Sempat Berlayar, Kapal Kembali Terhenti
Transportasi laut dari Banda Aceh-Sabang dan sebaliknya, hingga Sabtu (27/2) masih belum normal. Kemarin, tiga kapal
SABANG - Transportasi laut dari Banda Aceh-Sabang dan sebaliknya, hingga Sabtu (27/2) masih belum normal. Kemarin, tiga kapal penyeberangan yang melayari jalur ini, hanya sempat berlayar pada pagi hari. Sementara pelayaran siang dan sore dihentikan karena cuaca kembali memburuk.
Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Balohan, Sabang, Abdurrani, kepada Serambi Sabtu (27/2) siang mengatakan, dua kapal lambat yaitu KMP BRR dan KMP Tanjung Burang, serta kapal cepat KM Express Cantika, pagi kemarin sempat berlayar mengangkut penumpang dan kendaraan.
KMP BRR berangkat dari Sabang menuju Ulee Lheu, Banda Aceh, pukul 08.00 WIB dan KMP Tanjung Burang berangkat pukul 09.30 WIB. Sementara kapal cepat KM Express Cantika 89 berangkat dari Ulee Lheu, Banda Aceh sekitar pukul 09.00 WIB.
Cuaca pada pagi kemarin sempat membaik sehingga dua kapal lambat dan satu kapal cepat itu dapat berlayar. Ratusan calon penumpang yang tertahan di Pelabuhan Balohan sejak Kamis (25/2) sore, sudah habis terangkut oleh dua kapal lambat, yakni KMP BRR dan KMP Tanjung Burang.
“Semua calon penumpang yang tertahan karena kapal tidak berlayar akibat cuaca buruk sudah habis terangkut, termasuk seratusan sepeda motor dan puluhan mobil pribadi juga sudah diseberangkan,” kata Abdurrani.
Namun pada Sabtu (27/2) sore kemarin kembali terjadi penumpukan penumpang dan mobil. Seratusan calon penumpang dan puluhan kenderaan itu tidak bisa menyeberang, karena kapal lambat dan kapal cepat kembali menghentikan pelayaran.
Kapal cepat KM Express Cantika 89 yang tiba di Sabang pukul 10.00 WIB, dan KMP BRR yang kembali ke Sabang pukul 13.15 WIB tidak bisa kembali melayani penumpang. Begitu juga halnya KMP Tanjung Burang yang berangkat dari Sabang ke Banda Aceh, pukul 09.30 WIB langsung bersandar di Pelabuhan Ulee Lheu.
Gelombang laut yang sempat normal pada pagi hari, kembali meninggi pada siang, hingga mencapai 2,5 meter dan kecepatan angin 40 meter perjam. “Keputusan tidak berlayar ini merupakan kesepakatan syahbandar dengan operator kapal yang lebih mengutamakan keselamatan kapal dan penumpang,” ujar Abdurrani.
Sementara itu, Samsuar (52) nelayan asal Gampong Kuta Timu, Kecamatan Suka Karya, Sabang, yang dilaporkan hilang jatuh ke laut setelah boat teptep yang digunakannya diterjang badai saat memancing ikan di sekitar kawasan perairan Sabang Fair, Kamis (25/2) subuh lalu, hingga Sabtu (27/2) kemarin belum juga ditemukan.
Keuchik Gampong Kuta Timu, Muhammad yang dihubungi Serambi siang kemarin, mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak keluarga dan nelayan sempat dalam pencarian Samsuar.“Pencarian korban akan dilakukan hingga hari ke tujuh,”katanya.
Tidak hanya fokus di sekitar kawasan perairan Sabang Fair, tempat kecelakaan, dan periaran Ujung Ba’u serta Pulo Rondo, tempat ditemukannya boat yang digunakan korban hanyut. Tapi, pencarian telah dilakukan di sekitar laut Sabang.
“Kita juga sudah sampaikan musibah ini ke BPBD Sabang, dan SAR Aceh, tapi karena cuaca tidak mendukung mereka belum bisa melakukan pencarian,” katanya.(az)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kapal-lambat-kmp-tanjung-burang-dan-kmp-brr_20160227_090132.jpg)