Citizen Reporter
Tijuana Meksiko, Basis Kartel Narkoba
TIJUANA adalah perbatasan antara Amerika Serikat (AS) dan Meksiko yang dikenal sebagai gerbang obat-obatan terlarang dan wisata seksual
ABDILLAH IMRON NASUTION, penerima beasiswa Research Scholar Oberlin College Ohio USA, melaporkan dari Meksiko
TIJUANA adalah perbatasan antara Amerika Serikat (AS) dan Meksiko yang dikenal sebagai gerbang obat-obatan terlarang dan wisata seksual. Tak heran jika wilayah ini terdata sebagai wilayah yang paling banyak menyumbangkan angka kematian di Meksiko. Rerata tujuh dari sembilan orang mati per harinya disebabkan overdosis, AIDS, dan mati karena dibunuh oleh kartel narkoba.
Wilayah ini juga diberi simbol merah sebagai basis narkoba, sekaligus wilayah yang diwaspadai ekstraketat oleh Pemerintah AS dan Meksiko.
Tijuana setiap harinya digunakan sebagai jalur transportasi narkoba. Bervariasi cara transportasi yang dilakukan oleh kartel untuk menyukseskan pengiriman narkoba dari Meksiko ke AS. Jalur darat merupakan jalur yang paling aman untuk mendistribusikan narkoba dari Meksiko ke Negeri Paman Sam itu. Penggunaan intercooler hingga mobil pribadi merupakan cara yang masih terus dilakukan kartel. Bahkan tidak jarang, mereka menyelundupkan narkoba yag dimasukkan ke dalam jasad-jasad orang yang sudah meninggal.
Selain cara biasa, pihak keamanan juga memergoki penyelundupan yang dilakukan melalui pesawat tanpa awak atau drone. Upaya ini telah dilakukan kartel narkoba secara intensif sejak dua tahun lalu yang pada upaya awalnya digunakan hanya untuk memonitoring jalur distribusi narkoba yang aman dan tepat hingga sampai tujuan. Hanya sebagian kecil drone yang dapat digagalkan oleh pihak keamanan, seperti baru-baru ini ditemukan drone yang memuat crystal meth terjatuh dan berhasil diamankan petugas.
Petugas keamanan menyadari, penggagalan penyelundupan melalui drone ini sangat sulit untuk diantisipasi. Kebanyakan penyelundupan yang gagal melalui drone lebih kepada faktor human error pengguna yang menyebabkan drone terjatuh dan terlacak. Bukan tak mungkin, di masa mendatang dengan sumber daya plus dana yang ada, kartel dapat mendistribusikan bukan hanya cystal meth, tapi juga jenis lain seperti kokain dan heroin yang sampai saat ini masih menggunakan jalur darat.
Pekerja seks komersial banyak dijumpai di wilayah ini. Perempuan-perempuan malang ini merupakan korban human trafficking yang berasal dari berbagai daerah miskin di Meksiko, bahkan beberapa negara seperti Ceko dan Turki. Pihak keamanan meyakini germo PSK ini masih dalam satu manajemen dengan kartel narkoba. Tak jarang, beberapa kasus dijumpai banyak perempuan yang diselundupkan ke AS melalui Tijuana. Ini melibatkan oknum-oknum keamanan yang dapat disuap ataupun diancam bunuh oleh kartel. Tak heran, mengapa harian seperti New York Times baru-baru ini menyebutkan, “Tak ada perang terhadap kartel di Tijuana.”
Kematian akibat AIDS meningkat tajam di Tijuana dalam dua tahun terakhir. Seperti yang telah disebutkan, kasus ini dipicu oleh tingginya frekuensi perdagangan seksual dan narkoba di daerah ini. Semakin miris saat diyakini bahwa pengurangan populasi tidak berdampak secara signifikan di Tijuana karena walaupun secara nyata angka kematian terus meningkat, tapi populasi di Tijuan terus bertambah. Penambahan ini jelas pada upaya penyelundupan manusia yang terus berlangsung. Ciri yang paling tampak bahwa pertambahan dan pengurangan penduduk tetap konstan pada jumlah populasi wanita dengan usia produktif.
Pemerintah Meksiko telah meningkatkan kerja sama dengan Pemerintah AS, lembaga kemanusiaan, dan interpol. Mereka sadar, upaya ini masih sangat jauh dapat dikatakan berhasil. Dua faktor yang mereka yakini akan memberi dampak dalam memerangi itu semua adalah mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kapasitas aparatur negaranya.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/abdillah-imron-nasution_20151129_164441.jpg)