Opini

‘Laptop’ Nabi Muhammad

BAGAIMANA membayangkan kalau Nabi Muhammad saw hidup pada masa sekarang

Oleh Ali Abubakar

BAGAIMANA membayangkan kalau Nabi Muhammad saw hidup pada masa sekarang? Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan ke luar kota, ia akan terjebak di bandara; pesawatnya ditunda karena bandara tujuan masih dipenuhi asap tebal. Jarak pandang tidak lebih 1 Km, tetapi masih ada harapan karena di tempat itu turun hujan sangat lebat. Ketebalan asap akan berkurang karena dihapus oleh air. Dengan sabar, ia menunggu informasi lanjutan dari pihak bandara.

Sambil duduk di ruang tunggu, Nabi memejamkan matanya. Cahaya keimanan memancar dari wajahnya yang lembut. Mata hatinya melanglang buana melintasi waktu dan batas geografis, mencari informasi sebab munculnya kabut asap tersebut. Ternyata ratusan hektare hutan dibakar oleh pengusaha besar sebagai jalan pintas membersihkan aneka pohon untuk dijadikan lahan tanaman industri.

Tiba-tiba turun wahyu Allah ke dalam kalbu Nabi saw: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut sebagai akibat dari perbuatan manusia sendiri.” (QS. ar-Rum: 31). Nabi memerintahkan sekretarisnya, agar menulis ayat yang baru turun itu. Dengan sigap, Zaid bin Tsabit memainkan jari di keyboard laptopnya; men-saving data tersebut dalam internal dan external hard disc. Ia tidak lupa mengirim ayat tersebut ke jejaring sosial. Setelah selesai, Zaid kembali ke layar iPad-nya, menekuni ayat-ayat yang sudah ia salin dari lisan Nabi.

Nabi sendiri lalu menulis pernyataan sikap tentang bencana kabut asap tersebut. Ia mengecam pembukaan lahan baru dengan cara membakar karena akan mengancam kehidupan semua makhluk. Ia meminta aparat keamanan agar menangkap semua pelaku pembakaran tersebut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Perbuatan mereka akan perbuatan haram yang dapat dihukum dengan hukuman mati (QS. al-Maidah: 33).

Pernyataan Nabi ini disebarkan ke seluruh dunia oleh televisi, radio, dan jaringan internet. Semua kepala negara memberikan respons positif; LSM lingkungan menjadi pendukung kuat; aparat keamanan bergerak cepat; regulasi tentang pembukaan lahan baru dikaji ulang. Alhasil, dalam waktu relatif singkat, kebakaran hutan dapat diatasi dan dipastikan tidak akan terjadi lagi.

Bayangan seperti itu bukan sebuah hal yang tidak mungkin karena Nabi Muhammad memang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (al-Anbiya: 107) sejak masa dia hidup sampai dunia berakhir. Artinya, tugas Nabi Muhammad (sekarang diwarisi ulama) bukan hanya menjelaskan posisi manusia sebagai ‘abdullah (pengabdi Allah) tetapi juga sebagai khalifatullah (pemakmur bumi). Tugasnya bukan hanya mengajak manusia beribadah dalam pengertian sempit, tetapi juga menjadi abdi dalam ranah yang luas.

Era informasi
Imajinasi bahwa Nabi membawa sekretaris dan laptop juga bukan hal mustahil karena dunia sekarang sudah memasuk era informasi, setelah sebelumnya melintasi zaman pertanian dan industri. Bahkan, menurut Stephen R Covey dalam The 8th Habbit, dunia sekarang sudah meninggalkan era informasi dan beralih ke masa wisdom yang didominasi oleh nilai (value) dan hati. Artinya, kehadiran dan kegiatan Nabi saw pasti terkait dengan zaman dan tempatnya. Cara penyampaian risalah, sarana yang digunakan, dan fokus perhatian tentu terkait dengan situasi dan kondisi masyarakat di mana ia diturunkan.

Nabi Muhammad diutus pada era pertanian, bahkan di wilayah yang pertaniannya bukan andalan utama, ia berhadapan dengan masyarakat yang khas dan pasti berbeda dengan masyarakat sekarang. Namun demikian, ajaran yang dibawa Nabi saw, yaitu Alquran, harus menjadi petunjuk (hudan) untuk umat sampai hari kiamat. Agar risalah Islam itu benar-benar dapat menjadi pedoman bagi masyarakat di setiap waktu dan tempat, akan selalu diperlukan penafsiran atau ijtihad baru.

Jika Alquran akan digunakan untuk digunakan sekarang, misalnya, maka perlu dipertimbangkan ciri-ciri masyarakat modern. Menurut sosiolog Soerjono Soekanto, di antara ciri-ciri tersebut: Pertama, bersikap terbuka terhadap pengalaman atau penemuan-penemuan baru, sehingga sikap apriori (purbasangka) terhindar dengan baik; Kedua, selalu siap menerima perubahan setelah menilai adanya kekurangan yang dihadapi pada saat itu; Ketiga, memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya, dan menyadari bahwa masalah tersebut masalahnya juga, dan; Keempat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved