Kamis, 23 April 2026

Jalan Angkup-Rusip Rusak

Ruas jalan sepanjang 10 dari Pasar Angkup, Kecamatan Silir Nara sampai Kampung Tanjung, Kemukiman

Editor: bakri

* Nasaruddin Jalan Kaki ke Darul Amal

TAKENGON - Ruas jalan sepanjang 10 dari Pasar Angkup, Kecamatan Silir Nara sampai Kampung Tanjung, Kemukiman Pameu, Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah rusak parah. Kerusakan jalan juga terjadi di Kampung Uring, Kecamatan Pegasing, sehingga Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin harus berjalan kaki menuju Pesantren Darul Amal.

Kerusakan jalan diperparah dengan sejumlah jembatan yang mulai dimakan usia, sehingga sulit dilalui kendaraan. Salah seorang tokoh masyarakat Pameu, Bukhari, Sabtu (9/1) mengatakan ruas jalan sepanjang 10 kilometer lebih antara Kampung Kuala Rawa dengan Kampung Tanjung, Kemukimanan Pameu rusak.

Dia menjelaskan warga Pameu menggunakan jalan ini sebagai akses memasok kebutuhan pokok dari Pasar Angkup dan mengangkut komoditi pertanian dari pasar Silih Nara dan Takengon. Dikatakan, jalan bertaburan lubang dan warga Kampung Tanjung dan Kuala Rawa beramai-ramai mendatangi DPRK Aceh untuk melaporkan kondisi jalan.

Dia menyatakan dewan berjanji akan menindaklanjuti pengaduan warga hingga sepekan ke depan. “Warga sudah berulangkali melaporkan ke Pemkab dan DPRK Aceh Tengah, tetapi hanya sebatas janji dan belum diperbaiki secara tuntas,” ujar Bukhari.

Dia mengungkapkan pada Jumat (8/1) malam, warga Kampung Tanjung dan Kuala Rawa melakukan rapat dan sepakat kembali melaporkan ke DPRK Aceh Tengah guna menuntut janji dari dewan. Disebutkan, warga juga akan menggunakan alat berat yang masih mangkal di Alue Sane, masih ruas jalan Takengon-Pameu.

Dia mengakui, tindakan itu diambil karena tidak digunakan untuk memperbaiki jalan Takengon-Pameu, tetapi mengerjakan proyek pribadi, padahal milik pemerintah. Bukhari, yang juga mantan Keuchik Kampung Tanjung, Kemukiman Pameu menyatakan kerusakan ruas jalan Takengon-Pameu berdampak bagi kehidupan masyarakat.

Dia mencontohkan seperti bensin Rp 10.000/liter dan harga kebutuhan pokok juga ikut naik seperti minyak goreng Rp 14.000/kg dan gula pasir Rp 15.000/kg. Sedangkan ongkos angkut coklat dan pinang ke Takengon tinggi, sehingga keuntungan petani menjadi kecil. “Saya berharap, ruas jalan Takengon-Pameu, terutama antara Kuala Rawa dengan Tanjung segera diperbaiki,” pinta Bukhari.

Dikatakan, warga Kemukiman Pameu yang tersebar di tujuh kampung, sebagian besar petani pinang, coklat, jernang, padi dan durian. Pameu terdiri dari kampung PayaTampu, Tanjung, Kuala Rawa, Meurandeh Paya, Laut Jaya dan Camp Laot.

Sementara, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin langsung merasakan sendiri kerusakan jalan saat akan mengunjungi Pesantren Darul Amal di Kampung Uring, Kecamatan Pegasing pada Sabtu (9/1). Dia harus berjalan kaki sekitar 200 meter menuju pesantran, karena jalan berlumpur dan berlubang.

“Pesantren Darul Amal telah ditetapkan sebagai binaan Pemkab Aceh Tengah, sehingga harus ada penataan lebih baik, termasuk jalan menuju pesantren,” kata Nasaruddin. Dia mengaku kondisi jalan tidak seperti perkiraannya, karena berada di pinggiran kota.

“Bila ada kesempatan sekali lagi ke pesantren ini, maka jalan sudah lebih baik,” ujar Nasaruddin yang disambut gembira para santri dan guru. Tampak turut mendampingi bupati, Ketua MPU Tgk Isa Umar, Kadis Cipta Karya Erwin, Kadis Bina Marga Khairuddin Yoes, Kepala Bappeda Yahya Kobat, Kadis Syariat Islam Alam Suhada dan Kepala Kantor Kemenag Aceh Tengah, Amrun Shaleh.

Sedangkan pimpinan Pesantren Darul Amal, Anas Nurdin, Senin (11/1) persoalan jalan menjadi penghambat, tetapi para santri tetap bersemangat belajar. Disebutkan, sejumlah santri berhasil mencetak prestasi, bahkan sampai tingkat nasional.

Anas mengungkapkan Pesantren Darul Amal didirikan pada 2004 dengan sistim belajar tradisional. Tetapi, sebutnya, 10 tahun kemudian atau 2014, sudah mendapat legalitas untuk menerima siswa setingkat madrasah.

Dia menjelaskan jumlah santri sebanyak 150 orang, 63 diantaranya menginap. Anas menyatakan pesantren yang dipimpinnya masih banyak kekurangan, tetapi yang paling penting, perbaikan jalan yang rusak ke pesantren.

Anggota DPRA, Bardan Sahidi, kemarin mengatakan, ruas jalan Takengon-Pameu termasuk jalan nasional di bawah tanggungjawab Balai Besar Jalan dan Jembatan Sumatera Utara dan Aceh yang berkantor pusat di Medan.

Dia meminta pihak Kementerian PU itu segera memperbaiki ruas jalan Takengon-Pameu sepanjang 77 kilometer. Dia menilai, letaknya di pelosok Aceh Tengah, sehingga ruas jalan ini tidak menjadi prioritas dan setiap tahun menjadi masalah bagi warga Pameu.

Disebutkan, saat musim hujan, ruas jalan ini becek dan longsor, sehingga warga Pameu berjalan kaki menuju Pasar Angkup sejauh 60 km. Bardan Sahidi menyarankan agar Balai Besar Jalan dan Jembatan itu berada di Aceh, sehingga lebih dekat ke lokasi .

“Saya akan bawa sejumlah keuchik di Pameu untuk menjumpai kepala balai besar jalan dan jembatan di Medan, bila diperlukan,” ujar BardanSahidi.(min/muh/rel)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved