Minggu, 31 Mei 2026

Citizen Reporter

Cara Finlandia Siapkan Calon Guru

BAGAIMANA Finlandia mempersiapkan guru-guru mereka, merupakan pertanyaan yang menggantung di kepala

Tayang:
Editor: bakri

OLEH SATIA PRIHATNI ZEN, MA, Guru Sekolah Sukma Bangsa, melaporkan dari Kota Tampere, Finlandia

BAGAIMANA Finlandia mempersiapkan guru-guru mereka, merupakan pertanyaan yang menggantung di kepala saya ketika menginjakkan kaki di Kota Tampere, Finlandia. Atas undangan dari Tampere University, delegasi dari Sekolah Sukma Bangsa diajak melihat bagaimana calon guru dipersiapkan di School of Education, Tampere University dan Tampereen Teacher Training School (TTTS).

Pada pagi yang dingin, Senin lalu, kami diajak melihat proses belajar- mengajar (PBM) di TTTS yang terdiri atas primary dan secondary school. Kami juga berdiskusi dengan kepala sekolah, administrator, dan para guru serta melakukan observasi kelas di SD dan SMP setempat.

Finlandia yang merupakan negara kecil di Eropa menjadi sorotan dunia ketika menduduki peringkat teratas dari ujian TIMSS dan PISA yang diadakan OECD tahun 2001. Sejak itu, Finlandia selalu menduduki peringkat atas dari ujian yang diadakan setiap tiga tahun sekali tersebut. Ini mengundang kekaguman dan rasa ingin tahu dunia. Menurut Prof Eroo Roppo dalam diskusi kami di Tampere University, terdapat tiga institusi pilar dari pendidikan calon guru di Finlandia. Yaitu, teacher training school, universitas, dan sekolah. Teacher training school sebagai sebuah lembaga yang menjadi bagian dari universitas di Finlandia merupakan training ground bagai calon-calon guru sebelum mereka lulus dan menjadi guru di sekolah.

Terdapat sebelas teacher training school di seluruh Finlandia dan tersebar di berbagai daerah. Sekolah ini otonom dan mengelola anggaran dari universitas, namun memiliki kewenangan terpisah.

TTTS memiliki 900 siswa dan 80 orang guru. Guru di SD jumlahnya 30 orang, sedangkan di secondary school 50 orang.

Sebagai mitra universitas, TTTS menerima mahasiswa calon guru dari Tampere Universty sepanjang tahun. Selain mengajar, guru di sekolah tersebut terlibat juga membina calon guru dan pelatihan bagi guru-guru di Kota Tampere. Guru di TTTS bertanggung jawab terhadap pembelajaran dan tutorial yang diberikan kepada siswa. Mereka juga melakukan banyak kolaborasi dengan guru bidang studi.

Guru di Tampereen juga melakukan riset yang berkolaborasi dengan dosen dari Tampere University. Gaji guru di sekolah ini pun lebih tinggi dibanding gaji guru pada umumnya.

TTTS mendapat anggaran dari Tampere University, namun mereka memiliki otonomi dan kemandirian dalam memutuskan kebijakan sekolah. Anggaran digunakan bayar gaji guru, sewa tempat, makanan untuk siswa dan guru, serta perlengkapan sekolah. Anggaran tersebut juga memungkinkan siswa bersekolah secara gratis di sekolah tersebut. Mahasiswa calon guru diseleksi ketat di Finlandia. Hanya 5-8% dari pelamar akan diterima di jurusan bergengsi tersebut. Calon mahasiswa yang berjumlah 2.000-an orang akan diseleksi melalui seleksi berkas yang terdiri atas laporan hasil ujian kelulusan SMA serta ujian di tingkat universitas. Setelah itu sekitar 300-an pelamar yang dinyatakan lulus tahap pertama harus menempuh interview individu dan kelompok. Bagi guru-guru seni, mereka ada ujian tambahan berupa visual arts.

Dari hasil seleksi berikutnya akan terjaring sekitar 150-an mahasiswa yang akan menempuh pendidikan S1 dan dilanjutkan dengan pendidikan jenjang master/S2 bagi calon guru primary dan secondary. Semua guru yang mengajar di jenjang SD, SMP, dan SMA harus bergelar S2. Untuk guru jenjang secondary school biasanya memilih minimal 1 jurusan minor tambahan di luar jurusan utama mereka.

Mahasiswa calon guru akan magang selama beberapa periode dalam masa belajar mereka. Ketika menempuh jenjang S1, mereka menempuh tiga periode magang di TTTS. Sedangkan ketika menempuh jenjang S2, mereka menempuh lagi satu kali periode magang yang intensif. Magang di sekolah merupakan bagian yang penting dari persiapan mahasiswa calon guru di Finlandia. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara berpasangan dan mahasiswa calon guru akan masuk ke kelas yang sama selama periode magang. Magang dipantau oleh guru pamong di sekolah dan dosen dari universitas.

Hari itu kami sempat mengunjungi kelas yang sedang diajar mahasiswa calon guru, yaitu kelas 4. Dua mahasiswa yang ada di kelas itu menyambut kami dengan ramah dan siswa melihat kami dengan rasa ingin tahu. Suasana kelas tenang dan calon guru tampak percaya diri meskipun pengamat di kelas cukup banyak. Sebagai pengamat, kami diperkenankan berjalan dan melihat-lihat sejauh tidak mengganggu.

Sepintas lalu, tidak banyak yang berbeda dengan kelas di Indonesia pada umumnya, namun suasana tenang dan hangat sangat terasa. Metode yang digunakan di sini adalah menggiring siswa untuk “menemukan” sendiri makna dan definisi dari materi hari itu. Hal ini dilakukan melalui kegiatan individu seperti menuliskan pendapat siswa dalam buku kecil yang disebut “I think notebook” maupun kelompok. Dari kegiatan kunjungan kami, saya merasa apa yang kami lihat di sekolah hari itu hanyalah sekelumit dari kegiatan harian sekolah sekaligus potret dari rangkaian kebijakan yang mendukung suasana kondusif bagi guru dan siswa untuk belajar. Rangkaian tersebut mensyaratkan komitmen belajar yang tinggi, kepercayaan, penghargaan dan rasa tanggung jawab dari semua pemangku kebijakan dan pelaksana lapangan.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved