Citizen Reporter

Masjid Tertua Warisan Beijing

HARI sudah beranjak sore dan langit mulai kemerah-merahan pertanda magrib akan segera tiba

Masjid Tertua Warisan Beijing

OLEH KAHLIL MUCHTAR, Mahasiswa Program Doktoral di National Sun Yat-sen University, Kaohsiung, melaporkan dari Taiwan

HARI sudah beranjak sore dan langit mulai kemerah-merahan pertanda magrib akan segera tiba. Rabu itu saya masih berada di pesawat Boeing 747-800 yang mengantarkan saya ke ibu kota negara Cina, Beijing.

Perjalanan kali ini guna menghadiri rapat akhir tahun, bekerja sama dengan sebuah perusahaan teknologi informasi yang berbasis di Amerika Serikat. Berbeda dengan kondisi Taiwan yang lebih hangat, suhu di Beijing sangatlah dingin, berkisar -3 (minus tiga) hingga -10 (minus sepuluh) derajat Celcius.

Pada suhu yang demikian, terlihat sungai mulai membeku, pohon menjadi kering, dan angin terasa sangat menusuk. Namun, ini tidak mengurungkan niat saya untuk mengunjungi dua masjid sarat sejarah di Beijing, yakni Masjid Niujie dan Huashi.

Masjid Niujie didirikan tahun 996 Masehi pada masa Dinasti Liao oleh seorang ulama Arab bernama Nasuruddin. Pada tahun 1215, masjid ini sempat dihancurkan oleh pasukan Genghis Khan, tapi didirikan kembali (bahkan lebih luas) pada tahun 1442.

Seperti masjid-masjid bersejarah lainnya, sangat terlihat perpaduan arsitektur Arab dan Cina pada masjid ini.

Yang menarik, di dalam kompleks masjid ini berdiri beberapa bangunan terpisah, di antaranya ruang utama shalat (laki-laki), ruang shalat perempuan, tempat wudhu dan sebuah minaret untuk mengumandangkan azan.

Walaupun bangunan terlihat sangat tua dan sudah beratus tahun usianya, tapi masjid ini terlihat sangat indah dan sarat inspirasi. Apalagi jika kita mengaitkan dengan dakwah Islam yang menyebar ke benua-benua lain di awal-awal kekhalifahan.

Tidak hanya masjid, di sekitarnya terdapat banyak makanan halal, supermarket muslim, dan beberapa sentra penjualan daging halal. Dari Masjid Niujie ini kita bisa mendapatkan pelajaran berharga bahwa masjid adalah pusat peradaban dan ilmu. Ia juga warisan budaya yang harus senantiasa dijaga dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya.

Semua ini menjadi pelajaran bagi kita, bagaimana semestinya memelihara dan menghidupkan situs-situs Islam sebagai warisan masa lalu, mengingat Aceh pun memiliki banyak warisan budaya yang tidak kalah monumentalnya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved