Salam

Jadi Korban Medsos, Mau Salahkan Siapa?

Polisi menyerukan siapapun yang telah menjadi korban penipuan Cut Meutia (24) melalui

Polisi menyerukan siapapun yang telah menjadi korban penipuan Cut Meutia (24) melalui pembuatan akun palsu di Facebook diminta melapor ke pihak berwajib terdekat. Saat ini Cut Meutia telah duitahan pihak kepolisian karena membuat akun Facebook dengan menggunakan identitas seorang dokter muda berparas cantik di RSUZA Banda Aceh, bernama Ariza Farizca SKed bersama foto-foto wajah.

Menurut pihak kepolisian, ada beberapa orang yang telah menjadi korban penipuan oleh Cut Meutia melalui penggunaan akun atas nama sarjana kedokteran tadi. Makanya, guna mempercepat proses penyidikan, polisi berharap siapa saja yang telah menjadi korban moral maupun material supaya segera melapor.

“Kami meyakini ada korban lainnya yang tertipu. Karena itu, kami mengimbau warga yang merasa pernah menjadi korban segera melapor ke Polresta, tak perlu malu. Tentunya dengan menunjukkan bukti-bukti,” kata pejabat kepolisian di Banda Aceh.

Sebelumnya sudah terungkap tentang adanya sejumlah pejabat dan pengusaha diduga menjadi korban akun palsu FB yang dibuat Cut Meutia, wanita muda asal Batuphat Timur, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Menggunakan akun palsu itu, ia meminta uang dan berbagai bentuk bantuan lainnya dari sejumlah orang. Beberapa di antaranya memang pernah mengabulkan permintaan Cut Meutia yang menggunakan identitas Ariza Farizca SKed.

Oke, kita berharap kasus ini cepat selesai dan semoga dokter muda yang identitasnya sudah dicatut untuk kepentingan jahat, moralnya bisa segera diperbaiki. Dan, kepada siapapun kita harap dapat menggunakan kasus ini sebagai pelajaran penting dan menjadi bekal dalam pergaulan di dunia maya, khususnya jejaring sosial atau medsos.

Sebab, dalam banyak literatur dijelaskan bahwa medsos (Facebook, Twitter, Youtube, Telegram, dan banyak lainnnya) adalah sarana pergaulan sosial secara online (internet). Para penggunanya berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi, dan membangun jaringan. Di sini, komunikasi atau interaksi yang terjadi benar-benar sangat bebas dan cepat. Medsos berbeda sekali dengan media online dan media mainstream yang berita, kisah-kisah, peristiwa-peristiwa dipublikasikan oleh pihak yang jelas dan bertanggungjawab.

Para pakar mengingatkan, meski secara teknologi bersifat netral, tapi jejaring sosial bisa menjadi pisau bermata dua. Bisa dimanfaatkan dalam meningkatkan peran aktif masyarakat dalam proses demokrasi dan menawarkan berbagai layanan yang bersifat membangun, tetapi juga bisa bersifat merusak.

Karena berpotensi digunakan untuk kejahatan. Pengguna medsos yang masih awam menjadi sasaran empuk penjahat internet. Karena bersifat anonimous, hendaknya jangan percaya begitu saja dengan jenis kelamin maupun data-data tertentu dari orang yang ingin berteman dengan kita.

Data-data kita pun harus dijaga agar tidak semua dibuka dan dapat diakses semua orang. Ajakan orang yang baru dikenal hendaknya dipastikan dulu siapa orang yang mengajak, latar belakangnya, tujuannya dan hal-hal lainnya agar kita tidak menjadi korban kejahatan seperti penipuan maupun penculikan. Apalagi sekarang anak-anak sekolah pun sudah tergabung juga dalam media jejaring sosial, yang sesungguhnya tidak diperkenankan. Yang paling menakutkan adalah, terdapat sindikat perdagangan manusia dalam situs-situs jejaring sosial, yang siap mencari mangsanya. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved