan Sesalkan Penebangan "Pohon Kohler"

Berbagai kalangan di Aceh menyesalkan ditebangnya pohon geulumpang yang dulunya digelari Belanda sebagai Kohlerboom,

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Fatimah
SERAMBINEWS.COM/MNasir
Pohon Kohler di depan Mesjid Raya Baiturrahman yang ditebang karena perluasan Mesjid. 

Laporan Yarmen Dinamika I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Berbagai kalangan di Aceh menyesalkan ditebangnya pohon geulumpang yang dulunya digelari Belanda sebagai Kohlerboom, tempat tertembak dan tewasnya Mayor Jenderal Kohler saat menyerang Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh pada 14 April 1873.

Pohon itu, Kamis (19/11/2015) siang terpaksa ditebang karena terkena perluasan MRB.
Berikut komentar sejumlah tokoh, mulai dari Duta Perdamaian Aceh, akademisi, antropolog, mantan pejabat, dan mantan tokoh GAM yang dikutip Serambinews.com dari grup WhatsApp Diaspora Aceh, Kru Seumangat Aceh, Alumni FH '85, Green Black, dan beberapa grup WA lainnya.

Doni Ihsan Wijaya (Juara 1 Duta Damai Aceh): Sedih saya baca berita penebangan pohon bersejarah itu. Aneh, bukti sejarah kok ditebang ya? Padahal banyak makna dari pohon itu.

Al Chaidar (Antropolog Universitas Malikussaleh, Aceh Utara): Pemerintah Aceh sekarang mengidap dendrophobia, tak tahu menghargai sejarah. Belanda saja tidak menebang pohon itu dulunya. Malah mereka namakan Kohlerboom. Apa Pemerintah Aceh sekarang ka pungo (gila)? Mestinya tanamlah pohon meski kamu tahu besok akan kiamat. Itu inti ajaran Islam tentang pohon. Kalau ada yang nebang pohon, berarti dia itu ingkar sunah.

Adi Laweung (Juru Bicara Partai Aceh): Dalam perang pun dilarang menebang pohon sembarangan.

Munawar Liza Zainal (Mantan wali kota Banda Aceh); Hehe, untong mesjid mesjid hana dirobohkan dan digantoe ngon bangunan laen hehe.

Teuku Hadi (Mantan tokoh GAM di Eropa): Lawanlah itu, pertahankanlah pohon kita tu, saksi sejarah (pohon yang legender).

Said Muniruddin (Aktivis KAHMI Aceh): Mungkin pemerintah kita menganggap musyrik kalau banyak wisatawan yang datang menziarahi pohon tersebut.

Khairani Arifin (Dosen Fakultas Hukum Unsyiah): Ya ampuuuun, pohon bersejarah kok ditebang? Mana mungkin mereka dapat menghargai sejarah, kalau orientasinya hanya rupiah?

Cut Asmaul Husna (Aktivis Perempuan Aceh/Dosen UTU Meulaboh): Entahlah...kenapa pohon jadi sasaran? kemarin Pemerintah Aceh mencanangkan tanam 5 juta pohon. Tapi sekarang pohon bersejarah kok ditebang? Padahal pohon itu menyejukkan. Tempat teduhan itu hilang bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal umur dan manfaat pohon. Yang telanjur menebangnya pasti menyesal. (#)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved