Breaking News:

Opini

Siaga jika Gempa dan Tsunami Datang lagi

ADAKAH gempa dan tsunami 2004 memberikan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Aceh khususnya dan rakyat Indonesia umumnya

Oleh Teuku Dadek

ADAKAH gempa dan tsunami 2004 memberikan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Aceh khususnya dan rakyat Indonesia umumnya, terutama dalam menghadapi bencana serupa pada masa yang akan datang? Atau banyak masyarakat kita yang memandang bahwa gempa dan tsunami 2004 adalah satu musibah yang memang harus terjadi dengan segala risikonya, bukan sebagai satu bencana yang dapat kita perkecil dampaknya? Di Meulaboh dan daerah pesisir Aceh, misalnya, gempa dan tsunami bukan terjadi hanya satu dua kali tetapi gempa yang diiringi dengan tsunami menunjukan ada periodesasi yang teratur dan bakal terjadi lagi.

Hasil penelitian McKenzie di Meulaboh dengan mengambil beberapa sampel tanah di sekitar Samatiga dan Meulaboh, ditemukan bukti bahwa di seputar pantai barat Aceh pernah terjadi gempa dan tsunami dengan intensitas seperti yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu. Tsunami besar tersebut diperkirakan pernah terjadi paling tidak 600 tahun sekali dengan pengulangan yang rutin.

Dalam laporan penelitian Coastal progradation Patterns As A Potential Tool Inseismic Hazard Assessment menyimpulkan bahwa tsunami pernah terjadi beberapa kali di perairan Meulaboh (Aceh Barat) dengan perkiraan waktu antara tahun yang berbeda, sesuai dengan ditemukan deposit tanah bekas tsunami. Hasil penelitian ini semakin mendukung catatan-catatan gempa dalam manuskrip di Aceh, misalnya di bulan Sya’ban 1211 H (Februari 1797) gempa 8,4 SR di perairan Lautan Hindia tepatnya di Mentawai dan Padang menimbulkan tsunami yang melanda pesisir pantai barat Sumatera.

Hal itu tampaknya ikut mempengaruhi budaya masyarakat Aceh Barat khususnya Meulaboh. Kita memiliki cerita tentang ie beuna, kendatipun samar dan sudah jadi sejenis legenda namun idiom tentang ie beuna memang ada. Namun karena tidak terlembaga menjadi bagian budaya masyarakat kita, maka ia menjadi sebuah legenda. Sejak kecil saya, hidup dalam penceritaan masyarakat tentang ie beuna, yaitu sebuah gelombang yang besar seperti Smong dan tsunami, kosa kata Ie Beuna tersebut hanya menjadi legenda yang sederajat dengan cerita Pinokio yang hidungnya panjang karena berbohong.

Beda dengan masyarakat Simeulue, mereka berhasil melembagakan tsunami 1907 sebagai sebuah langkah kecil budaya yang berdampak besar bagi penyelamatan tsunami 2004. Smong atau tsunami adalah sebuah kata yang menunjukan naiknya air laut pascagempa. Intinya, smong lebih bermakna sebagai sebuah imbauan untuk menyelamatkan diri, sedangkan tsunami bermakna gelombang yang datang dari arah pelabuhan. Smong ini berhasil dilembagakan lewat tutur lisan baik melalui kesenian seperi Nandong dan Buai.

Smong bermakna imbauan ketika terjadi gempa menuju potensi tsunami, namun setelah itu smong sudah bermakna kejadian bencana beserta dengan prosesnya. Cerita smong ini melembaga menjadi bagian budaya masyarakat Simeulue. Ketika tsunami 2004 menerjang Aceh daratan, masyarakat Simeulue yang berada di Meulaboh dan beberapa daerah lain di Aceh daratan terbukti selamat. Ironisnya mereka disebut sebagai orang gila oleh masyarakat yang ada di daratan Sumatera.

 Belajar dari Jepang
Terkait soal bencana ini, kita bangsa Indonesia harus belajar banyak pada bangsa Jepang. Walau di era penderitaan akibat bencana yang sangat besar, budaya Jepang yang taat aturan dan disiplin tetap berlaku di sana. Bahkan yang luar biasa, sejumlah supermarket yang masih tetap buka justru menurunkan harga bahan makanannya. Bukan menaikkan dan mengambil untung. Sejumlah mesin penyedia makanan dan minuman otomatis malah dibuka secara gratis. “Rakyat bekerja sama untuk selamat semuanya,” kata sejumlah orang di sana.

Dalam catatan sampul manuskrip Tanoh Abee disebut al-zalzalah as-syadidah at-tsaniyah (gempa besar kedua kali), Kamis 9 Jumadil Akhir 1248 H/3 November 1832 M. Lima tahun kemudian (September 1837) pada periode Sultan Muhammad Syah (1824-1838), Belanda mencatat kembali gempa yang terjadi di Aceh dan epicenter di perairan barat Aceh. Di Abad yang sama, pada tahun 1861 terjadi gempa tektonik di Kota Singkil, menghancurkan infrastruktur Belanda yang dibangun pada 1852. Demikian, bisa jadi, tahun inilah yang dimaksud Pasir Karam oleh Zainuddin karena terjadi gempa dan smong berulang kali di perairan Aceh (Teuku Dadek dan Hermansyah, Meulaboh dalam Lintas Sejarah Aceh).

Masalah tsunami akan terjadi lagi atau tidak, tinggal menunggu waktu saja. Namun sejarah sudah cukup memberikan kenyataan bahwa tusnami pernah terjadi sebelunnya, di Simeulue semua orang tahu dengan menyebutnya smong, di Meulaboh mereka menyebutnya dengan ie Beuna. Di Meulaboh, Kantor Pos, Imigrasi, beberapa sekolah dan pusat perdagangan masih berdiri di tempat semula, waktulah yang akan memberikan jawaban apakah perlu dipindahkan atau tidak di masa yang akan datang.

Di Hilo, satu kota di Hawaii, Amerika Seerikat, tsunami terjadi hanya berselang 10 tahun. Awalnya mereka juga dihadapkan kepada diskusi akan memindahkan kota ke arah lebih dalam atau di tempat semula, akhirnya kota semula dibangun kembali, namun 10 tahun kemudian tsunami terjadi lagi dan akhirnya mereka memindahkan kota ke arah lebih jauh dari bibir pantai dan tempat semula hanya digunakan sebagai taman kota.

Dr Walter Dudley dari University of Hawaii menyatakan bahwa program kesadaran yang dijalankan belum tentu dapat meyakinkan masyarakat umum akan bahaya ombak tsunami. Di Hilo, Hawaii, bencana tsunami telah beberapa kali berlaku di kota yang sama.

Persiapan yang dilakukan cenderung sebuah program daripada menjadi bagian dari budaya. Lihatlah layout kota yang pernah dilanda tsunami. Lihatlah Banda Aceh, jalan-jalan voorbaden tidak menghambat evakuasi warga, ini pernah terjadi pada saat gempa berkekuatan 8 SR lebih pada 11 April 2011 lalu. Ketika itu, warga terpaksa memotong median permanen jalan karena mereka mengalami kesulitan dalam evakuasi diri dan kenderaannya. Sehingga median jalan Banda Aceh harus dipotong dan ditempatkan media plastik portable yang mudah diangkat dan dibuka saat evakuasi.

Lihat juga gedung-gedung vertikal untuk dimanfaatkan masyarakat tidak terawat dan kekurangan sosialisasi kepada masyarakat. Di Meulaboh, gedung evakuasi berbentuk toko dua lantai yang dibangun oleh NGO asing, pernah diminta agar diatasnya dapat dipagar dan dibangun bangunan lainnya sehingga dapat menghilangkan fungsi gedung penyelamatannya. Lihat juga sekolah siaga bencana yang cenderung menjadi kegiatan organisasi, bukan menjadi bagian dari kultur sekolah itu sendiri, simulasi mandiri sekolah sedikit sekali dilaksanakan.

 Dokumen harapan
Perencanaan yang sudah dibuat cenderung menjadi dokumen harapan yang jangankan untuk disimulasikan dibaca juga tidak, rencana kontijensi yang mengikat semua pihak harus melakukan apa tingga menjadi sebuah perencanaan, akibatnya saat terjadi banjir misalnya, semua pihak saling menyalahkan, berjalan sendiri-sendiri, organisasi yang punya komitmen dalam kebencanaan tidak diikat secara sistematis ke dalam ikatan yang terawat dan terpelihara lewat simulasi dan rapat koordinasi, tetapi justru bencana menyebabkan mereka berjalan sendiri-sendiri dengan memanfaatkan media untuk pencitraan.

Apa yang harus dilakukan untuk merawat ingatan tsunami dan gempa tersebut? Pertama, spirit of cultur not only program. Artinya jangan hanya menjadikan kegiatan pengurangan resiko bencana (Disaster Reduction Risk) sebagai kegiatan pemerntahan dan NGO saja tetapi harus menjadi semangat yang menjadi program menjadi budaya dalam masyarakat, ini hanya dapat dilakukan dengan mengintensifkan simulasi dan memantapkan sistem peringatan dini setiap waktu yang diperlukan untuk merawat ingatan masyarakat akan bencana jika terjadi.

Kedua, city with sign board, kota dengan papan-papan peringatan dan tugu-tugu peringatan. Jika anda ke Banda Aceh atau Meulaboh kita tidak pernah tahu akan batas dan ketinggian ombak laut saat tsunami 2004 lalu. Mestinya di sudut jalan dibangun simbol-simbol ini untuk megingatkan masyarakat, jarak laut dengan arah evakuasi harus jelas misalnya 7 km dari dari laut, wilayah aman saat tsunami 2004 misalnya. Banyak simbol-simbol yang bisa kita manfaatkan untuk merawat kepada ingatan tsunami tersebut.

Dan, ketiga, ilmuwan sebagai satu pemberi peringatan hendaknya secara berkala membuat konferensi apa yang potensial akan terjadi dengan potensi tsunami dan gempa di masa yang akan datang. Memberi peringatan akan kebijakan pembangunan pemerintah serta mengingatkan masyarakat akan sikap yang tidak berorientasi pada pengurangan risiko bencana. Siapkah kita menghadapi gempa dan tsunami yang akan datang?  

Teuku Dadek, PNS di lingkungan Pemkab Aceh Barat. Email: tadadek@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved