Breaking News:

Siswa Antardesa Bertikai

Kasus pertikaian yang melibatkan siswa antardesa di SMA Negeri 1 Suro, Aceh Singkil semakin memprihatinkan

Editor: bakri

* Dua Siswa SMAN 1 Suro Terluka

* Aktivitas Belajar Diliburkan

SINGKIL - Kasus pertikaian yang melibatkan siswa antardesa di SMA Negeri 1 Suro, Aceh Singkil semakin memprihatinkan. Pascaterjadinya aksi saling serang, Kamis (21/1) lalu, aktivitas belajar mengajar siswa di sekolah itu dihentikan. Pantauan Serambi kemarin SMA Negeri 1 Suro terlihat sepi. Semua kelas kosong, tidak seorang guru maupun siswa hadir.

Guru memilih meliburkan siswa untuk mencegah hal tidak diinginkan. Sebab, aksi tawuran masih terjadi antarsiswa SMA Negeri 1 Suro dari desa berbeda hingga menyebabkan dua siswa terluka. “Untuk mencegah hal yang membahayakan sementara sekolah diliburkan sambil mencari solusi,” kata Wakil Kepala SMA Negeri 1 Suro Bidang Kesiswaan, Samsuardi kepada wartawan kemarin.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Aceh Singkil, Yusfit Helmi mengatakan pihaknya sudah menurunkan tim untuk menginvestigasi persoalan di SMA Suro. Menurutnya tawuran sudah melibatkan siswa antardesa yang bersekolah di SMA Negeri 1 Suro. Ia mengatakan dalam pekan ini akan melakukan pertemuan dengan berbagai pihak untuk mencari solusi. “Kebijakan meliburkan sekolah bukan dari dinas. Kami segera mencari solusi dalam waktu dekat melakukan pertemuan dengan Muspika Suro, imam mukim dan tokoh masyarakat,” kata Yusfit.

Ditemui Serambi secara terpisah, pemilik kantin di SMA Suro, Abas mengatakan tawuran terjadi sebelum masuk jam pelajaran. Ia bersama Wakil Kepala SMA Negeri 1 Suro Bidang Kesiswaan, Samsuardi, sempat mencoba melerai, namun tidak berhasil. Malah Samsuardi justru terkena pukulan siswa.

“Saya dan seorang guru sudah coba menghalangi tapi tidak berhasil, karena anak-anak ramai sampai 300 orang,” ujarnya. Apalagi salah satu kelompok siswa yang tawuran sepertinya sudah mempersiapkan diri. Terbukti ketika tawuran terjadi, mereka sudah memperlengkapi dirinya dengan senjata kayu dan besi.

Imam Mukim Suro, Ramlia alias Ucok, mengatakan tawuran antarsiswa sudah terjadi empat kali. Pada Desember 2015 terjadi tiga kali tawuran. Bahkan orang tua siswa asal Buluhseuma sempat beramai-ramai datang membawa senjata tajam ke sekolah. “Kejadian itu sudah didamaikan, tapi kembali terulang,” kata Ucok.

Tawuran terbaru terjadi pada Kamis (21/1) lalu, namun berhasil direlai. Sayangnya pada Sabtu (24/1) tawuran dengan melibatkan ratusan siswa kembali terjadi. Dalam tawuran yang berbuntut sekolah diliburkan mengakibatkan dua siswa luka-luka terkena kayu serta besi dan batu. Ucok mendesak Dinas Pendidikan segera mencari solusi.

Salah satunya tidak menyatukan sekolah siswa yang berasal dari Desa Buluseuma, Pangkalan Sulampi, Lae Bangung, Suro Baru, dan Tran Lae Cikalabuka, dengan siswa yang berasal dari Siompin, Ketangkuhan, Seikeras, Sirimo Mungkur, Mandumpang, Alur Linci, Bulu Ara dan Lae Gambir. “Sebab siswa dari desa itulah yang membuat kelompok untuk tawuran,” ujarnya.(de)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved