Serambi Kids

Rani, Pebiola Tunggal di Lhokseumawe

Menurut salah seorang pemusik di Lhokseumawe, Asep, Rani Damayanti adalah satu-satunya pemain biola atau violinis (violinist)

Rani, Pebiola Tunggal di Lhokseumawe
Rani Damayanti

Menurut salah seorang pemusik di Lhokseumawe, Asep, Rani Damayanti adalah satu-satunya pemain biola atau violinis (violinist), di Lhokseumawe.

Sudah tentu Rani tidak asing lagi dengan istilah nada arco, pizzicato, vibrato, nada harmonik, harmonik buatan, harmonik glissando, atau cara menghasilkan suara legato, collé, ricochet, sautillé, martelé, spiccato, staccato, ya?

Yang jelas Rani sudah paham dan bisa memainkan nada harmoni dan nada melodi. Kalau tidak, mana mungkin dia diikutkan dalam konser Yamaha Musik Ecayo School, di Lampung bukan?

Bungsu dari empat bersaudara berorangtuakan Sahirin dan Murnila Devi ini, berlatih biola hampir lima tahun lalu, di Yamaha Musik Ecayo, Bandar Lampung. “Saya suka biola. Karena musik klasik. Saya memang suka nonton orkestra,” kata Rani.

Diawal-awal belajar, menurut Rani sangat sulit untuk memahami nada-nada biola. Karena jauh beda dengan gitar yang antara satu nada dengan nada lainnya ada pembatas. “Tapi di biola tidak ada fingering-nya (penanda jari). Sedikit saja bergesar kita tekan, maka suaranya akan fals. Disamping saat kita memainkan biola harus berkosentrasi penuh dengan jiwa yang tenang,” jelasnya.

Karena ketekunan Rani, dalam tempo empat bulan ia bisa menguasai biola. Lalu pada 2013 Rani pun ikut festival Yamaha Musik Ecayo di Bandar Lampung. Rani Juara I, di kelas A atau pemula. Pada 2014, di festival yang sama berkompetisi di kelas B, dan Rani Juara II.

Dua kemenangan itu menjadi modal semangat Rani untuk lebih maju. Dia ingin bisa berbiola seperti pebiola kelas dunia. “Saya ingin seperti David Garrett asal Jerman, mainnya sangat luar biasa,” ujarnya.

Walau sudah berprestasi, Rani yang selalu bernilai rapor antara angka delapan dan sembilan dan langganan beasiswa ini, masih terus memahirkan diri bermain biola, walaupun sudah pindah ke Lhokseumawe. Apalagi dari Bandar Lampung, abangnya yang bisa mencipta musik dengan piano, sering mengirim CD berisikan musik ciptaannya kepada Rani. Tentu saja Rani memanfaatkan musik tersebut dengan mengkolaborasikannya dengan musik biola.

Sarana belajar Rani yang lain adalah bergabung dengan grup keyboard asuhan Asep, selain rutin latihan sendiri di rumah.

Hal yang paling membahagiakan Rani adalah ketika dia bisa memainkan biolanya pada lagu yang dia suka, terutama lagu pop. Baginya lagu-lagu tersulit adalah jenis klasik.

Belakangan ini Rani sempat berpikir bahwa bila ada teman-teman yang minat pada musik biola, sebaiknya bisa latihan bersama. Menurut Rani, yang penting punya minat dan sabar. Untuk mengenal biola harus dilalui dengan mengetahui nada-nada di biola. Setelah itu jangan berpikir langsung bisa. “Biasanya banyak orang yang saat mau belajar kepingin langsung bisa. Padahal kita harus banyak sabar dan latihan rutin, “ kata Rani.

Apa obsesi Rani yang lain? Ingin tampil di even berkelas dan menjadi violinis hebat di Indonesia. Seperti Luluk Purwanto barangkali ya?(saiful bahri)

Prestasi Rani:

  •  Juara Umum II sejak kelas I sampai kelas III SMP Perintis 2 Bandar Lampung
  •  Tahun 2013, juara I kelas A Festival Biola Yamaha
  • Musik Ecaya Bandar Lampung
  •  Tahun 2014, Juara II Kelas B Festival Biola Yamaha Musik Ecayo.
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved