Opini

Antara Ibnu Khaldun dan Al-Baghdadi

KAWASAN Timur Tengah pada abad ke-14 dan Timur Tengah sekarang memiliki kemiripan

Kebaruan dalam buku yang lebih dikenal dengan Al-Mukaddimah itu antara lain berisi tentang al-umran albasyari (masyarakat manusia), dhahiratulkasb wal ma’asy (fenomena produksi dan moda ekonomi) (2001: 46-53), al-qaryah wal madinah wal buldan (desa, kota, dan negara-negara), dan al-Umam al-Mutawakhisyah wal Bidaiyyahwal Khadhariyyah (masyarakat liar, baduwi, dan berperadaban), serta konsep ashabiyyah atau nasionalisme (2001: 150-153).

Tak tanggung-tanggung ilmuwan sejarah sekaliber Arnold J Toynbee dalam Study of History (1956), satu referensi terpenting dalam studi sejarah, menyebut dan mengutip Ibnu Khaldun tak kurang dari 16 kali. Pengaruh Ibnu Khaldun terhadap banyak ilmuwan Barat sulit dibantah. Padahal jika diserupakan dengan masyarakat Timur Tengah sekarang, Ibnu Khaldun adalah korban konflik dan menjadi pengungsi yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain akibat kekacauan dan krisis kemanusiaan.

Tetapi, ia membuat begitu bangga penduduk setiap negeri yang pernah disinggahinya hingga sekarang baik itu di Tunisia (tempat lahirnya), Aljazair, Fas Maroko, Granada, Palestina, Damaskus, Hijaz (Mekkah-Madinah), dan Mesir, bahkan juga Yaman (Hadramaut) tempat moyangnya berasal yang setahu penulis tak pernah ia kunjungi. “Petilasan-petilasan”nya dirawat dan dihormati sebagai simbol kebanggaan. Pemikirannya terus digali dan dikembangkan hingga sekarang.

Kekuatan ekstremis
Sebaliknya, kekacauan Timur Tengah pada masa sekarang melahirkan Abu Bakar al-Baghdadi. Di tengah kekacauan di Irak pasca-agresi Amerika Serikat dan kekacauan di Suriah, al-Baghdadi berhasil menggalang kekuatan ekstremis dalam skala luas. Ia berhasil memanfaatkan situasi krisis kemanusiaan di wilayah itu untuk merekrut pengikut, menjarah sumber daya alam, dan membangun kekuatan teror yang mengerikan.

Ia telah berhasil menyempurnakan kekacauan di Timur Tengah untuk menjadi neraka yang sesungguhnya. Aksi sangat brutal dan sadis dilakukan secara sistematis dan dengan dukungan kekuatan besar dan legitimasi agama oleh para pengikutnya. Horor tak hanya mereka tebar di wilayah kekuasaannya dari Mosul di Irak Utara hingga Raqqa di Suriah Utara. Tetapi juga ke seluruh negeri di dunia. Celakanya, menurut Abdul Bari ‘Ithwan dalam bukunya al-Dawlah al-Islamiyyah: Judzur, tawkhkhusy wa al-Mustaqbal (2015), organisasi yang dipimpin al-Baghdadi telah benar-benar menjadi negara yang sangat modern dan kuat baik dalam kemampuan militer, logistik, manajemen “pemerintahan”, dan kemampuan tehnologi.

Jika Ibnu Khaldun mengirim ilmu dan peradaban yang bermanfaat luas untuk masyarakat Timur Tengah, Eropa, dan umat manusia sepanjang zaman maka al-Baghdadi menebar teror dan horor kepada seluruh umat manusia termasuk pada masyarakat Eropa. Ia juga berhasil menebar saling kebencian antarkelompok umat manusia dan -jika meninggal-mungkin akan mewariskan generasi-generasi yang terus menebarkan kekerasan dan teror.

Negara mana pun yang memiliki warga yang terlibat gerakannya akan siap siaga. Sebab ancaman kekerasan dan penyebaran ideologi ekstrem kepada generasi muda menjadi sangat nyata. Sungguh pelajaran berharga, dua situasi dan satu “rahim” kawasan yang “sama” melahirkan dua tokoh yang sama sekali berbeda termasuk dampaknya terhadap kehidupan dan kemanusiaan dalam jangka waktu yang panjang.

* Dr. Ibnu Burdah, M.A., pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam, Koordinator Program Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Email: ibnuburda@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved