Breaking News:

Citizen Reporter

Belajar Pembangunan Ekonomi dari Jepang

KEHADIRAN saya di Jepang kali ini merupakan bagian dari 25 staf Bappenas dan dosen beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia

Editor: hasyim
Belajar Pembangunan Ekonomi dari Jepang
MUHAMMAD NASIR

DR MUHAMMAD NASIR MA, Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah, peserta Training on Planning and Budgeting pada Graduate Research Institute for Policy Studies (GRIPS), Tokyo, melaporkan dari Jepang

KEHADIRAN saya di Jepang kali ini merupakan bagian dari 25 staf Bappenas dan dosen beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia yang ikut Training of Trainers (ToT) Planning and Budgeting yang diseleranggarakan Pusbindiklatren Bappenas bekerja sama dengan Graduate Research Institute for Policy Studies (GRIPS) Tokyo, Jepang.

Untuk mengikuti diklat ini, kami akan berada di Tokyo hingga medio Desember 2015 dengan pelatihan penuh (Senin-Sabtu) di Kampus GRIPS di Roppongi, Tokyo (daerah Pusat Pemerintahan Jepang). Cuaca yang sudah memasuki musim dingin--daun-daun mulai berguguran, dengan suhu rata-rata 12 derajat Celcius--menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Dengan kondisi cuaca dingin tersebut, peserta harus menyesuaikan pola makan dengan asupan protein dan lemak yang cukup. Tantangan muncul karena sulitnya mendapatkan makanan halal di Kota Tokyo, kecuali ada beberapa restoran India dan Turki (tapi jumlahnya sangat minim).

Pilihan Bappenas pada Institusi GRIPS sebagai universitas negeri yang fokus pada kebijakan publik dan juga pembangunan sangat tepat. Kampus ini terkenal di bidang kebijakan publik (public policies) dengan para profesor yang sangat berpengalaman di bidangnya, Sebagian dari mereka adalah mantan pejabat tinggi di kementerian di Jepang. Di Jepang, merupakan suatu kebanggaan bagi aparatur pemerintah ketika tak lagi menjadi pejabat, mereka mengabdikan diri pada kemajuan dunia pendidikan dengan membagi pengalaman kepada yang lain melalui aktivitas akademik.

Sebagai seorang pengamat ekonomi, perhatian saya lebih banyak tertuju pada materi pelatihan yang diberikan selama di Jepang tentang proses pembangunan dan sistem pemerintahan di Jepang. Saya tertarik melihat strategi Jepang dalam membangun ekonomi khususnya setelah Perang Dunia II. Jepang bangkit menjadi kelompok negara ekonomi maju dengan memberi kontribusi besar terhadap GDP dunia.

Kesuksesan Jepang dalam bidang pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang panjang di mana mereka meletakkan fondasi pada pembagunan industri setelah era Perang Dunia II. Proses industrialisasi di Jepang dilakukan bersamaan dengan pembangunan infastruktur secara masif. Dalam konsep pembangunan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia memiliki efek jangka panjang yang signifikan. Pembangunan sumber daya manusia diharapkan akan memiliki return on education investment puluhan tahun ke depan.

Pada awal-awal masa proses industrilisasi di Jepang, kebijakan teknologi ditujukan pada tiga hal, yaitu: 1) untuk peralihan dari imported technology menjadi self-developed technology, 2) imported technology dibarengi dengan peranan research and development, 3) kebijakan-kebijakan baru yang mendorong research and development.

Faktor-faktor yang memberi kontribusi dominan pada pembangunan ekonomi Jepang terdiri dari faktor internasional dan juga domestik. Adapun faktor-faktor internasional tersebut adalah: sistem perdagangan bebas yang sudah lama dianut, kebijakan penawaran energi yang murah dan stabil, penggunaan teknologi bagi industri baru, dan kebijakan kurs yang stabil. Sedangkan faktor-faktor domestik adalah: tingkat pendidikan yang tinggi, ketekunan dari masyarakatnya, serta sistem bea dan cukai yang bagus.

Dalam membangun ekonomi, dengan keterbatasan energi dan sumber daya mineral (kurang dari 2% dari GDP), Jepang mengandalkan kemajuan teknologi dan terus mengembangkan inovasi dalam membangun ekonominya. Kebijakan pembangunan industri dan pembangunan infrastruktur besar-besaran telah mengantarkan Jepang pada tingkat GDP dua kali lipat (doubled) pada era 1980-an.

Dilihat dari tahapan pembangunan ekonomi, Jepang telah mentransformasikan diri dari perananan sektor industri yang dominan menjadi dominasi sektor jasa-jasa dan sektor keuangan. Sektor pertanian sendiri tak begitu signifikan dan hanya menyumbang kurang dari 5% dalam GDP Jepang. Namun demikian, sektor pertanian masih mendapatkan proteksi dari pemerintah.

Belajar dari strategi pembangunan yang dilakukan Jepang puluhan tahun lalu dalam mengatasi ketertinggalan di pembangunan ekonomi, ada beberapa kebijakan yang perlu menjadi fokus Pemerintah Indonesia sekarang dan waktu mendatang, yaitu: penyediaan infrastuktur secara masif dan berkelanjutan, peningkatan kemajuan teknologi melalui inovasi yang terus menerus dilakukan, menjamin ketersediaan energi sebagai input penting pembangunan industialisasi dan jasa-jasa, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar (kurs) dalam yang mendukung penguatan ekonomi nasional.

Pembangunan besar-besaran dalam bidang infrastruktur dan pembangunan kemaritiman dan energi yang dilakukan Indonesia di era Presiden Jokowi sudah tepat dalam upaya mencapai kemajuan pembangunan dan kematangan ekonomi setidaknya lima atau sepuluh tahun ke depan. Sedangkan kemandirian energi dan stabilitas nilai masih menjadi tantangan bagi pembangunan Indonesia ke depan. 

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved