Sabtu, 9 Mei 2026

'Salamualaikum' dan 'Kru Seumangat' Nominasi Saleum Aceh

Diskusi itu dipimpin budayawan Aceh, Barlian AW, dihadiri 20 peserta yang terdiri atas budayawan, sejarawan,

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Fatimah
TRIBUNNEWS.COM

Laporan Yarmen Dinamika I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Salamualaikum dan kru seumangat terpilih menjadi dua nominasi lafal atau ucapan salam (saleum) khas Aceh versi peserta diskusi pembahasan saleeum Aceh di aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Selasa (24/11/2015) pagi.

Diskusi itu dipimpin budayawan Aceh, Barlian AW, dihadiri 20 peserta yang terdiri atas budayawan, sejarawan, akademisi, wartawan, pelaku pariwisata, dan staf Disbudpar Aceh.

Amatan Serambinews.com, selama diskusi muncul beberapa usulan dari para peserta. Ada yang mengusulkan 'pue haba', 'beuseulamat', 'assalamu'alaikum', 'kru seumangat', dan 'salamualaikum' sebagai saleum Aceh. Tapi di akhir diskusi, peserta lebih dominan menyetujui salamualaikum dan kru seumangat sebagai saleum khas Aceh.

Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Prof Dr Misri A Muchsin yang hadir dalam diskusi itu menyatakan, Aceh identik dengan daerah bersyariat Islam. Oleh karenanya, salam orang Aceh pun mestilah yang mencerminkan kondisi sosioreligi masyarakat Aceh yang terkenal islami. Atas dasar itu, ia mengusulkan 'salamualaikum' sebagai salam khas Aceh. Diucap atau ditulis ejaannya sama, yakni salamualaikum.

Menurutnya, tak masalah menghilangkan kata as- dalam salamualaikum itu, karena kedudukan as- dalam kata Asslamualaikum, hanyalah sebagai isyarah. Seperti halnya As- dalam kata As-Singkily.

Penghilangan kata as- itu tak mengurangi atau mengubah maknanya, sepanjang ditulis dalam huruf Latin. Beda misalnya kalau ditulis dalam bahasa Arab, kata Prof Misri.
Sejauh yang dia amati, kaum muda Aceh pun dalam komunikasi di dunia maya sudah banyak yang menggunakan kata salamualaikum untuk menyapa netizen lainnya. "Jadi, salamualaikum itu sudah digunakan oleh sebagaian orang di Aceh. Tinggal kita adopsi saja kata ini sebagai salam khas orang Aceh. Orang Arab dan dunia pun sudah tahu artinya. Para netizen apalagi," kata Misri.

Banyak peserta sepakat dengan jalan pikiran Prof Misri, di samping dukungan terhadap frasa 'kru seumangat' pun lumayan tinggi.

Di akhir diskusi, Barlian AW menyatakan, untuk sementara ada dua kata yang dinominasikan sebagai salam khas Aceh oleh peserta diskusi. Yakni salamualaikum dan kru seumangat.
"Ini belum final, baru sebatas masukan dari peserta diskusi pembahasan saleum Aceh yang diprakarsai Disbudpar Aceh," kata Barlian AW.

Hasil diskusi ini, menurutnya, akan disampaikan secara resmi kepada Kepala Disbudpar Aceh dengan harapan akan disosialisasikan dan dibahas dalam diskusi yang lebih luas lingkupnya.

Setelah disepakati nantinya, salam itu akan dipopulerkan sebagai salam khas Aceh dalam menyapa lawan bicara, juga akan digunakan secara luas dalam dunia pariwisata dan forum-forum lainnya di Aceh.

Dalam diskusi itu mengemuka juga usulan salam penutup dalam bahasa Aceh. Sebagian peserta mengusulkan 'beujroh' dan 'beuseulamat' sebagai salam penutup dalam komunitas Aceh. Panitia mencatat usulan itu sebagai masukan. Semuanya akan didiskusikan lagi pada 30 November 2015.

Termasuk akan dirumuskan bagaimana idealnya bahasa tubuh (body language) saat mengucapkan salam pembuka dan salam penutup khas Aceh itu.

Sejauh ini ternyata belum ada kesepakatan seperti apa salam orang (ureung) Aceh yang standar ataupun yang ideal.

Beda dengan suku Batak yang sudah sejak lama menetapkan Horas sebagai salam khas mereka. Itu pula yang mendasari Kadisbudpar Aceh, Drs Reza Fahlevi MSi memprakarsai diskusi tersebut. (#)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved